Daerah  

Mantan Menlu: Invasi Venezuela, AS Gunakan ‘Hukum Rimba’, Dunia Menuju Krisis Berbahaya


Kritik Terhadap Aksi Militer AS ke Venezuela

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan yang dilakukan Presiden Donald Trump dalam penyerangan militer langsung ke Venezuela. Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk invasi yang melanggar prinsip hukum internasional.

Dino menilai bahwa tindakan AS dianggap sebagai praktik hukum rimba, karena tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku secara global. Ia menyebut penangkapan atau penculikan Presiden Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat sebagai tindakan yang tidak sah dan merugikan negara berdaulat.

“Invansi militer dan penangkapan/penculikan Presiden Venezuela Maduro oleh AS menandakan bahwa hukum rimba telah menggantikan hukum internasional,” ujar Dino dalam pernyataannya.

Menurut Dino, tindakan AS ini mencerminkan adanya ‘premanisme’ global yang jauh dari nilai-nilai peradaban modern. Negara-negara kuat sering kali merasa memiliki hak untuk bertindak sesuka hati terhadap negara lain tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi.

Tindakan-tindakan seperti ini, menurut Dino, menunjukkan adanya transisi global menuju situasi yang sangat berbahaya. “Ini pertanda kita memasuki dunia yang penuh ancaman,” katanya.

Pendiri sekaligus Ketua Foreign Policy Community of Indonesia itu juga mempertanyakan respons komunitas internasional terhadap tindakan AS yang dianggap tidak bertanggung jawab. Ia menilai, diperlukan upaya bersama untuk mencegah krisis keamanan global yang semakin mengancam.

Dino menyampaikan keraguan terhadap alasan-alasan yang disampaikan oleh Presiden Trump, termasuk dalih demokrasi dan pemberantasan narkotika. Ia percaya bahwa tujuan utama dari penyerangan militer ke Venezuela adalah untuk menguasai sumber daya energi yang dimiliki negara tersebut.

Ia merujuk pada penjelasan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tank terkemuka di AS. CSIS menyebutkan bahwa Trump mengungkapkan tujuan nyata dari operasi militer tersebut, yaitu fokus pada sektor minyak Venezuela.

“Menurut CSIS di DC, Trump menyatakan bahwa AS akan ikut membangun Venezuela dengan fokus pada sektor minyak,” ujar Dino.

Menurut Dino, motivasi utama dari operasi perubahan rezim terhadap Presiden Maduro adalah keamanan energi AS, bukan faktor-faktor seperti demokrasi atau narkoba.

Pada hari Sabtu (3/1/2026), militer AS melakukan serangan besar-besaran ke beberapa wilayah di Venezuela, termasuk ibu kota Caracas. Serangan ini dilakukan melalui udara menggunakan helikopter serbu dan jet tempur. Setelah serangan, militer AS menculik Presiden Maduro beserta istrinya, Cilla Flores.

Maduro dan keluarganya dibawa ke kapal perang Iwo Jima dalam kondisi mata tertutup. Selanjutnya, ia dibawa ke Amerika Serikat dan akan diadili di Pengadilan Distrik Selatan New York.

Presiden Trump dalam pernyataannya menyatakan bahwa Maduro akan didakwa atas berbagai tuduhan. Mulai dari tuduhan narkoterorisme, penyelundupan narkotika ke AS, penggunaan senjata berat dan alat peledak dalam menjalankan narkoterorisme, serta manipulasi pemilihan umum Venezuela pada tahun 2024.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *