Daerah  

Kemarau panjang bikin buah sawit petani Pasangkayu berkurang, tandan makin ringan


Ringkasan Berita:

  • Kemarau panjang mulai menurunkan produktivitas sawit petani di Desa Randomayang, Pasangkayu. Jumlah buah berkurang dan tandan sawit menjadi lebih ringan.
  • Hasil panen petani turun cukup signifikan. Dari biasanya mencapai lebih dari 1 ton per hektare, kini hasil panen tidak lagi mencapai 1 ton akibat minimnya curah hujan.
  • Petani berharap hujan segera turun agar tanaman sawit kembali produktif. Saat ini harga sawit di tingkat pengecer berada di kisaran Rp2.680 per kilogram.

   

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Musim kemarau panjang mulai berdampak pada produktivitas perkebunan kelapa sawit milik petani di Desa Randomayang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Sejumlah petani mengeluhkan produksi buah sawit yang mulai menurun. 

Selain jumlah buah yang berkurang, tandan buah sawit yang dipanen juga disebut semakin ringan dibandingkan kondisi normal.

Keluhan tersebut dirasakan petani seiring kondisi cuaca yang masih didominasi panas dan minim hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Salah seorang petani sawit di Desa Randomayang, Aswat mengatakan, kondisi tersebut cukup memengaruhi hasil panen kebunnya.

Saat ditemui di kebunnya, Sabtu (5/9/2026), ia mengatakan tanaman kelapa sawit membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh dan menghasilkan buah secara optimal.

Menurutnya, ketika kondisi tanah mulai kering akibat kemarau, tanaman sawit ikut mengalami dampak.

“Kalau kering begini, buah mulai berkurang. Tandan juga terasa lebih ringan dibanding biasanya,” kata Aswat.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat hasil yang diperoleh dari setiap kali panen menjadi lebih sedikit.

Padahal, bagi petani, produksi buah sawit sangat menentukan pendapatan karena hasil panen menjadi sumber penghasilan utama.

“Kelihatan sekali bedanya. Kalau air cukup, buah lebih banyak dan tandannya lebih berat. Sekarang karena lama tidak hujan, hasilnya mulai turun,” ujarnya.

Biasanya, dalam satu hektare lahan sawit yang ia panen mencapai 1 ton lebih, kini tidak lagi sampai satu ton.

Selain jumlah buah yang menurun, petani juga harus menghadapi kondisi tanaman yang membutuhkan waktu untuk kembali produktif apabila curah hujan kembali normal.

Menurutnya, dampak kemarau tidak hanya dirasakan dalam satu kali panen, tetapi bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan buah sawit berikutnya.

“Kita berharap hujan segera turun. Kalau terus kering, tentu produksi semakin berkurang,” katanya.

Di tengah penurunan produksi tersebut, harga buah sawit di tingkat pengecer saat ini berada di kisaran Rp2.680 per kilogram.

Harga tersebut menjadi salah satu harapan bagi petani untuk tetap memperoleh pendapatan, meskipun jumlah buah yang dipanen mengalami penurunan.

Namun, kenaikan atau bertahannya harga belum tentu mampu menutup penurunan produksi apabila jumlah tandan yang dihasilkan kebun terus berkurang.

Petani berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga tanaman sawit kembali mendapatkan pasokan air yang cukup.

Mereka juga berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi perkebunan masyarakat yang terdampak kemarau, terutama jika musim kering berlangsung lebih lama.

“Yang penting sekarang hujan turun. Sawit ini memang butuh banyak air. Kalau terlalu lama kering, buahnya pasti berkurang,” pungkasnya.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *