Bukan Rp700 Ribu/Kg, Buruh Kupas Bawang di Pasar Legi Solo Dapat Rp30 Ribu/Hari, Bisa 60 Kg Sehari


Kehidupan Buruh Pengupas Bawang di Pasar Legi, Kota Solo

Di tengah keramaian Pasar Legi, Kota Solo, Gini (53 tahun) menjalani pekerjaannya setiap hari. Sebagai buruh pengupas bawang, ia mencari nafkah dengan mengupas bawang dari pagi hingga sore hari. Namun, upah yang diterimanya jauh berbeda dari klaim yang pernah disampaikan oleh seorang tokoh politik dalam pidatonya.

Setiap hari, Gini datang ke pasar dan memilih karung bawang yang tersedia untuk dikupas. Ia tidak memiliki majikan tetap atau jadwal kerja yang pasti. Pekerjaan ini dilakukannya atas inisiatif sendiri, dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berdasarkan pengalamannya, Gini menerima upah sebesar Rp10 ribu per karung. Satu karung bawang biasanya berisi sekitar 20 kilogram. Dengan demikian, meski harus menangani bawang dalam jumlah besar, upah yang diterimanya tetap sama. Dalam sehari, ia hanya mampu menyelesaikan sekitar tiga karung, sehingga penghasilannya mencapai Rp30 ribu.

Berbeda dengan sistem pengupahan yang disebutkan dalam pidato seorang tokoh politik, Gini menyatakan bahwa para buruh pengupas bawang di Pasar Legi dibayar berdasarkan jumlah karung yang diselesaikan, bukan berdasarkan berat bawang dalam kilogram. Ia juga mengaku tidak mengetahui apakah pengupas bawang merah menerima bayaran dengan sistem yang sama.

Kisah Gini menjadi contoh nyata tentang kondisi buruh informal yang bekerja di pasar. Baginya, pekerjaan ini adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan karena usia yang semakin tua dan keterbatasan pilihan pekerjaan lainnya. “Saya sudah tua. Mau kerja apa,” ujarnya singkat.

Perbedaan Pemahaman antara Pernyataan Politik dan Realitas Lapangan

Pernyataan seorang tokoh politik dalam pidatonya menyebutkan bahwa seorang buruh pengupas bawang menerima upah sebesar Rp700.000 per kilogram. Namun, realitas yang dialami oleh Gini jauh berbeda. Upah yang diterimanya hanya Rp10 ribu per karung, dengan satu karung berisi sekitar 20 kilogram bawang. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara informasi yang disampaikan dalam pidato dengan kondisi nyata di lapangan.

Gini mengaku terkejut ketika mendengar angka tersebut. Menurutnya, angka itu tidak mencerminkan situasi yang ia alami bersama para buruh pengupas bawang di Pasar Legi. Ia menyatakan bahwa tarif pengupasan bawang di lokasi tersebut relatif sama bagi semua buruh. “Semua pengupas bawang di sini harganya sama Rp10 ribu per karung,” ujarnya.

Tantangan dan Kehidupan Sehari-hari

Selama sekitar tiga tahun, Gini telah menjalani pekerjaan ini. Meskipun tidak menjanjikan pendapatan besar, pekerjaan ini tetap menjadi sumber penghasilan yang ia andalkan. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk bekerja lebih banyak karena kemampuan fisiknya juga terbatas.

Di balik aktivitas perdagangan yang ramai di Pasar Legi, terdapat buruh-buruh seperti Gini yang bekerja sejak pagi hingga sore hari. Mereka bekerja tanpa ada jaminan penghasilan tetap, hanya mengandalkan kesempatan yang ada di pasar.

Bagi Gini, Rp30 ribu sehari bukanlah jumlah yang besar. Namun, pekerjaan ini tetap dijalani karena hanya itu yang menurutnya masih bisa dilakukan. “Saya sudah tua. Mau kerja apa,” ucapnya singkat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *