Penyebab Penglihatan Kabur Bukan Selalu Katarak
Banyak orang mengira bahwa penglihatan yang mulai kabur disebabkan oleh katarak, terutama bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun. Namun, hal ini tidak selalu benar. Terlebih bagi penderita diabetes, penglihatan kabur bisa jadi tanda awal dari retinopati diabetik, yaitu kerusakan pada retina akibat diabetes.
Retinopati diabetik adalah kondisi yang menyerang retina, lapisan tipis di bagian belakang bola mata yang bertugas menangkap cahaya sebelum diteruskan ke otak menjadi gambar. Karena letaknya berada di dalam mata, kerusakan pada retina tidak dapat dilihat secara kasat mata. Bentuk mata penderita tetap tampak normal, sehingga banyak orang merasa tidak memiliki masalah pada penglihatannya.
Kerusakan pada pembuluh darah kecil di retina bisa menyebabkan bocornya darah, pecahnya pembuluh darah, atau penumpukan sisa metabolisme yang mengganggu fungsi retina. Gejala dari kondisi ini sering muncul sangat pelan dan tidak terasa. Pada tahap awal, penderita diabetes umumnya belum merasakan keluhan apa pun. Secara teori, tanda awal kerusakan retina dapat mulai muncul sekitar lima tahun setelah seseorang menderita diabetes. Namun, penglihatan masih terasa normal sehingga banyak orang tidak menyadari adanya masalah.
Beberapa gejala yang muncul antara lain cahaya lampu terasa lebih redup dibanding biasanya, warna tampak kurang cerah, atau penglihatan mulai sedikit buram. Karena perubahan berlangsung bertahap, sebagian besar penderita masih bisa membaca, bekerja, mengendarai kendaraan, bahkan beraktivitas seperti biasa. Akibatnya, pemeriksaan mata sering kali ditunda.
Pentingnya Pemeriksaan Mata Berkala
Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), menjelaskan bahwa banyak pasien datang ke dokter dengan keyakinan bahwa penyebab penglihatannya buram adalah katarak. Padahal setelah diperiksa justru ditemukan diabetes yang sudah memicu kerusakan pada retina.
Menurutnya, banyak pasien mencari informasi di internet dan menyimpulkan sendiri penyebabnya sebelum memeriksakan mata ke dokter. Hal ini bisa menyebabkan diagnosis yang salah dan penanganan yang terlambat. “Bahkan belum diperiksa dia sudah mendiagnosis sendiri karena pandangan kabur. Setelah diperiksa ternyata gula darahnya tinggi dan retinopatinya sudah berat,” jelasnya.
Peran Mata dalam Kehidupan Sehari-hari
Penglihatan memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar 85 persen informasi yang diterima manusia berasal dari visual. Mulai dari membaca, belajar, bekerja, mengenali wajah, hingga mengemudi sangat bergantung pada fungsi mata. Ketika penglihatan menurun, kualitas hidup juga ikut terdampak. Aktivitas sehari-hari menjadi terbatas dan pada kondisi yang berat, seseorang bahkan membutuhkan bantuan keluarga untuk melakukan pekerjaan sederhana.
Risiko Diabetes yang Berkepanjangan
Prof. Bayu juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang mencari diagnosis sendiri melalui internet atau aplikasi kecerdasan buatan. Menurutnya, ketika seseorang mengetik keluhan “mata kabur” disertai usia lanjut pada mesin pencari Google, hasil pencarian yang muncul sering kali mengarah pada katarak. Padahal, pada penyandang diabetes penyebabnya bisa berbeda.
Karena itu, pemeriksaan langsung tetap diperlukan agar penyebab gangguan penglihatan diketahui secara pasti. Prof. Bayu juga menjelaskan bahwa diabetes yang telah diderita dalam waktu lama tetap berisiko meskipun gula darah, tekanan darah, atau kolesterolnya sudah membaik. Kerusakan akibat diabetes yang telah berlangsung bertahun-tahun tidak langsung berhenti. Risiko retinopati tetap ada, terutama bila diabetes telah diderita dalam waktu lama.
Deteksi Dini Sangat Penting
Alasan utama penyandang diabetes perlu menjalani skrining mata adalah karena retinopati diabetik hampir selalu tidak menimbulkan gejala pada fase awal. Saat keluhan muncul, kerusakan biasanya sudah berkembang lebih jauh. “Jadi alasan paling kuat kenapa harus screening adalah karena di fase awal, ini tanpa gejala,”tegasnya.
Ia menegaskan, deteksi dini memberikan kesempatan lebih besar untuk memperlambat kerusakan retina sehingga penglihatan dapat dipertahankan selama mungkin. Karena itu, masyarakat diimbau tidak langsung menganggap mata kabur sebagai katarak atau sekadar efek pertambahan usia, terutama bila memiliki riwayat diabetes. Pemeriksaan ke tenaga kesehatan menjadi langkah penting agar penyebabnya diketahui sejak dini dan penanganan dapat dilakukan sebelum penglihatan mengalami kerusakan yang lebih berat.












