Daerah  

Ramalan Cuaca Jatim 18 Juli 2026: Matahari Bersinar Cerah di Jawa Timur


Prakiraan Cuaca di Jawa Timur pada 18 Juli 2026

Cuaca di seluruh wilayah Jawa Timur diprakirakan cerah pada Sabtu, 18 Juli 2026. Wilayah Sidoarjo diperkirakan mengalami cuaca cerah sejak pagi hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Kondisi serupa juga terjadi di Surabaya dengan suhu yang tetap terasa sejuk. Semua wilayah di Jawa Timur diperkirakan mengalami cuaca cerah.

Berdasarkan pantauan, cuaca di wilayah Sidoarjo cerah pada pagi hari hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Hal tersebut juga berlaku di Surabaya. Meski matahari cerah, suhu terasa sejuk. Masyarakat disarankan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca serta menjaga kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Wilayah pegunungan seperti Kota Batu, Malang, Pasuruan, Probolinggo, serta kawasan Tapal Kuda diperkirakan terasa lebih sejuk, terutama pada pagi dan malam hari. Masyarakat di wilayah dataran tinggi diimbau mengenakan pakaian yang cukup hangat saat beraktivitas di luar ruangan.

Di wilayah Mataraman seperti Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, hingga Madiun, cuaca umumnya diprediksi cerah hingga udara kabur dengan suhu berkisar antara 17 hingga 32 derajat Celsius. Bagi masyarakat yang berencana berwisata ke pantai selatan Jawa Timur, tetap perlu berhati-hati. Meski cuaca cenderung cerah, BMKG mengingatkan adanya potensi gelombang laut yang cukup tinggi di perairan Samudra Hindia selatan Jawa Timur sehingga nelayan dan wisatawan diminta selalu memperhatikan informasi cuaca terbaru.

Secara umum, pada Minggu (12/7/2026) menjadi hari yang cukup kondusif untuk berbagai aktivitas luar ruangan. Namun masyarakat tetap disarankan memantau pembaruan prakiraan cuaca dari BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.

Fenomena Bediding di Jawa Timur

Sementara itu, fenomena bediding atau udara dingin khas musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September 2026, dengan puncak suhu terendah terjadi pada awal Agustus. Selama periode ini, para pendaki gunung diminta meningkatkan kewaspadaan karena risiko hipotermia menjadi lebih tinggi, terutama pada malam hingga dini hari.

Peringatan tersebut disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyusul meningkatnya aktivitas pendakian di wilayah Malang Raya saat musim kemarau. Prakirawan BMKG Karangploso Malang, Linda Fitrotul, menjelaskan cuaca yang cenderung cerah memang membuat banyak wisatawan memilih mendaki gunung. Namun, kondisi tersebut juga diikuti penurunan suhu udara yang cukup ekstrem ketika malam hingga menjelang pagi.

“Teman-teman yang ingin muncak, apalagi saat kondisi tidak ada hujan, biasanya banyak dimanfaatkan wisatawan. Karena kemungkinan suhu lebih dingin, kita harus bisa memitigasi diri saat mendaki agar tidak mengalami hipotermia,” ujar Linda, Kamis (9/7/2026).

Ia mengimbau para pendaki untuk mengenakan pakaian hangat berlapis, membawa perlengkapan yang sesuai dengan suhu dingin, serta memastikan kondisi tubuh tetap prima selama pendakian. Linda juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan cairan. Meski udara dingin sering membuat rasa haus berkurang, tubuh tetap membutuhkan cukup cairan agar tidak mengalami dehidrasi.

Menurutnya, perbedaan suhu yang cukup tajam antara siang dan malam menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Saat siang hari cuaca bisa terasa terik, sedangkan pada malam hingga dini hari suhu turun drastis. “Saat siang hari cuaca terik, kemudian malam hingga dini hari sangat dingin, terjadi perubahan suhu yang cukup signifikan. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan terserang flu maupun penyakit lainnya,” katanya.

Fenomena Bediding Berlangsung hingga September

Linda menjelaskan, bediding merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap musim kemarau akibat kondisi langit yang relatif cerah sehingga panas di permukaan bumi lebih cepat terlepas pada malam hari. Fenomena tersebut umumnya berlangsung sejak akhir Juni hingga September, dengan intensitas udara dingin meningkat pada Juli hingga September.

“Sebetulnya fenomena bediding sudah menjadi hal yang wajar terjadi setiap tahunnya. Fenomena ini berlangsung mulai akhir Juni sampai September, tetapi biasanya intensnya pada Juli hingga September,” ujarnya.

Berdasarkan data BMKG, suhu minimum di Malang Raya dalam 10 tahun terakhir berkisar antara 13 hingga 15 derajat Celsius. Sementara itu, pada September 2006, suhu minimum di wilayah tersebut pernah mencapai 12 derajat Celsius. Pemantauan suhu dilakukan melalui sejumlah stasiun Automatic Weather Station (AWS) di Karangploso, Batu, Abd Saleh, dan kawasan Gunung Bromo. BMKG mencatat suhu di setiap wilayah dapat berbeda karena tidak seluruh lokasi memiliki alat pengamatan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *