Sekolah di Purworejo yang Menarik Minat Tinggi, Bahkan Bayi 7 Hari Sudah Terdaftar
Di tengah situasi beberapa sekolah yang kesulitan mendapatkan pendaftar, SD Muhammadiyah Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah, justru mengalami fenomena sebaliknya. Sekolah ini mengalami peningkatan permintaan yang sangat tinggi, bahkan kuota pendaftaran telah terpenuhi sebelum masa pendaftaran dibuka.
Menurut Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Kutoarjo, Suprayitno, antusiasme masyarakat terhadap sekolah tersebut sangat besar. Hal ini terlihat dari banyaknya orang tua yang rela mendaftarkan anak mereka sejak masih bayi agar tidak kehabisan kuota ketika usia sekolah dasar tiba.
Fenomena Pendaftaran Awal
Salah satu contoh nyata adalah seorang bayi yang baru berusia tujuh hari, yang telah didaftarkan oleh orang tuanya sebagai calon peserta didik. Padahal, masa masuk sekolahnya masih enam tahun lagi.
Suprayitno menjelaskan bahwa bayi tersebut didaftarkan pada 27 Mei 2026, sedangkan tanggal kelahirannya tercatat 20 Mei 2026. Kejadian ini menjadi bukti tingginya minat masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Kutoarjo.
Selain kasus tersebut, sekolah juga telah menerima pendaftaran calon siswa hingga beberapa tahun ajaran ke depan. Untuk tahun ajaran 2027/2028, kuota telah terpenuhi karena sudah mencapai 168 calon peserta didik. Sementara itu, tahun ajaran 2028/2029 memiliki 88 pendaftar, tahun ajaran 2029/2030 sebanyak 32 pendaftar, dan seterusnya.
Dari jumlah pendaftar tersebut, termasuk dalam daftar adalah bayi yang baru berumur tujuh hari.
Tujuan Sistem Inden
Suprayitno menegaskan bahwa sistem pendaftaran lebih awal atau inden bukan bertujuan mengistimewakan kelompok tertentu, melainkan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang ingin memperoleh kepastian mengenai pendidikan anak mereka.
“Sekolah membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan anak lebih awal. Ini merupakan bentuk pelayanan sekaligus respons terhadap tingginya kepercayaan masyarakat kepada sekolah,” ujarnya.
Keberhasilan SD Muhammadiyah Kutoarjo menarik minat masyarakat tidak terjadi secara instan. Selama bertahun-tahun, sekolah berupaya membangun budaya pelayanan yang berorientasi pada kepuasan orang tua dan kebutuhan peserta didik.
Fokus pada Pendidikan Holistik
Sekolah tidak hanya menitikberatkan pada capaian akademik, tetapi juga pendidikan agama, pembentukan akhlak, pengembangan karakter, serta prestasi siswa di berbagai bidang.
“Kami berusaha memenuhi harapan orang tua. Mereka menginginkan anaknya memiliki prestasi, memiliki bekal agama yang baik, serta akhlak yang mulia. Itu yang terus kami bangun,” katanya.
Pelayanan kepada orang tua juga diwujudkan melalui komunikasi yang intensif antara sekolah dan wali murid. Tidak hanya kepala sekolah dan guru, tenaga kependidikan hingga petugas keamanan didorong untuk membangun hubungan yang ramah dengan keluarga siswa.
Setiap pagi, guru menyambut kedatangan peserta didik di gerbang sekolah, menyalami mereka, bahkan mengantarkan anak-anak menuju ruang kelas.
Layanan Antar-Jemput yang Memastikan Keamanan
SD Muhammadiyah Kutoarjo juga menyediakan layanan antar-jemput menggunakan 14 armada yang melayani berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo. Armada tersebut terdiri atas kendaraan milik sekolah maupun hasil kerja sama dengan pihak ketiga.
Layanan ini dinilai mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang tua karena anak dijemput dari rumah dan diantar kembali setelah kegiatan belajar selesai.
Keberagaman Latar Belakang Siswa
Keberagaman latar belakang siswa menjadi nilai lebih bagi sekolah. Peserta didik berasal dari berbagai wilayah dengan kondisi sosial yang berbeda, mulai dari kawasan perkotaan, pedesaan, daerah perbukitan hingga keluarga dengan beragam profesi seperti petani, pedagang, dan nelayan.
Menurut Suprayitno, keberagaman ini justru menjadi sarana pembelajaran sosial bagi anak-anak agar mereka belajar menghargai perbedaan sejak usia dini.
“Anak-anak memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda. Ketika mereka belajar bersama di sekolah, mereka akan memahami bahwa kehidupan setiap orang tidak sama. Itu menjadi bagian dari pendidikan karakter yang kami tanamkan,” ujarnya.











