Daerah  

Rusia Serang Hibrida ke NATO: Pasukan Khusus Jerman Serbu Kapal Scanlark


Perang Hibrida yang Dilancarkan Rusia terhadap NATO

Perang hibrida merupakan bentuk konflik modern yang menggabungkan strategi militer dan non-militer untuk melemahkan lawan tanpa konfrontasi langsung. Strategi ini mencakup perpaduan antara perang konvensional, gerilya, dan serangan siber, serta penggunaan alat non-militer seperti disinformasi, propaganda, diplomasi agresif, dan manipulasi media. Dengan tingkat ambiguitas yang tinggi, perang hibrida sulit dibedakan antara masa damai dan masa perang karena serangannya bersifat tersembunyi. Meski berbiaya rendah, dampaknya bisa sangat besar dan efektif dalam menciptakan ketidakstabilan.

Pada tahun 2025, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, memperingatkan bahwa Rusia telah meluncurkan “perang hibrida” terhadap negara-negara NATO. Hal ini diungkapkannya saat menyambut para pemimpin politik dari seluruh Uni Eropa ke negaranya untuk menghadiri pertemuan puncak. Pertemuan tersebut membahas rencana mempersenjatai kembali benua itu dan mempertahankannya dari agresi Rusia setelah serangkaian insiden penerobosan wilayah udara negara NATO.

Selama pertemuan tersebut, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, ada laporan baru tentang serangan terhadap kapal Rusia oleh Jerman yang mengungkap bukti sabotase—termasuk peluncuran pesawat tak berawak dari kapal tersebut. Selain itu, ada kabar terbaru tentang penangkapan seorang kurir intelijen Rusia yang diduga sedang mempersiapkan serangan pesawat tak berawak di Polandia.

NATO dan sejumlah negara lain Eropa terseret dalam perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak 2022 silam. Rusia menuding, NATO ikut berperang karena membantu Ukraina lewat pemberian sistem persenjataan.

Insiden-Insiden yang Menggambarkan Serangan Rusia ke NATO

Dalam laporannya, NW menyebutkan sejumlah insiden yang menggambarkan serangan Rusia ke sejumlah negara NATO dalam bentuk perang hibrida. Berikut ini upaya Rusia melancarkan perang hibrida ke NATO:

  • Penangkapan Anggota Intelijen Militer Rusia di Polandia: Pihak berwenang Polandia menahan tersangka anggota badan intelijen militer Rusia (GRU) yang mengubur kaleng berisi bahan peledak di pemakaman Łódź. Gazeta Wyborcza melaporkan bahwa para penyidik menduga kaleng-kaleng yang bisa dipasang drone itu ditujukan untuk “aksi teror” Rusia.

  • Penyelidikan di Jerman: Lima warga negara Rusia diperiksa di Jerman setelah ditemukan bukti sabotase di kapal kargo mereka “Scanlark”. “Scanlark” diserbu pasukan khusus Jerman awal September setelah diduga meluncurkan drone untuk tujuan mata-mata, seperti dilaporkan media Jerman, NDR.

  • Penangkapan Kapal Tanker di Prancis: Perdana Menteri Prancis Lecornu memuji pasukan komando yang menangkap dua awak kapal tanker yang diduga milik “armada bayangan” Rusia. Kapal “Borocay” diserbu oleh angkatan laut Prancis di Saint-Nazaire pada akhir pekan lalu sebagai bagian dari penyelidikan atas benderanya. Kapal Boracay berbendera Benin, yang tercantum dalam daftar kapal armada bayangan dan dikenai sanksi Uni Eropa.

  • Gangguan Pesawat Nirawak: Gangguan pesawat nirawak baru-baru ini di Denmark, Norwegia, Jerman masih dalam penyelidikan, dengan Rusia sebagai tersangka utama.

Pernyataan Mette Frederiksen

Mette Frederiksen menyampaikan peringatan penting: “Saya harap semua orang menyadari sekarang bahwa ada perang hibrida, dan suatu hari perang terjadi di Polandia, di hari lain perang terjadi di Denmark, dan minggu depan mungkin di tempat lain kita akan melihat sabotase atau drone beterbangan.”

Rusia membantah ingin berkonflik dengan Eropa dan menolak tuduhan tersebut sebagai tuduhan yang tidak berdasar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *