KUPANG — Angka pengungsi akibat gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 5.000 jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban jiwa mencapai 47 orang. Data terbaru yang diperbarui pada Ahad (16/8/2026) pagi menunjukkan bahwa Kabupaten Sikka menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa sebanyak 3.356 warga di Kabupaten Sikka terpaksa mengungsi. Mereka terkonsentrasi di GOR Samador dengan jumlah 1.356 jiwa. Sementara itu, sekitar 2.000 jiwa lainnya memilih mengungsi mandiri di 10 titik berbeda. Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa.
Selain itu, ratusan pengungsi juga berada di Kabupaten Nagekeo dengan jumlah sebanyak 500 jiwa. Berton menyampaikan informasi ini melalui siaran pers BNPB yang diterima di Jakarta, Ahad (16/8/2026) pagi.
Gempa bumi yang terjadi juga dirasakan di beberapa daerah lain seperti Buma dan Kepulauan Selayar, sehingga banyak warga memilih untuk mengungsi. Gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR tersebut menewaskan 47 orang. Dari jumlah tersebut, kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak yaitu 23 orang. Di Kabupaten Manggarai Timur, jumlah korban jiwa mencapai 17 orang. Sementara di Kabupaten Sikka, empat warga meninggal dunia, dan satu korban jiwa di Kabupaten Manggarai Barat. Di Ende dan Nagekeo masing-masing tercatat satu korban jiwa.
Selain korban jiwa, gempa bumi juga menyebabkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur. BNPB mencatat sebanyak 941 unit rumah warga mengalami kerusakan berat, 126 rusak ringan, dan 317 rusak sedang. Fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintahan juga mengalami kerusakan parah. Secara detail, terdapat 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan yang rusak.
Saat ini, Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status darurat bencana selama 14 hari. Sampai saat ini, para warga terdampak gempa masih membutuhkan bantuan selama berada di pengungsian. Di Kabupaten Manggarai, masyarakat setempat masih kesulitan mendapatkan tenda darurat sementara. Selain itu, kebutuhan akan bantuan pangan, obat-obatan, selimut, velbed, air bersih, dan genset juga sangat mendesak.
Gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Titik guncangan berada di kedalaman 15 Kilometer (Km) sekitar 38 Km di sisi timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangan dirasakan sekitar satu menit di wilayah tersebut dan juga di Kabupaten Sikka, Manggarai Barat, serta Kota Bima.
Gempa juga dirasakan di beberapa wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Maros, dan Kepulauan Selayar. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan setelah gempa terjadi. Namun, peringatan tersebut dicabut pada pukul 07:31 waktu setempat.












