Daerah  

Menjelang Festival Port Numbay, Kampung Kayo Batu Lakukan Tradisi Timba Cacing Laut dengan Ritual


Tradisi Naita, Timba Cacing Laut di Kampung Kayo Batu

Masyarakat Kampung Kayo Batu, Kota Jayapura, memiliki tradisi unik yang telah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun. Tradisi ini dikenal dengan nama Naita, atau dalam bahasa lokal disebut timba Cacing Laut (Laor). Tahun ini, acara Naita dilakukan sebagai bagian dari rangkaian Festival Port Numbay dan Explore Kayo Batu, yang akan berlangsung pada tanggal 9 hingga 11 Oktober 2025.

Penjelasan mengenai Naita disampaikan langsung oleh Alex Pui, Rowese atau Pesuruh Ondoafi (Kepala Adat) Kampung Kayo Batu, pada Selasa, 7 Oktober 2025. Menurut Alex, Naita adalah kegiatan adat yang dilakukan masyarakat Kampung Kayo Batu untuk menimba cacing laut. Tradisi ini hanya dapat dilaksanakan setahun sekali, biasanya pada bulan Oktober hingga November, bertepatan dengan momen bulan purnama saat cacing-cacing laut tersebut muncul ke permukaan.

“Budaya atau tradisi kami di Kampung ini, timbah cacing atau Laor ini ada setiap tahun, jadi tidak setiap bulan. Setiap tahun barang itu akan muncul ke permukaan,” ujar Alex.

Prosesi Naita memiliki kekhasan tersendiri. Kaum laki-laki Kampung Kayo Batu turun langsung ke laut menggunakan ember dan serok yang disebut lae-lae. Aktivitas menimba Laor ini diiringi dengan lantunan sastra lisan Kayo Batu secara khusus, yang dipercaya menjadi bagian penting agar cacing-cacing laut tersebut muncul.

“Tradisi Naita ini juga turut diikuti oleh kerabat kita dari Kampung Kayu Pulo, serta Kampung Adat lain yang berada di sekitar Teluk Himbodt,” jelasnya.

Sebelum kegiatan timba Laor dilakukan, Alex Pui menjelaskan bahwa serangkaian prosesi adat dan persiapan harus dilaksanakan. “Sebelum dilakukan timbah Laor, terlebih dulu dilakukan prosesi adat, ada persiapan-persiapan yang akan dilakukan sebelum kita masuk ke hari kita ambil Naita,” ujar Alex.

Cacing laut yang berhasil dikumpulkan, atau Laor, memiliki nilai konsumsi bagi masyarakat setempat. Laor biasanya dicampur dengan sagu dan kelapa sebelum diolah dan dikonsumsi oleh masyarakat Kampung Kayo Batu.

Dirinya menambahkan, pihak Kampung Kayo Batu juga berencana mendistribusikan tulisan mengenai Naita atau timba Laor, agar masyarakat Kota Jayapura dan Papua secara luas dapat mengetahui dan memahami budaya unik ini. “Kita akan tuangkan tradisi ini dalam bentuk tulisan, dan akan disebarluaskan agar masyarakat kota Jayapura dan Papua tahu apa itu Naita,” tutup Alex.

Prosesi dan Makna Tradisi Naita

Tradisi Naita tidak hanya sekadar aktivitas pengumpulan cacing laut, tetapi juga memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Masyarakat Kampung Kayo Batu percaya bahwa prosesi ini merupakan cara untuk menjaga keseimbangan alam dan memohon berkah dari leluhur. Dalam prosesnya, setiap langkah diatur dengan aturan yang sudah ditetapkan secara turun-temurun.

  • Prosesi dimulai dengan doa dan upacara adat yang dipimpin oleh para tokoh masyarakat.
  • Para peserta berkumpul di tepi pantai dan melakukan ritual tertentu sebelum turun ke laut.
  • Saat menimba Laor, suara sastra lisan digunakan sebagai pengiring untuk membangkitkan energi positif.
  • Hasil penangkapan Laor kemudian dibawa kembali ke kampung dan diproses sesuai dengan resep tradisional.

Peran Naita dalam Kehidupan Masyarakat

Naita bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Kampung Kayo Batu. Dalam kehidupan sehari-hari, Laor digunakan sebagai bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan antaranggota masyarakat dan menjaga kebersamaan.

  • Laor sering dikonsumsi dalam bentuk campuran sagu dan kelapa.
  • Makanan ini memiliki rasa khas dan menjadi hidangan istimewa dalam acara adat.
  • Naita juga menjadi ajang untuk menunjukkan kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat.

Upaya Melestarikan Budaya Naita

Alex Pui menyatakan bahwa pihak kampung berkomitmen untuk melestarikan tradisi Naita. Salah satu caranya adalah dengan menyebarluaskan informasi tentang Naita melalui berbagai media. Dengan demikian, generasi muda dan masyarakat luas dapat lebih memahami dan menghargai budaya yang telah ada sejak lama.

  • Penyusunan artikel dan video dokumentasi tentang Naita.
  • Kolaborasi dengan institusi pendidikan dan organisasi budaya.
  • Pameran budaya dan festival yang melibatkan masyarakat luas.

Dengan upaya ini, diharapkan Naita tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bisa menjadi bagian dari kehidupan modern yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *