Daerah  

Tiba di Indonesia, Wanda Hamidah Bocorkan Perjalanan Misi Flotilla




mediaawas.com.CO.ID, JAKARTA – Wanda Hamidah, seorang aktivis publik yang juga bagian dari relawan Indonesia, menceritakan pengalamannya dalam misi Global Sumud Flotilla. Ia mengungkapkan bahwa pada saat itu ia sudah bersiap untuk ditangkap dan dipenjara oleh Israel dalam upaya menembus blokade yang diberlakukan terhadap Gaza.

Wanda bersama Muhammad Fatur Rohman, salah satu relawan dari Aqsa Working Group (AWG), adalah dua dari ratusan warga negara Indonesia yang bergabung dalam misi kemanusiaan ke Gaza. Keduanya tiba di Bandara Soekarno Hatta Tangerang pada Sabtu (4/10/2025) malam dan berbagi pengalaman perjalanan mereka kepada media di Jakarta Selatan.

“Saya dan Fatur benar-benar telah menyerahkan diri kami. Kami siap mengorbankan nyawa kami demi membuka blokade dan memberikan bantuan kemanusiaan, meskipun harus menghadapi risiko seperti ditangkap, dideportasi, atau bahkan ditahan di penjara Israel,” ujar Wanda.

Perjalanan Wanda dimulai bersama rombongan Indonesian Global Palestine Coalition (IGPC), sedangkan Fatur berlayar bersama AWG. Keduanya bertemu di Pelabuhan Sidi Bou Said, di pesisir utara Tunisia.

Dalam perjalanan dari Tunisia, Fatur awalnya ditempatkan di kapal Observer. Namun, pada menit terakhir, kapten kapal memutuskan untuk mengurangi jumlah penumpang, sehingga Fatur dipindahkan ke kapal Kamr, sebuah kapal layar kecil yang hanya berisi enam orang dari Indonesia, Mauritania, Aljazair, dan Tunisia.

Sementara itu, kapal-kapal lain seperti Kaiser yang dihuni Wanda Hamidah, Observer, dan Nusantara mengalami kerusakan saat tiba di Italia. Mereka terdampar di pelabuhan Sisilia, Italia, dan selama dua pekan menunggu dengan sabar. Mereka berharap bisa menumpang kapal konvoi Global Sumud Flotilla yang akan berlayar ke Gaza untuk menembus blokade Israel.

Namun, akhirnya mereka harus menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi kapal yang akan berlayar menuju Gaza. Akibatnya, delegasi Indonesia dan delegasi dari negara-negara lain yang tidak bisa melanjutkan perjalanan memutuskan untuk kembali ke negara masing-masing.

“Hingga hari kepulangan, kami masih berkumpul di kapal Nusantara karena alasan tertentu. Itu adalah kapal terakhir yang menuju Gaza, sementara kapal-kapal lain sudah tidak ada lagi. Kapal ini tidak diizinkan berlayar karena mungkin khawatir kami akan sendirian berlayar,” jelas Wanda.

Mengenang kesulitan dalam mencari kapal untuk membawanya ke Gaza, Wanda mengaku sudah membayangkan dirinya berada di penjara Israel. Ia menjelaskan bahwa jika tertangkap, mereka harus menandatangani surat untuk dideportasi, atau jika menolak, akan ditahan oleh pasukan zionis tersebut.

“Semua yang kami lakukan adalah untuk membangkitkan kesadaran umat, serta membangunkan kesadaran warga negara Indonesia di mana pun kita berada bahwa kita harus membebaskan Palestina dari penjajahan,” tegas Wanda.

Fatur juga menyampaikan niatnya untuk kembali mencoba menembus blokade Israel terhadap bantuan kemanusiaan dengan persiapan yang lebih matang. “Kita akan membuat gelombang-gelombang berikutnya yang lebih besar dan kuat untuk menembus blokade Gaza,” ujarnya.

Seluruh kapal yang terlibat dalam Global Sumud Flotilla, konvoi bantuan kemanusiaan yang berupaya menembus blokade zionis Israel terhadap Jalur Gaza, dipastikan telah dicegat oleh pasukan Israel. Menurut laporan Al Jazeera pada Jumat (3/10/1015), kapal “Marinette” yang berbendera Polandia menjadi kapal terakhir dari 44 kapal peserta Global Sumud Flotilla yang dicegat Israel pada pagi hari.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *