Keterlibatan Mesir dalam Program Pesawat Tempur Generasi Kelima KAAN
Mesir sedang mempertimbangkan keterlibatan dalam program pesawat tempur generasi kelima KAAN buatan Turki. Langkah ini muncul di tengah persaingan teknologi militer yang semakin ketat di Afrika Utara. Dengan demikian, Mesir berpotensi memiliki jet tempur siluman pertamanya, sekaligus mempercepat proses pengembangan teknologi militer negara tersebut.
Kerja Sama Pertahanan Mesir dan Turki
Beberapa laporan menyebutkan bahwa hubungan antara Mesir dan Turki telah berkembang secara signifikan. Pada Februari 2026, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengadakan pertemuan tingkat tinggi. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani beberapa nota kesepahaman dalam bidang pertahanan, perdagangan, investasi, kesehatan, pertanian, dan perlindungan sosial. Selain itu, deklarasi bersama juga menekankan kerja sama industri, manufaktur bersama, serta pengembangan kapasitas untuk proyek pasar regional dan internasional.
Selain itu, Angkatan Bersenjata Mesir dan Turki juga melakukan latihan udara bersama pada Juni 2026. Latihan ini melibatkan pesawat tempur multiperan dan bertujuan meningkatkan interoperabilitas serta pengalaman operasional antara kedua negara.
Perusahaan Pertahanan Turki Ekspor Sistem Pertahanan ke Mesir
Perusahaan pertahanan milik negara Turki, Mechanical and Chemical Industry Corporation (MKE), telah mengekspor sistem pertahanan udara jarak pendek TOLGA kepada Mesir. Sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman drone, amunisi pintar, dan sasaran terbang rendah. TOLGA dilengkapi dengan perangkat deteksi, komando, kendali, pengacau elektronik, serta senjata antidrone.
Nilai keseluruhan kerja sama MKE dengan Mesir mencapai 350 juta dolar AS. Sebagian besar dari angka tersebut dialokasikan untuk produksi amunisi di Mesir, termasuk peluru kaliber 155 mm, 7,62 mm, dan 12,7 mm. Produksi amunisi ini tidak hanya ditujukan bagi Angkatan Bersenjata Mesir, tetapi juga untuk pasar Afrika dan Timur Tengah.
Alasan Mesir Membutuhkan KAAN
Angkatan Udara Mesir merupakan salah satu kekuatan udara terbesar di kawasan. Kairo mengoperasikan berbagai jenis pesawat tempur seperti F-16, Rafale, Mirage 2000, dan MiG-29M/M2. Namun, tidak ada pesawat yang termasuk dalam kategori pesawat generasi kelima dengan kemampuan siluman radar.
KAAN menawarkan solusi alternatif bagi Mesir. Program ini tidak hanya memberi akses ke pesawat tempur, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, manufaktur komponen, pelatihan insinyur, integrasi sensor, dan pembangunan ekosistem industri penerbangan militer. Hal ini menjadi penting bagi Mesir dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap pemasok senjata tertentu.
KAAN Masih Dalam Pengembangan
KAAN adalah pesawat tempur bermesin ganda yang dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industries. Pesawat ini dirancang untuk menggantikan F-16 Angkatan Udara Turki. Penerbangan perdana KAAN dilakukan pada 21 Februari 2024, menggunakan mesin General Electric F110. Turki berencana mengganti mesin tersebut dengan produksi dalam negeri pada fase produksi serial, yang direncanakan dimulai pada 2028.
Namun, pengembangan KAAN masih dalam proses dan belum sepenuhnya matang. Keterlibatan Mesir dalam program ini belum bisa langsung memberikan kemampuan siluman bagi Angkatan Udara Mesir. Kairo harus menunggu perkembangan program, memastikan konfigurasi ekspor, dan menyelesaikan masalah perizinan komponen asing.
Indonesia Menjadi Preseden
Indonesia menjadi negara pertama yang diumumkan akan membeli KAAN. Presiden Erdoğan menyatakan bahwa Turki akan mengekspor 48 pesawat KAAN kepada Indonesia. Pesawat-pesawat ini akan dibuat di Turki dengan melibatkan kemampuan industri Indonesia dalam proses produksinya. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa Turki siap menawarkan keterlibatan industri kepada pembeli asing.
Aljazair Mendapatkan Keunggulan Awal
Aljazair telah membeli Su-57 Rusia dan menjalani pelatihan pilot di Rusia. Pada November 2025, Kepala United Aircraft Corporation Rusia menyatakan dua Su-57 telah diserahkan kepada pelanggan asing. Meskipun identitas negara penerima tidak diungkap, Aljazair dipandang sebagai kandidat terkuat penerima pesawat ekspor pertama tersebut. Dengan demikian, Aljazair memiliki keunggulan awal dalam teknologi pesawat generasi kelima di Afrika.
Perlombaan Teknologi Militer di Afrika Utara
Persaingan di Afrika Utara belum mencapai tingkat tiga armada siluman yang sudah operasional. Meski Aljazair memiliki keunggulan awal, keterlibatan Mesir dalam KAAN masih berupa laporan yang belum diikuti kontrak resmi. Sementara itu, pembelian F-35 oleh Maroko belum mendapatkan persetujuan resmi dari Amerika Serikat.
Yang sedang berlangsung adalah perlombaan untuk memperoleh akses terhadap teknologi generasi kelima, kemampuan produksi lokal, transfer teknologi, pelatihan sumber daya manusia, serta jaminan pasokan senjata jangka panjang. Mesir tetap memiliki kekuatan udara besar, tetapi ukuran armada tidak selalu sejalan dengan keunggulan teknologi. Pesawat siluman dalam jumlah terbatas dapat memberikan kemampuan baru untuk menembus pertahanan udara, melaksanakan pengintaian, dan melakukan serangan terhadap sasaran bernilai tinggi.
Keterlibatan dalam KAAN dapat menjadi investasi strategis bagi Mesir. Kairo tidak hanya mengejar kepemilikan pesawat baru, tetapi juga berpeluang mengembangkan kemampuan industri yang dapat digunakan untuk generasi pesawat berikutnya. Namun, jalan menuju jet tempur siluman pertama Mesir masih panjang. Kairo harus memperoleh kesepakatan resmi, menentukan skema pembiayaan, memastikan akses teknologi, mempersiapkan infrastruktur, dan menunggu KAAN mencapai tingkat kematangan operasional.










