Kelangkaan Solar Mengganggu Jadwal Operasional Bus Damri di Bengkulu
Kondisi jadwal operasional bus Damri di Bengkulu dalam dua bulan terakhir mengalami gangguan yang cukup serius. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan benda cair berupa Solar yang harganya sekitar Rp 6.800 per liter. Akibatnya, para pengguna transportasi umum mengalami ketidakpastian dalam menentukan waktu keberangkatan.
Kelangkaan Solar membuat armada bus harus antre selama 24 jam di SPBU untuk mendapatkan bahan bakar. Kondisi ini memengaruhi jadwal keberangkatan penumpang secara keseluruhan. Staf Usaha Damri Bengkulu, Farida Oksita, menjelaskan bahwa para sopir harus menunggu sangat lama di SPBU untuk bisa mendapatkan biosolar.
“Para sopir harus antre di SPBU untuk mendapatkan bio solar hingga 24 jam. Kondisi ini mempengaruhi jadwal keberangkatan penumpang,” ujar Farida. Ia menambahkan bahwa setiap bus yang baru tiba dari perjalanan harus mengisi Solar sebelum menjalani pemeriksaan atau servis ringan. Namun, lamanya antrean membuat jadwal keberangkatan menjadi tidak pasti.
Farida juga menyampaikan bahwa banyak armada yang sudah mengantre berjam-jam tetapi masih gagal mendapatkan Solar karena stok habis. Dalam situasi seperti ini, Damri terpaksa membeli Solar eceran agar armada tetap bisa beroperasi. Sayangnya, harga Solar eceran jauh lebih mahal dibandingkan harga subsidi, sehingga memberatkan biaya operasional.
“Beli di eceran harga naik bisa sampai Rp 12 ribu per liter itu pun kalau di eceran tersedia. Kalau tidak bus tidak bisa berangkat. Akibat membeli solar di eceran menyebabkan biaya operasional makin membengkak,” tambahnya.
Saat ini, Damri Bengkulu melayani lima trayek dengan tujuh armada, yaitu:
* Bengkulu-Bintuhan-Ulu Manna
* Bengkulu-Lebong via Arga Makmur
* Curup-Lebong
* Rute di Pulau Enggano
* Rute lainnya yang belum sepenuhnya dijelaskan
Antrean kendaraan yang membutuhkan Solar masih terlihat mengular di sejumlah SPBU di Bengkulu. Salah satu sopir truk, Romi, mengatakan bahwa ia telah menunggu hampir 24 jam untuk mendapatkan Solar.
Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyatakan telah melakukan optimasi penyaluran biosolar, khususnya di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menjelaskan bahwa kepadatan di SPBU dipicu meningkatnya konsumsi Solar di wilayah tersebut.
“Sebagai langkah antisipasi, kami melakukan penambahan penyaluran Biosolar di SPBU 21.391.11 menjadi 16 KL per hari agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik,” ujar Rusminto.
Selain menambah pasokan, Pertamina juga melakukan evaluasi distribusi sesuai Surat Edaran Gubernur Bengkulu Nomor B.500.10/558/ESDM/2025 serta memperketat pengawasan penyaluran Solar subsidi melalui sistem QR Code Subsidi Tepat dan pemantauan nomor polisi kendaraan. Kendaraan yang terindikasi melakukan penyalahgunaan atau pelangsiran akan masuk daftar hitam (black list) sehingga tidak dapat lagi membeli Solar subsidi.
Dengan adanya upaya-upaya ini, diharapkan kondisi kelangkaan Solar di Bengkulu dapat segera teratasi, sehingga jadwal operasional bus Damri kembali stabil dan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.












