Keluhan Petani di Kecamatan Samarang Akibat Serangan Hama Tikus
Petani di wilayah Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, mengeluhkan serangan hama tikus yang semakin parah dan menyebabkan kerugian besar. Serangan tersebut telah mengurangi hasil panen padi secara drastis, bahkan mencapai 50% dari produksi normal.
Salah seorang petani di Kampung Lengkong Kaler, Kecamatan Samarang, Asep Suyud (79), menjelaskan bahwa serangan hama tikus telah menyebar ke seluruh areal persawahan di kampungnya yang memiliki luas sekitar 10 hektare. Hingga saat ini, seluruh lahan tersebut terdampak oleh serangan hama tersebut. Menurut Asep, pada kondisi normal, lahan seluas 1 hektare mampu menghasilkan sekitar 10 ton gabah. Namun, akibat serangan hama tikus, hasil panen kini hanya berkisar 5 ton per hektare.
Ia menuturkan, para petani telah berupaya mengendalikan hama dengan berbagai cara, termasuk menggunakan obat pembasmi tikus. Namun, upaya tersebut belum memberikan hasil yang maksimal karena serangan terus berulang. Menurut dia, pengendalian yang dilakukan secara sendiri-sendiri tidak efektif. Pemberantasan hama seharusnya dilakukan secara serentak dalam satu kawasan agar tikus tidak hanya berpindah ke lahan milik petani lainnya.
”Kami berharap ada upaya dari dinas untuk menggalakkan pemberantasan hama tikus secara serentak. Kalau hanya sebagian petani yang melakukan, sama saja hanya memindahkan serangan tikus ke sawah lain,” ujarnya, Minggu 19 Juli 2026. Ia menyebutkan, Kecamatan Samarang dikenal sebagai salah satu daerah produktif penghasil padi di Kabupaten Garut. Oleh karena itu, jika kondisi serangan hama terus berlanjut, petani dipastikan akan mengalami kerugian semakin besar.
Dampak Serangan Hama Tikus pada Produksi Padi
Serangan hama tikus yang terjadi di Kecamatan Samarang tidak hanya merugikan petani secara individu, tetapi juga berdampak pada produksi padi secara keseluruhan. Karena area persawahan yang terkena serangan sangat luas, maka penurunan hasil panen bisa berdampak pada pasokan beras di tingkat lokal maupun nasional.
Beberapa faktor penyebab serangan hama tikus yang semakin parah antara lain adalah perubahan iklim, kurangnya pengelolaan lingkungan pertanian, serta kurangnya koordinasi antara petani dan instansi terkait. Selain itu, penggunaan obat pembasmi tikus secara mandiri sering kali tidak cukup efektif, karena tikus bisa cepat beradaptasi dan melawan bahan kimia yang digunakan.
Upaya yang Dilakukan Petani
Meskipun demikian, para petani di Kecamatan Samarang terus berupaya untuk mengendalikan hama tikus. Mereka telah mencoba berbagai metode seperti pemasangan jebakan, penggunaan bahan alami, dan penerapan teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Namun, semua upaya tersebut masih belum mampu mengatasi masalah secara tuntas.
Menurut Asep, pemberantasan hama tikus harus dilakukan secara kolektif dan terkoordinasi. Jika hanya sebagian petani yang melakukan pencegahan, maka hama tikus akan terus berpindah ke lahan-lahan yang belum terlindungi. Hal ini membuat kerugian terus berlanjut dan sulit untuk diatasi.
Harapan Petani kepada Pemerintah Daerah
Asep dan para petani lainnya berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah serangan hama tikus. Beberapa rekomendasi yang mereka ajukan antara lain:
- Pemerintah daerah perlu mengadakan sosialisasi dan pelatihan tentang pengendalian hama tikus secara efektif.
- Mengadakan program pemberantasan hama tikus secara serentak di seluruh wilayah Kecamatan Samarang.
- Memberikan bantuan berupa alat dan bahan pengendalian hama tikus kepada para petani.
- Memperkuat sistem pemantauan hama tikus di tingkat desa dan kecamatan.
Dengan adanya dukungan dari pihak pemerintah, diharapkan para petani dapat lebih mudah menghadapi ancaman hama tikus dan menjaga produksi padi yang stabil.












