Serangan Terus Berlangsung Meski Gencatan Senjata, Khamenei: Tanda Tangan Trump Tak Berguna


Khamenei Menuduh AS Melanggar MoU dan Meningkatkan Ketegangan di Timur Tengah

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan tajam terhadap Amerika Serikat (AS) yang menuduh negara tersebut berulang kali melanggar Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Dalam pernyataannya yang dibacakan di televisi pemerintah, Khamenei menyebut tanda tangan Presiden AS Donald Trump tidak lagi memiliki nilai dan sah. Ia menilai bahwa tindakan AS mencerminkan sikap agresif yang tidak bisa dipercaya.

Perang antara AS dan Iran telah memicu kekacauan di kawasan Timur Tengah. Konflik ini juga berdampak pada kehidupan warga, termasuk dua tentara AS yang gugur dalam pertempuran di Yordania. Insiden tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut.

Serangan Berkelanjutan dari AS Terhadap Iran

Dalam beberapa hari terakhir, AS terus melakukan serangan terhadap infrastruktur sipil Iran. Pihak berwenang melaporkan bahwa serangan ini dilakukan selama delapan hari berturut-turut. Serangan-serangan ini menargetkan jembatan, jalur kereta api, dan pabrik desalinasi air. Tujuannya adalah untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz serta memberikan hukuman bagi pasukan Garda Revolusi Islam yang menyerang anggota militer AS di Yordania.

Serangan AS tidak hanya dilakukan melalui udara, tetapi juga menggunakan pesawat tempur, drone, kapal perang, dan aset lainnya. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa mereka terus meminta pertanggungjawaban Iran atas arahan Panglima Tertinggi sambil sepenuhnya memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.

Kematian Tentara AS di Yordania

Dua anggota militer AS tewas dalam pertempuran di Yordania pada 17 Juli. Mereka tewas saat pasukan AS dan sekutunya mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran. Satu anggota militer lainnya masih dinyatakan hilang, sedangkan empat personel lainnya dievakuasi ke rumah sakit di Yordania sebelum akhirnya dipulangkan. Mereka yang mengalami cedera ringan telah kembali bertugas.

Ini merupakan kematian pertama personel militer AS yang terkait dengan konflik Iran sejak Maret. Presiden AS Donald Trump menyampaikan rasa belasungkawa atas kematian dua anggota militer tersebut. Ia juga menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir.

Perang yang Tidak Populer di AS

Konflik antara AS-Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah terhadap tuntutan yang terus meningkat dari pemerintahan Trump. Sementara itu, negara-negara di kawasan terus mendorong upaya mengakhiri konflik.

Di sisi lain, laporan menunjukkan bahwa Houthi di Yaman dapat menutup jalur Bab al-Mandeb menuju Laut Merah untuk mendukung sekutu penting mereka, Iran. Langkah ini diperkirakan akan semakin mengguncang pasar energi global, meningkatkan inflasi, serta memberi tekanan tambahan kepada Trump untuk menghentikan serangan.

Perang ini sangat tidak populer di Amerika Serikat dan telah menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga Amerika. Meskipun MoU yang dimediasi Qatar dan Pakistan serta ditandatangani pada Juni lalu bertujuan menciptakan kondisi untuk mengakhiri perang secara permanen, Iran dan AS menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir setelah saling menuduh melanggarnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *