Sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) yang berada di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pertumbuhan sebesar 6,7 persen secara tahunan pada kuartal II-2025. Angka ini menunjukkan bahwa sektor ini menjadi salah satu penopang utama industri pengolahan nonmigas di Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan peran strategis dari industri pengolahan nonmigas dalam menjaga stabilitas ekspor dan memperkuat struktur ekonomi nasional. Ia mengatakan bahwa hasil ini menunjukkan bahwa sektor ini memiliki peran penting dalam menjaga kinerja ekspor sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional.
Selama bulan Agustus 2025, ekspor dari industri pengolahan nonmigas meningkat sebesar 7,91 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Secara kumulatif, dari Januari hingga Agustus 2025, nilai ekspor sektor ini mencapai 104,43 miliar dolar AS atau setara Rp1.679 triliun (kurs Rp16.080 per dolar AS). Dengan kontribusi sebesar 71,32 persen terhadap total ekspor nasional, sektor IKFT menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Sri Bimo Pratomo, menilai bahwa capaian ini merupakan hasil dari penguatan struktur industri dalam negeri, peningkatan ekspor, serta konsistensi kebijakan pemerintah. Ia menambahkan bahwa sektor IKFT telah berkontribusi sebesar 3,82 persen terhadap PDB nasional, menunjukkan peran penting sektor ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Kinerja sektor IKFT didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh pesat. Industri bahan galian nonlogam mencatat kenaikan tertinggi sebesar 10,07 persen pada kuartal II-2025, berbalik dari penurunan 1,68 persen pada triwulan sebelumnya. Subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga melonjak sebesar 9,39 persen, lebih tinggi dibanding 3,68 persen pada kuartal I-2025 dan 4,47 persen di kuartal IV-2024. Industri kulit, barang kulit, dan alas kaki turut mencatat pertumbuhan kuat sebesar 8,31 persen.
Ekspor produk unggulan juga turut menopang pertumbuhan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki (HS 64) pada JanuariโAgustus 2025 mencapai 5,16 miliar dolar AS atau Rp83 triliun, naik sebesar 11,89 persen dari tahun lalu sebesar 4,61 miliar dolar AS. Ekspor tekstil dan produk tekstil (HS 50โ63) juga naik tipis sebesar 0,24 persen menjadi 8,01 miliar dolar AS.
Secara total, ekspor gabungan alas kaki dan TPT mencapai 13,17 miliar dolar AS, meningkat sebesar 4,51 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 12,59 miliar dolar AS. Produk kimia (HS 38) juga memberi kontribusi besar dengan nilai ekspor sebesar 6,12 miliar dolar AS.
Kinerja positif ini sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode September 2025 yang menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi dengan nilai 53,02 poin. Selama tiga bulan terakhir, seluruh subsektor IKFT konsisten mencatat pertumbuhan positif.
Kemenperin terus memperkuat daya saing industri nasional melalui berbagai kebijakan strategis. Untuk sektor IKFT, langkah yang ditempuh mencakup peningkatan ekspor, pengamanan pasokan bahan baku dan energi industri dalam negeri, serta optimalisasi kapasitas produksi. Menurut Bimo, kebijakan hilirisasi di sektor kimia berbasis minyak dan gas serta bahan galian bukan logam tetap menjadi fokus. Penguatan basis ekspor pada komoditas unggulan seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki juga terus digencarkan. โTindakan strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,โ kata Bimo.
