Kandidat Calon Presiden Amerika Serikat 2028 Mulai Terlihat
Meskipun Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) 2028 masih jauh dari waktu pelaksanaannya, peta persaingan menuju Gedung Putih mulai terlihat. Survei terbaru menunjukkan bahwa beberapa tokoh politik telah muncul sebagai kandidat utama di masing-masing partai. Di Partai Republik, Wakil Presiden JD Vance terlihat memimpin bursa calon presiden, sementara mantan Wakil Presiden Kamala Harris masih menjadi pilihan utama pemilih Partai Demokrat.
Hasil Survei yang Menggambarkan Perkembangan
Survei yang dilakukan pada 11-12 Juli menunjukkan antusiasme publik terhadap Pilpres 2028 sudah cukup tinggi. Sebanyak 68 persen responden mengaku telah memikirkan siapa yang akan mereka dukung pada pemilu mendatang, meskipun hingga kini belum ada satu pun tokoh yang secara resmi mendeklarasikan pencalonannya.
Di kubu Partai Republik, JD Vance tampil sebagai kandidat yang paling dominan. Sebanyak 42 persen responden memilih Vance sebagai calon presiden yang paling mereka inginkan. Angka itu membuatnya unggul telak 20 poin atas Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang hanya memperoleh 20 persen dukungan. Donald Trump Jr., putra Presiden Donald Trump, berada di posisi ketiga dengan dukungan 18 persen. Sementara Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. dan mantan Gubernur South Carolina Nikki Haley masing-masing memperoleh enam persen. Mantan pembawa acara Fox News Tucker Carlson meraih delapan persen, sedangkan dua persen responden memilih tokoh lainnya.
Data agregat RealClear Polling hingga 15 Juli juga menunjukkan kecenderungan serupa. Berdasarkan rata-rata delapan survei nasional terakhir, Vance memimpin perebutan nominasi Partai Republik dengan tingkat dukungan 39,4 persen, unggul sekitar 19,3 poin atas Marco Rubio. Pasar prediksi politik Polymarket bahkan memberikan peluang kemenangan nominasi Partai Republik sebesar 42 persen kepada Vance, jauh di atas Rubio yang hanya memperoleh peluang sekitar 27 persen.
Kondisi di Partai Demokrat
Di kubu Partai Demokrat, Kamala Harris masih mempertahankan posisi teratas. Sebanyak 37 persen responden memilih mantan wakil presiden itu sebagai kandidat yang paling layak memimpin Partai Demokrat pada Pilpres 2028. Gubernur California Gavin Newsom berada di posisi kedua dengan dukungan 24 persen. Di belakangnya terdapat mantan Menteri Perhubungan Pete Buttigieg sebesar 10 persen dan Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro sebesar sembilan persen.
Anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez memperoleh sembilan persen dukungan. Sementara Gubernur Illinois JB Pritzker dan pilihan “tokoh lainnya” masing-masing memperoleh lima persen. Meski tetap berada di posisi teratas, Harris menghadapi tantangan serius. Dukungannya turun tujuh poin dibandingkan hasil survei Harvard CAPS/Harris Poll pada Mei 2026.
Simulasi Pertarungan
Survei Harvard tersebut juga memberikan gambaran awal mengenai kemungkinan pertarungan pada Pilpres 2028 apabila kandidat terkuat dari masing-masing partai benar-benar maju. Dalam simulasi head-to-head yang dilakukan The Public Sentiment Institute dan dirilis pada Juni, Kamala Harris diperkirakan mengalahkan JD Vance dengan perolehan suara 48,4 persen berbanding 38,3 persen. Selisih keduanya mencapai 11,1 poin, sementara 12,3 persen responden mengaku belum menentukan pilihan.
Faktor-Faktor yang Bisa Mengubah Peta Politik
Meski berbagai survei mulai memotret peta awal Pilpres Amerika Serikat 2028, dinamika politik Negeri Paman Sam masih sangat cair. Ada beberapa faktor yang bisa mengubah arah persaingan antara Partai Republik dan Partai Demokrat.
Faktor pertama adalah pemilihan pendahuluan (primary election). Proses ini merupakan tahapan paling menentukan karena para kandidat harus lebih dahulu memenangkan dukungan delegasi partainya sebelum resmi menjadi calon presiden. Persaingan internal sering kali berlangsung jauh lebih keras dibanding pemilu nasional. Kandidat yang saat ini memimpin survei masih berpeluang kehilangan momentum apabila gagal membangun organisasi kampanye, menggalang dana, atau memenangkan negara-negara bagian penting seperti Iowa, New Hampshire, South Carolina, dan Nevada yang selama ini menjadi barometer awal.
Faktor kedua adalah kondisi ekonomi Amerika Serikat. Pengalaman menunjukkan bahwa ekonomi hampir selalu menjadi isu utama dalam setiap pemilu presiden. Tingkat inflasi, harga bahan bakar, suku bunga, angka pengangguran, hingga pertumbuhan ekonomi akan sangat memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.
Faktor ketiga adalah keberhasilan maupun kegagalan pemerintahan Donald Trump selama sisa masa jabatannya. Sebagai wakil presiden, JD Vance akan sulit dipisahkan dari seluruh kebijakan pemerintahan Trump. Jika pemerintahan berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi, menekan inflasi, mengendalikan imigrasi ilegal, serta memperkuat posisi Amerika di panggung internasional, citra Vance sebagai penerus gerakan Make America Great Again (MAGA) berpotensi semakin menguat.
Faktor keempat adalah perkembangan situasi geopolitik dunia. Konflik Rusia-Ukraina, perang di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan, hingga rivalitas strategis Amerika Serikat dengan China diperkirakan masih menjadi isu besar menjelang 2028. Sejarah menunjukkan bahwa krisis internasional sering mengubah prioritas pemilih Amerika.
Faktor terakhir adalah debat kandidat dan kualitas kampanye. Debat presiden di Amerika Serikat kerap menjadi titik balik dalam sebuah kontestasi politik. Penampilan yang kuat dapat meningkatkan elektabilitas secara signifikan, sedangkan kesalahan kecil dapat menjadi sorotan nasional selama berbulan-bulan.
Karena itu, hasil berbagai survei saat ini sebaiknya dipandang sebagai potret awal, bukan prediksi akhir. Dengan waktu yang masih lebih dari dua tahun menuju Pilpres AS 2028, masih banyak ruang bagi munculnya kandidat baru, perubahan preferensi pemilih, maupun peristiwa politik yang dapat mengubah arah persaingan menuju Gedung Putih.










