Kehadiran Nadin Amizah dalam High School Fest 2025
Pada hari pertama High School Fest 2025 yang digelar pada Sabtu (22/11), suasana di kawasan PIK 2 mulai berubah. Langit tampak abu-abu, menutup sisa cahaya matahari yang mulai meredup sekitar pukul 17.00 WIB. Di tengah suasana tersebut, penonton mulai memadati area festival, menyambut kehadiran “Ibu Peri”, yaitu Nadin Amizah.
Nadin Amizah tampil dengan rambut tergerai dan pakaian yang sesuai dengan gayanya yang khas. Saat ia naik ke panggung, tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk membuat ribuan penonton terpukau. Konsernya dimulai dengan lagu populer Rayuan Perempuan Gila, yang dibawakan dengan irama catchy dan lirik yang menyentuh. Respons penonton langsung menghiasi ruang, dengan koor massal yang mengiringi setiap nada.
Suasana semakin hangat ketika Nadin melanjutkan dengan lagu Berpayung Tuhan. Lagu ini membawa penonton lebih dalam lagi ke dunia emosional Nadin. Ia bertanya lembut kepada penonton: “Siapa di sini yang datang bersama orang yang merayakannya?” Dari respons yang diberikan, Nadin mengajak semua hadirin untuk merayakan satu sama lain, bahkan jika mereka sendirian.
“Aku sudah ada yang rayakan, dong,” ujarnya dengan nada bangga, mengingatkan penonton pada suaminya, Faishal Tanjung. Faishal yang berdiri di pinggir panggung menatap Nadin dan melambaikan tangannya. Namun, Nadin segera kembali memberi perhatian kepada para penonton yang mungkin sedang merasa sendiri.
“Jangan sedih, di sini aku yang rayakan kalian, ya,” ujarnya, disambut sorak penonton. Kalimat itu menjadi pengantar sempurna untuk lagu Semua Aku Dirayakan. Di bawah langit mendung, lagu tersebut terasa seperti pelukan hangat bagi siapa saja yang merasa sepi di tengah keramaian.
Nadin kemudian melihat ke langit, sedikit menyayangkan cuaca yang tidak secerah harapannya. “Sayangnya sore ini enggak ada sunset, ya. Enggak apa-apa, yang penting enggak hujan, ya,” katanya. Suasana kemudian berubah menjadi lebih playful. Layar panggung menampilkan siluet seekor kucing hitam yang ikonik.
“Aku ingin bawakan laguku yang judulnya Ah,” kata Nadin. Irama jazzy dari lagu Ah pun mengalun, membuat penonton bergoyang santai mengikuti tempo yang memikat. Konser Nadin selalu menjadi rollercoaster emosi. Dari suasana jazzy, ia membawa penonton kembali ke momen kontemplasi yang mendalam.
Nadin mendedikasikan lagu berikutnya untuk sosok paling penting dalam hidupnya, yaitu sang ibunda. “Lagu ini aku ciptakan untuk ibuku. Dan semoga lagu ini juga bisa mengingatkan pada sosok yang melahirkan kamu semua,” ucap Nadin dengan suara bergetar. Lagu Bertaut berkumandang, dan di barisan penonton, tak sedikit yang terlihat menyeka air mata, teringat pada ikatan batin dengan ibu mereka masing-masing.
Menuju akhir penampilannya, Nadin membawakan Di Akhir Perang, sebelum mengajak penonton merenungi fase kehidupan lewat Kita Beranjak Dewasa. Sebagai penutup, Sorai menjadi salam perpisahan yang manis. Ribuan tangan melambai di udara, merayakan pertemuan singkat dan bermakna bersama Nadin sore ini.
Meskipun tanpa matahari terbenam yang jingga, Nadin berhasil menciptakan cahayanya sendiri lewat panggung High School Fest 2025, menghangatkan hati siapa saja yang hadir untuk dirayakan.
