Pemkab Tasikmalaya Berupaya Mewujudkan Swasembada Padi Organik
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya terus bergerak untuk mewujudkan proyek ambisius menuju swasembada padi organik. Ribuan hektare lahan di wilayah Tasikmalaya Utara dan Selatan kini sedang digarap secara intensif. Proses ini didukung penuh oleh pembangunan infrastruktur pengairan dan pengolahan hasil panen. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memajukan sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, menyatakan bahwa pihaknya memiliki optimisme tinggi meskipun mengakui bahwa perubahan pola pikir petani menjadi tantangan terbesar di awal program. Pengembangan padi organik diprioritaskan di beberapa kecamatan, termasuk Cisayong di bagian utara dan Cipatujah di bagian selatan. Dengan pendekatan yang konsisten, pemerintah daerah berupaya memberikan bimbingan lengkap kepada petani mulai dari persiapan lahan hingga proses panen.
Asep mencatat adanya perubahan positif di kalangan petani dalam mengolah lahan pertanian. “Yang biasanya agak sulit diarahkan, sekarang dengan konsistennya pemerintah daerah melaksanakan program yang riil, sudah mulai terbuka cara berpikirnya,” ujarnya.
Hasil dari konsistensi ini terlihat dari rata-rata hasil panen 4-5 ton per hektar di lahan organik. Meski demikian, pemerintah tetap fokus pada edukasi dan pendampingan agar petani bersabar dan menerima penurunan hasil produksi pada masa transisi awal.
Infrastruktur Pengairan yang Kritis
Untuk memastikan keberlanjutan program, Pemkab Tasikmalaya mengajukan usulan proyek pengerukan dan revitalisasi sumber air kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Jaminan ketersediaan air menjadi faktor krusial bagi ribuan hektare lahan baru. Prioritas utama adalah Bendungan Padawaras di Kecamatan Cipatujah, yang mengairi lahan padi organik di empat desa.
Pemkab telah mengajukan peningkatan keandalan sumber air untuk 500 hektare lahan di Cipatujah, dengan potensi total pengembangan mencapai 1.000 hektare di wilayah tersebut. “Karena kewenangannya ada di Pemerintah Jabar, seperti bendungan Padawaras kita coba di 500 hektare dulu, maka kedepannya mudah-mudahan akan tercapai 1.000 hektare,” jelas Asep.
Selain itu, lahan seluas 1.000 hektare di Kecamatan Tanjungjaya dan Sukaraja yang bergantung pada Bendungan Ciramajaya juga diajukan untuk segera direvitalisasi agar pasokan air terjamin.
Pembangunan Pabrik Pengolahan Padi Organik
Tak hanya irigasi, Asep juga mengungkapkan rencana strategis lainnya yakni pembangunan pabrik pengolahan padi organik di Kabupaten Tasikmalaya. Pabrik ini diharapkan mampu memproses dan menghasilkan ribuan ton padi organik per bulan, memastikan rantai pasok dan nilai jual produk.
Upaya Pemkab ini disambut baik oleh pemerintah desa. Kepala Desa Padawaras, Yayan Siswandi, mengaku siap memberikan dukungan secara penuhnya, terutama terhadap rencana peningkatan infrastruktur pengairan di Bendungan Padawaras. “Kami sebagai salah satu desa yang ada lokasi pengembangan padi organik sangat mendukung. Mudah-mudahan target swasembada padi organik ini bisa terwujud,” ujar Yayan.
Komitmen Pemkab untuk Ketahanan Pangan
Komitmen Pemkab Tasikmalaya melalui program ini, kata dia, diharapkan menjadi langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendorong petani lokal beralih ke praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Para petani organik kelompok tani Harapan Tiga di Desa Padawaras Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya tengah memanen padi organik yang mereka tanam di lahan garapannya, belum lama ini.
