Siswa SDN Mangkura 3 Mogok Sekolah, Orang Tua Menolak Rencana Belajar 6 Hari


Penolakan Orang Tua terhadap Kebijakan Sekolah Enam Hari di SDN Mangkura 3 Makassar

Kebijakan penerapan pembelajaran selama enam hari di UPT SPF SDN Mangkura 3 Makassar, Kota Makassar, mendapat penolakan dari sebagian besar orang tua siswa. Keputusan tersebut dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat sekitar.

SDN Mangkura 3 berada di kawasan Komplek SD Mangkura, Jl Bontolempangan, Kelurahan Sawerigading, Kecamatan Ujung Pandang. Aksi mogok sekolah pun disampaikan oleh orang tua jika kebijakan belajar Senin hingga Sabtu tetap diterapkan.

Hasil Survei yang Menggambarkan Aspirasi Orang Tua

Ketua Komite UPT SPF SDN Mangkura 3, Winanda Rahmayanti, menjelaskan bahwa survei dilakukan untuk mengumpulkan aspirasi orang tua atau wali murid di kompleks tersebut. Dari 550 responden, sebanyak 542 orang (sekitar 99 persen) memilih sistem lima hari, Senin hingga Jumat.

Sementara itu, hanya lima responden (sekitar satu persen) yang memilih sistem enam hari, Senin hingga Sabtu. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pendapat orang tua yang mendukung sistem lima hari dan mereka yang menginginkan sistem enam hari.

Fungsi Hari Sabtu dalam Kehidupan Anak

Winanda menyebutkan bahwa hari Sabtu memiliki peran penting bagi aktivitas anak di luar sekolah. Beberapa kegiatan seperti pengembangan minat dan bakat, kegiatan keagamaan, olahraga, bimbingan belajar, dan lainnya biasanya dilakukan pada hari tersebut.

Dari 550 responden, sebanyak 416 orang menilai hari Sabtu penting atau sangat penting untuk berbagai kegiatan pengembangan diri siswa. Selain itu, orang tua juga mempertimbangkan waktu bersama keluarga yang lebih banyak tersedia pada akhir pekan.

Kekhawatiran Terkait Ketidakhadiran Siswa

Sebanyak 494 responden (sekitar 90 persen) memperkirakan anak akan lebih sering meminta izin karena jadwal sekolah berbenturan dengan kegiatan keluarga maupun aktivitas lain. Sementara itu, 493 responden (sekitar 90 persen) secara tegas menyatakan tidak mendukung penerapan sistem belajar enam hari.

Orang tua juga khawatir tambahan satu hari sekolah dapat membuat siswa lebih mudah lelah. Winanda menyebutkan bahwa mereka khawatir keseimbangan antara pembelajaran akademik dan pengembangan diri anak akan berkurang.

Permintaan Komite Sekolah

Atas hasil survei tersebut, Komite Sekolah meminta rencana penerapan sekolah enam hari ditinjau kembali. Mereka berharap Dinas Pendidikan Kota Makassar memberi ruang bagi sekolah, komite, dan orang tua untuk terlibat dalam pembahasan kebijakan yang berdampak langsung kepada siswa.

“Harapan kami, sistem lima hari tetap dipertahankan dan aspirasi orang tua menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan,” ujar Winanda.

Alternatif yang Ditawarkan Orang Tua

Orang tua siswa menawarkan alternatif. Mereka menyatakan bersedia jika jam belajar pada Senin hingga Jumat ditambah, sepanjang kegiatan belajar tetap berlangsung selama lima hari. “Kalau memang persoalannya terkait pemenuhan jam belajar, kami dari orang tua sebenarnya bersedia kalau jam belajar ditambah. Yang penting tidak harus sampai hari Sabtu,” kata Winanda.

Selama ini, siswa berada di sekolah hingga pukul 17.00 WITA. Orang tua menawarkan opsi pembelajaran hingga 17.30 agar kebijakan lima hari sekolah tetap dipertahankan. Menurutnya, opsi tersebut dinilai lebih dapat mengakomodasi kebutuhan pembelajaran sekaligus menjaga waktu siswa pada akhir pekan.

Penjelasan dari Kepala Sekolah

Kepala UPT SPF SDN Mangkura 3, Burhanuddin Talib, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan keputusan sepihak, melainkan dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan jam pembelajaran dengan ketentuan yang berlaku. Ia memaparkan bahwa kondisi SDN Mangkura 3 memiliki keterbatasan ruang belajar. Sekolah tersebut memiliki sekitar 12 rombongan belajar, sementara ruang kelas yang tersedia hanya tujuh ruangan.

Kondisi itu membuat sekolah harus menerapkan sistem shift, yakni sebagian siswa belajar pada pagi hari dan sebagian lainnya masuk pada siang hari. Apabila tetap menggunakan sistem lima hari dengan kondisi tersebut, pemenuhan jam pembelajaran dinilai sulit dilakukan.

Terlebih, siswa kelas 5 dan 6 membutuhkan hingga 42 jam pembelajaran per pekan, termasuk kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Pihak sekolah juga telah melakukan sosialisasi kepada guru dan orang tua terkait perubahan tersebut. Aspirasi orang tua mengenai kegiatan mengaji, les, ekstrakurikuler, hingga pengembangan minat dan bakat siswa turut menjadi perhatian sekolah.

“Kami sudah melakukan kalkulasi jam belajar bersama guru-guru. Kalau tetap dipaksakan lima hari dengan kondisi sekolah menggunakan shift, memang sulit memenuhi jam pembelajaran yang menjadi hak anak,” jelas Burhanuddin.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *