Daerah  

Anak DBD Tidak Hanya Gangguhi Kesehatan, Tapi Juga Dampak Sosial dan Ekonomi


Dampak DBD pada Anak: Tidak Hanya Masalah Kesehatan, Tapi Juga Sosial dan Ekonomi

Demam berdarah dengue (DBD) bukan hanya masalah kesehatan yang mengancam anak-anak. Penyakit ini juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi keluarga. Ketika anak terinfeksi dengue, orang tua sering kali harus meninggalkan pekerjaan mereka untuk mendampingi anak selama masa perawatan. Hal ini menyebabkan penurunan produktivitas dan pengurangan pendapatan.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Tersembunyi

Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa DBD tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan anak, tetapi juga berdampak pada keseluruhan keluarga. Saat anak harus dirawat di rumah sakit, orang tua biasanya perlu hadir untuk mendampingi, sehingga waktu kerja mereka terganggu. Hal ini dapat mengurangi pendapatan keluarga dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Selain itu, jika orang tua sendiri terkena dengue, anggota keluarga lain harus mengambil alih tugas merawat. Hal ini bisa memicu beban tambahan dalam keluarga, baik secara emosional maupun finansial. Biaya pengobatan adalah salah satu aspek yang terlihat jelas, namun ada beban lain yang sering kali tidak terlihat, seperti hilangnya produktivitas akibat waktu yang digunakan untuk merawat pasien.

Proses Pemulihan yang Memakan Waktu

Pemulihan dari infeksi dengue membutuhkan waktu yang cukup lama. Prof. Sri menjelaskan bahwa rata-rata pemulihan memakan waktu antara 1 hingga 2 minggu. Selama periode ini, anak dan orang tua mungkin harus mengurangi aktivitas sehari-hari, termasuk sekolah atau pekerjaan.

Pentingnya Pencegahan Secara Menyeluruh

Menurut Prof. Sri, pencegahan dengue tidak cukup hanya dilakukan melalui gerakan 3M Plus. Ia menyarankan agar upaya pencegahan diperkuat dengan deteksi dini, pengendalian vektor, serta langkah-langkah perlindungan lainnya. Dengan pencegahan yang lebih komprehensif, risiko anak terkena dengue dapat diminimalkan.

Studi dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, FK-KMK UGM, menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai USD550,9 juta atau sekitar Rp9 triliun. Beban tidak langsung, seperti kehilangan produktivitas, menjadi salah satu komponen besar dari beban tersebut.

Untuk kelompok pasien yang dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kerugian akibat hilangnya waktu produktif masyarakat karena sakit mencapai USD115 juta atau sekitar Rp1,81 triliun. Sementara itu, pada kelompok pasien non-JKN, kerugian produktivitas tercatat sebesar USD47,8 juta atau sekitar Rp755,2 miliar.

Investasi pada Pencegahan Berdampak Positif

Prof. Dr. Jarir At Thobari, Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapi, FK-KMK UGM, menjelaskan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan keprihatinan atas besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh dengue di Indonesia. Ia menekankan bahwa semua orang berisiko terkena virus dengue, dan dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa berkembang menjadi kondisi berat yang berisiko fatal.

Peran Dokter Anak dalam Edukasi dan Deteksi Dini

Ketua IDAI Jaya, Prof. Rismala Dewi, menegaskan bahwa pihaknya mendukung upaya pencegahan dengue yang lebih menyeluruh. Ia menyarankan agar peran dokter anak diperkuat dalam edukasi, deteksi dini, dan pendampingan keluarga. Dengan edukasi yang tepat, orang tua dapat memahami langkah-langkah perlindungan untuk mengurangi risiko dan dampak dengue pada anak.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *