Proses Evakuasi yang Penuh Haru dan Kesedihan
Kisah pilu dan haru terus menghiasi proses evakuasi korban ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Dari tujuh korban yang berhasil dievakuasi pada Rabu 1 Oktober 2025, dua di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Salah satu korban meninggal ditemukan dalam posisi sujud, tepat di samping seorang santri bernama Syahlendra Haical (13) yang berhasil selamat. Kejadian ini menunjukkan betapa berbahayanya situasi di lokasi kejadian, serta bagaimana kesadaran dan keberanian para petugas SAR dapat menyelamatkan nyawa korban.
Direktur Operasi Basarnas sekaligus SAR Mission Coordinator, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menjelaskan bahwa identitas korban yang ditemukan dalam kondisi sujud masih belum diketahui. Jenazah langsung dibawa ke RS Siti Hajar untuk proses identifikasi oleh tim DVI Polda Jatim.
“Awalnya tim hendak mengevakuasi Haikal, tapi karena posisinya berdekatan dengan korban meninggal, kami harus menarik korban itu lebih dulu,” jelas Yudhi. Kisah haru makin terasa karena Haikal akhirnya bisa diselamatkan hanya beberapa menit setelah rekannya ditemukan tak bernyawa. Haikal menjadi korban ke-13 yang berhasil dievakuasi dari reruntuhan.
Data Santri Belum Ditemukan Masih Simpang Siur
Sebelumnya, beredar daftar 66 nama santri yang disebut masih dalam pencarian. Data tersebut beredar luas di media sosial, diduga berasal dari absensi internal pondok maupun laporan keluarga. Namun, pihak Basarnas menegaskan bahwa kebenaran data tersebut belum bisa dipastikan sepenuhnya.
“Kami tetap berkoordinasi dengan pihak ponpes dan keluarga, tapi fokus utama kami tetap pada evakuasi korban di lapangan,” tegas Yudhi. Meskipun begitu, pihak Basarnas tetap berupaya mempercepat proses pencarian dan memberikan informasi yang akurat kepada keluarga korban.
Hari Ketiga, Alat Berat Disiapkan
Memasuki hari ketiga pasca musala ponpes ambruk, tim SAR mulai membuka opsi penggunaan alat berat untuk mempercepat proses pencarian. Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan bahwa upaya manual hingga Kamis dini hari belum menemukan tanda-tanda kehidupan.
“Golden time terus berjalan. Kalau memang perlu, kami siapkan penggunaan alat berat. Tapi semua keputusan akan mempertimbangkan masukan keluarga korban dan keselamatan tim,” kata Nanang. Penggunaan alat berat akan dilakukan jika diperlukan, namun tetap dengan pertimbangan keselamatan dan kesejahteraan para korban.
Hingga Kamis pagi, tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan masih terus melakukan pencarian manual. Sementara itu, keluarga korban terlihat memenuhi posko gabungan, menanti kabar terbaru dari lapangan. Mereka berharap dapat segera mendapatkan informasi yang jelas tentang nasib santri mereka yang masih hilang.
