Perjalanan Global Sumud Flotilla: Harapan yang Tak Pernah Padam
Ombak di Laut Tengah berkilauan, memantulkan harapan. Dari kejauhan, bendera berwarna-warni di atas dek kapal armada kemanusiaan berkibar, membawa pesan yang ingin menembus blokade Gaza. Namun, harapan semacam itu bukanlah kisah baru. Sejak 2008, berbagai armada internasional mencoba berlayar menuju Gaza. Sebagian berhasil, banyak yang gagal. Dan pada Kamis, 2 Oktober 2025, kisah Global Sumud Flotilla (GSF) kembali masuk dalam daftar panjang upaya yang terhenti di tengah laut, setelah dicegat oleh angkatan laut ‘Israel’.
Upaya menembus blokade Gaza lewat jalur laut sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Pada 2008, sebuah kapal berhasil merapat ke Gaza. Namun sejak itu, setiap misi serupa menghadapi pencegatan. Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada 2010, ketika kapal Mavi Marmara milik Turki diserbu pasukan komando ‘Israel’ di perairan internasional, sekitar 130 km dari pantai. Pasukan menyatakan mereka diserang lebih dulu, lalu menembakkan peluru tajam yang menewaskan 10 aktivis Turki. Peristiwa ini menorehkan luka diplomatik besar antara Turki dan ‘Israel’.
Gagasan Global Sumud Flotilla sendiri lahir pada pertengahan Juli 2025. Saat itu, tiga kapal dalam Freedom Flotilla Coalition—Conscience, Madleen, dan Handala—telah mencoba menembus blokade antara Mei hingga Juli.
- Conscience diserang drone di lepas pantai Malta pada Mei. Pemerintah Malta membenarkan adanya kebakaran di kapal tersebut, meski berhasil dipadamkan.
- Madleen berlayar pada Juni membawa 12 orang, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg. Kehadirannya menjadi sorotan internasional, meski Kementerian Luar Negeri ‘Israel’ menyebut kapal itu hanya “kapal pesiar swafoto” dengan bantuan minim.
- Kapal dicegat dan dialihkan ke pelabuhan Ashdod, lalu penumpangnya—termasuk Thunberg—dideportasi.
Handala berangkat pada Juli dengan 21 orang di dalamnya. Kapal itu juga dicegat sekitar 75 km dari Gaza. Penumpang mengaku masih berada di perairan internasional, tapi ‘Israel’ berdalih mereka mencoba masuk “secara ilegal” ke zona maritim Gaza.
Sumud di Darat: Jalur Lain, Risiko yang Sama
Upaya menyalurkan bantuan ke Gaza tak hanya lewat laut. Beberapa bulan sebelum armada ini berangkat, inisiatif Sumud di darat mencoba menembus perbatasan Rafah dan titik lintas lain dengan membawa suplai logistik. Relawan dari berbagai negara berkumpul di Mesir, berharap bisa mengirimkan obat-obatan, makanan, dan bantuan kemanusiaan langsung ke wilayah yang terkepung. Namun jalur darat pun bukan tanpa halangan. Izin yang rumit, pemeriksaan berlapis, hingga ancaman serangan membuat konvoi sering kali tertahan di perbatasan berhari-hari.
Meski banyak yang tak berhasil masuk penuh ke Gaza, aksi Sumud lewat darat itu menjadi bukti bahwa solidaritas lintas batas tidak mengenal lelah. Jika jalur laut diadang kapal perang, jalur darat pun tetap dijalani meski penuh penghalang.
Serangan, Ancaman, dan Tekad
Armada Global Sumud Flotilla yang berlayar dari Barcelona pada 31 Agustus lalu pun tak luput dari hambatan. Menurut GSF, kapal mereka diserang di pelabuhan Tunisia.
Abdel Rahman Ghazal, relawan asal Kuwait di atas kapal Spectre, menceritakan kepada BBC betapa dekatnya ia dengan maut. “Kami terkena tiga bom. Bom ketiga jatuh di tepi atas kapal lalu jatuh ke laut. Saya berada di koridor antara tempat bom menghantam tepi dan air. Ada gas sangat bau. Saya hampir tidak bisa bernapas selama beberapa menit,” ujarnya.
Sejak itu, protokol keselamatan diperketat. Relawan tak lagi tidur di area terbuka dan selalu mengenakan rompi pelampung bahkan saat beristirahat.
GSF menggelar konferensi pers pada Kamis, 2 Oktober 2025, menyebut mereka mendapat “informasi intelijen kredibel” bahwa ‘Israel’ akan berusaha menghentikan armada dalam 48 jam. Para peserta diancam dengan tuntutan hukum berdasarkan undang-undang antiterorisme dan ancaman hukuman penjara panjang. Namun ancaman itu tak mematahkan tekad mereka.
“Kami menyadari risiko serangan semacam ini, jadi itu bukan sesuatu yang akan menghentikan kami,” kata Greta Thunberg dalam siaran langsung bersama Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina. “Kami sangat, sangat bertekad untuk melanjutkan misi kami.”
Figur Internasional di Atas Kapal
Armada ini bukan sekadar kumpulan aktivis biasa. Dari cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, hingga aktris Amerika Susan Sarandon dan aktris Prancis Adèle Haenel, banyak tokoh dunia ikut berlayar. Politisi Eropa seperti Emma Fourreau (La France Insoumise) dan mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau pun turut serta.
Bagi mereka, setiap kapal bukan hanya sarana transportasi, melainkan pernyataan politik. “Setiap kapal mewakili sebuah komunitas dan penolakan untuk tetap diam dalam menghadapi genosida,” ujar perwakilan GSF.
Kini, di tahun 2025, skenario yang sama kembali terulang. Kapal yang membawa harapan dan sorotan dunia internasional sekali lagi dihentikan. Tetapi di balik setiap kegagalan menembus blokade Gaza, ada pesan lain yang justru semakin lantang: dunia masih memperhatikan, dan suara solidaritas belum padam — baik lewat laut maupun darat.


