Pentingnya Penguatan Karakter dan Pencegahan Perundungan di Sekolah
Perundungan atau bullying dapat menyebabkan trauma yang berkepanjangan pada korban. Oleh karena itu, diperlukan pencegahan bersama terutama di lingkungan satuan pendidikan. Menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif adalah kunci untuk memastikan semua siswa merasa nyaman dalam belajar. Dalam hal ini, peran Satuan Pendidikan, Komite Sekolah, Orang Tua, dan Siswa sangat penting.
Pada acara seminar tentang Penguatan Karakter & Pencegahan Bullying di Sekolah yang diselenggarakan di Gedung Dinas Pendidikan Jakarta, Kepala Dinas Pendidikan Jakarta Selatan, Wilayah I & PLT Wilayah II Drs. Sarwoko menyampaikan apresiasinya kepada Lembaga Komite Sekolah Nasional (LKSN) DPC Jakarta Selatan atas kepeduliannya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut. Ia berharap langkah serupa bisa segera diikuti oleh wilayah-wilayah lainnya.
Kolaborasi LKSN dan Sudin Jakarta Selatan
Sudin Jakarta Selatan telah bekerja sama dengan LKSN Jakarta Selatan dalam berbagai kegiatan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Sosialisasi Peran Komite Sekolah & Sosialisasi TKA, lokasi di SMAN 82
- Hari Anak Nasional, lokasi SDN Kebayoran Lama Utara 3
- Peringatan Hari Anak Nasional di Tebet Ecopark, Taman Ayodia, dan Taman Langsat
- Lomba Ruang Kerja Bersih
- Lomba Toilet Kinclong SMA & SMP di Jakarta Selatan
- Audiensi dengan Walikota Jakarta Selatan
- Motivasi & Coaching TKA & UTBK, lokasi di SMAN 32 Jakarta
- Seminar Penguatan Karakter dan Tindakan Pencegahan Bullying di Sekolah
Selain itu, dalam acara pembukaan seminar juga ditampilkan pertunjukan seni dari tarian Betawi Nyi Demplon oleh siswa-siswi SMP Muhammadiyah 9 Jakarta. Penampilan ini cukup menghibur para peserta yang sebagian besar merupakan kepala sekolah dan perwakilan komite sekolah.
Tanggung Jawab Bersama dalam Melindungi Anak
Ketua Lembaga Komite Sekolah Nasional (LKSN), DPC Jakarta Selatan Liya Kusdaliyah, SE menekankan bahwa anak adalah aset tak ternilai yang harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan. Oleh karena itu, LKSN Jaksel berkolaborasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan dalam menyelenggarakan seminar ini.
Tujuan utamanya adalah memberikan pemahaman tentang pencegahan bullying melalui pendidikan penguatan karakter. Acara ini juga bertujuan untuk memberikan wawasan tentang dampak psikologis dari bullying baik terhadap pelaku maupun korban, serta regulasi dari pemerintah melalui dinas kepolisian.
Narasumber Terkemuka Hadir dalam Seminar
Dalam seminar ini, hadir tiga narasumber terkemuka yaitu:
- Ibu Shara Zakia Nisa S.Psi dari PUSPEKA
- Ibu Gloria Siagian S.Psi Psikologi, Direktur Jejak Kaki Pasikolog
- AKP Citra Ayu Civilia dari Polres
Mereka membahas berbagai aspek penting dalam pencegahan dan penanganan bullying, termasuk peran penting pemerintah, sekolah, orang tua, dan keluarga dalam menjawab tantangan kekerasan terhadap anak.
Budaya Aman dan Nyaman di Sekolah
Shara Zakia Nissa menekankan pentingnya penguatan karakter melalui budaya aman, nyaman, dan gembira. Menurutnya, budaya seperti ini menjadi ideal untuk tumbuh kembang murid secara optimal. Ia juga menyoroti peran penting catur pusat pendidikan seperti satuan pendidikan, masyarakat, keluarga, dan media dalam upaya pencegahan kekerasan.
Salah satu strategi yang direkomendasikan adalah pembentukan Satuan Tugas pada pemerintah daerah dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) pada satuan pendidikan.
Peran Psikolog dalam Mendampingi Korban dan Pelaku
Psikolog Gloria Siagian menegaskan perlunya pendampingan psikologis bagi korban dan pelaku bullying. Ia memberikan contoh nyata bagaimana seorang anak bisa merasa sakit perut setiap pagi sebelum masuk sekolah karena ketakutan bertemu teman yang selalu mengejek. Ia juga menyampaikan data dari KPAI yang mencatat sekitar 3.800 kasus perundungan sepanjang tahun 2023.
Menurut data dari JPPI, jumlah kasus kekerasan di lingkungan pendidikan meningkat signifikan pada tahun 2024. Selain itu, studi Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa Indonesia berada di antara negara dengan kasus bullying terbanyak di dunia, dengan sekitar 41% pelajar usia 15 tahun menjadi korban perundungan dalam sebulan.
Regulasi dan Penegakan Hukum Terkait Cyberbullying
Narasumber dari unsur kepolisian, AKP Citra Ayu Civilia, S.TK, S.IK, MT, membahas regulasi dan penegakan hukum terkait cyberbullying. Ia menekankan pentingnya kecerdasan literasi digital dalam memahami dampak positif dan negatif era digital serta bagaimana memanfaatkannya secara positif.
AKP Citra Ayu juga menyampaikan data dari UNICEF Indonesia (2021) yang menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak di Indonesia pernah mengalami perundungan online. Perempuan remaja menjadi kelompok paling rentan akibat stereotip gender dan seksualisasi di media sosial.


