Daerah  

Antisiklon dan Gelombang Kelvin Picu Hujan Terus-Menerus


Fenomena Hujan yang Melanda Wilayah Sumatera Utara

Hujan yang terjadi di hampir seluruh wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada Sabtu (18/7) dan Minggu (19/7) menarik perhatian masyarakat. Fenomena ini disebabkan oleh antisiklon atau pusat tekanan udara tinggi yang aktif di Samudera Hindia Barat Sumut. Antisiklon tersebut memengaruhi aliran massa udara, sehingga menghasilkan kondisi cuaca yang tidak biasa.

Prakirawan Balai Besar MKG (BBMKG) Wilayah I Medan, Ilham Haris, menjelaskan bahwa antisiklon menyebabkan massa udara mengalir keluar dari pusatnya. Hal ini menyebabkan perlambatan kecepatan angin, yang akhirnya memicu penumpukan uap air dan pertumbuhan awan konvektif di wilayah Sumut. Fenomena ini menjadi penyebab utama curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.

“Antisiklon atau pusat tekanan udara tinggi yang aktif di Samudera Hindia Barat Sumut memengaruhi aliran massa udara. Terdapat perlambatan kecepatan angin, yang berkontribusi pada penumpukan uap air dan pertumbuhan awan konvektif,” jelas Ilham saat dikonfirmasi, Minggu (19/7).

Selain antisiklon, Gelombang Kelvin juga turut berperan dalam memperparah kondisi cuaca. Gelombang ini terpantau aktif di wilayah Sumut dan meningkatkan potensi pembentukan awan konvektif. Selain itu, suhu permukaan laut yang hangat di sekitar Sumut memberikan suplai uap air tambahan, sehingga memperkuat potensi curah hujan.

“Peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Sumut meningkatkan suplai uap air, yang berkontribusi pada pembentukan awan konvektif dan curah hujan yang lebih tinggi,” tambah Ilham.

BMKG memperkirakan bahwa kondisi cuaca hujan yang terjadi hampir sepanjang hari masih akan berlangsung beberapa hari ke depan di sebagian besar wilayah Sumut. Termasuk di Kota Medan dan sekitarnya, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diperkirakan akan terus terjadi.

“Secara umum, hampir seluruh wilayah Sumut mengalami hujan. Curah hujan tertinggi tercatat di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Pakpak Bharat pada kemarin, yaitu Sabtu (18/7/2026). Cuaca seperti ini diperkirakan masih akan terjadi hingga dua hari ke depan,” kata Ilham.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat

Dalam rangka menghadapi kondisi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir atau longsor. Pemangku kepentingan juga diminta untuk memperkuat koordinasi dalam memitigasi potensi bencana alam yang dapat terjadi akibat cuaca ekstrem.

Beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi:

  • Memantau informasi cuaca secara berkala melalui sumber resmi.
  • Menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air, untuk mencegah genangan air.
  • Menghindari daerah rawan banjir atau longsoran tanah.
  • Menyiapkan alat-alat darurat dan rencana evakuasi jika diperlukan.

Dengan kesadaran dan persiapan yang baik, masyarakat dapat mengurangi risiko yang muncul akibat cuaca ekstrem. BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan akan memberikan informasi terbaru jika ada perubahan signifikan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *