Akurasi Tinggi: LFNU Trenggalek Gabungkan Ad Durul Aniq dan Teknologi Digital untuk Kalibrasi Kiblat


Metode Kalibrasi Arah Kiblat yang Menggabungkan Ilmu Falak dan Teknologi Modern

Di Trenggalek, seorang pria menggunakan metode unik untuk menentukan arah kiblat. Metode ini menggabungkan ilmu falak klasik dengan teknologi modern, sehingga menghasilkan akurasi tinggi dalam pengukuran. Metode ini juga memanfaatkan alat bantu seperti busur 360 derajat dan aplikasi Qiblat.apk.

Perpaduan Antara Ilmu Falak dan Teknologi

Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Trenggalek, Ahmad Aly Musyafa’, menjelaskan bahwa proses perhitungan arah kiblat saat ini bisa dilakukan dengan bantuan teknologi mutakhir. Ia mengatakan bahwa posisi Ka’bah dapat diketahui melalui koordinat lintang dan bujur, lalu dibandingkan dengan lokasi pengukuran.

“Posisi Ka’bah berada di lintang utara, sedangkan kita di lintang selatan. Dengan perhitungan astronomis, semua bisa diukur secara presisi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa jika menggunakan cara manual tanpa alat bantu, prosesnya akan sangat lama karena rumus yang kompleks. Namun, dengan bantuan aplikasi digital, proses tersebut bisa dipangkas secara drastis.

Penggunaan Aplikasi Qiblat.apk dan Alat Bantu

Aplikasi yang digunakan adalah Qiblat.apk, yang membantu menghitung posisi bayangan matahari. Selain itu, alat yang digunakan adalah lingkaran 360 derajat dengan logam panjang di tengah sebagai penanda bayangan matahari.

“Dengan adanya aplikasi, perhitungan yang panjang itu hanya dihitung dalam jangka sepersekian detik,” kata Musyafa’.

Setelah mendapatkan angka bayangan matahari pada jam tertentu, empat arah mata angin bisa ditentukan secara pasti: utara, timur, selatan, dan barat. Arah utara yang dihasilkan dari metode ini adalah utara sejati, bukan utara magnetik seperti yang biasa ditunjukkan oleh kompas biasa.

Keunggulan Arah Utara Sejati

Musyafa’ menjelaskan bahwa terdapat selisih deviasi antara utara magnetik dan utara sejati. Untuk Pulau Jawa, selisihnya sekitar 1 derajat. Dengan metode kalibrasi ini, tidak ada deviasi pergeseran utara magnet, sehingga hasilnya jauh lebih akurat.

Setelah titik-titik mata angin utama dikunci, pengukuran arah kiblat yang presisi dilakukan. Sampai saat ini, LFNU Trenggalek telah melakukan kalibrasi arah kiblat di sekitar lima tempat ibadah.

Fokus pada Masjid dan Musala Baru

Musyafa’ menegaskan bahwa pihaknya lebih memfokuskan sasaran pada masjid atau musala yang baru akan dibangun. “Adapun musala atau masjid yang sudah jadi, itu tidak akan kami kalibrasi ataupun tidak akan kami cek. Kami hanya sekadar membetulkan safnya saja, tidak sampai mengubah bentuk bangunan fisik yang sudah ada,” jelasnya.

Beberapa lokasi yang sudah disentuh oleh layanan kalibrasi ini antara lain musala baru di SMK 1 Durenan yang diinisiasi oleh Haji Mukhalis, serta pengukuran pada beberapa musala dan penandaan makam di Desa Sumberejo Kecamatan Durenan.

Waktu dan Cuaca Penting dalam Kalibrasi

Terkait waktu pelaksanaan, Musyafa’ menyebutkan bahwa proses kalibrasi tidak harus bergantung pada hari tertentu, melainkan bisa dilakukan setiap hari. Namun, faktor waktu dan cuaca memegang peranan penting demi menjaga akurasi bayangan.

“Setiap hari pun bisa. Waktu yang bagus itu pagi sekitar jam 09.00 saat bayangan sedang panjang. Kalau sore, ya sekitar jam 15.00 atau jam 16.00,” paparnya.

Ia mewanti-wanti agar menghindari waktu siang hari saat matahari tepat di atas kepala. “Kalau bayangan terlalu pendek, maka kita akan kesulitan membuat akurasinya karena angka bayangan tidak bisa terbaca dengan akurat,” sambungnya.

Latar Belakang Ilmu Falak

Ditanya mengenai latar belakang keilmuannya, Musyafa’ mengisahkan bahwa ilmu falak telah ia pelajari sejak berada di lingkungan pesantren melalui kajian kitab kuning klasik. Seiring berjalannya waktu, Kementerian Agama (Kemenag) serta Lembaga Falakiyah NU mulai rutin menggelar pelatihan yang memadukan metode falak klasik dengan metode kontemporer.

Pelatihan ini menguji berbagai sistem dari satu kitab ke kitab lainnya yang memiliki metode berbeda. Saat ini, LFNU Jawa Timur menggunakan satu kitab khusus yang menjadi acuan utama karena tingkat akurasinya yang sangat tinggi.

Kitab Ad-Durul Aniq sebagai Acuan Utama

“Untuk nama kitab yang saat ini menjadi acuan Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur itu namanya adalah Kitab Ad-Durul Aniq,” ungkapnya.

Perihal keunggulan kitab ini, Musyafa’ menerangkan bahwa kitab ini telah teruji secara sahih pada peristiwa alam besar satu dekade lalu. Yaitu pernah diuji cobakan pada tahun 2016 saat terjadi gerhana matahari total. Di antara sekian banyak kitab yang ada, ternyata Kitab Ad-Durul Aniq memiliki akurasi tertinggi.

“Bahkan saat gerhana bulan tersebut mengalahkan sistem Ephemeris yang saat itu menjadi acuan utama Kementerian Agama,” pungkasnya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *