Ringkasan Berita:
- Komunitas Papua Berbagi menyelenggarakan Kelas Kepenulisan Monolog bagi pelajar SMA di Sorong.
- Penulis dan sutradara Nurul Inayah hadir sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut.
- Peserta mempelajari teknik penulisan naskah, pengembangan karakter, hingga teknik pertunjukan panggung.
- Karya para peserta akan dipresentasikan dalam acara Panggung Karya pada 6 September 2026.
, SORONG –Komunitas Papua Berbagi melanjutkan rangkaian program Suara Muda dari Timur melalui Kelas Kepenulisan Monolog yang diikuti pelajar SMA dari Kabupaten Sorong dan Kota Sorong, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan penulis sekaligus sutradara Kala Teater, Nurul Inayah, sebagai pemateri.
Para peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar penulisan monolog serta teknik menyampaikan gagasan melalui karakter, dialog, ekspresi, dan penghayatan.
Nurul menjelaskan, monolog bukan sekadar pertunjukan seorang diri di atas panggung.
Sebuah monolog harus memiliki gagasan, karakter, konflik, cerita, serta pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
“Monolog bukan hanya berbicara seorang diri di atas panggung. Di dalamnya harus ada karakter, cerita, konflik, dan pesan yang ingin kita sampaikan kepada penonton,” kata Nurul.
Menurutnya, proses menulis monolog dapat dimulai dengan menentukan tema dan gagasan utama. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita dengan menghadirkan tokoh, latar belakang, persoalan, serta perjalanan emosi.
Pengalaman pribadi maupun berbagai peristiwa di sekitar juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam menyusun naskah monolog.
“Cerita bisa berangkat dari pengalaman kita sendiri, kehidupan di sekolah, keluarga, pertemanan, atau persoalan yang kita lihat di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Nurul mengajak para peserta lebih peka terhadap berbagai peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, sesuatu yang terlihat biasa dapat menjadi cerita menarik apabila ditulis dengan sudut pandang yang kuat.
Ia juga menekankan pentingnya memahami karakter sebelum menyusun dialog.
Penulis harus mengetahui latar belakang tokoh, keinginan, perasaan, serta persoalan yang dihadapinya agar karakter yang dibangun terasa hidup.
“Ketika kita menulis karakter, kita harus mengenal siapa dia, apa yang dia inginkan, masalah apa yang sedang dia hadapi, dan pesan apa yang ingin disampaikan melalui karakter tersebut,” katanya.
Selain penulisan naskah, peserta juga mendapatkan materi mengenai teknik membawakan monolog di atas panggung.
Mereka diperkenalkan dengan penggunaan intonasi, tempo berbicara, jeda, ekspresi wajah, gerak tubuh, hingga penghayatan karakter.
Nurul mengatakan, kemampuan menulis dan tampil merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pertunjukan monolog.
“Pemain tidak cukup hanya menghafal naskah. Ia harus memahami setiap kalimat dan menghayati karakter agar cerita bisa dirasakan oleh penonton,” ucapnya.
Ia menjelaskan, penggunaan intonasi dan ekspresi harus disesuaikan dengan emosi karakter. Dengan begitu, dialog yang disampaikan tidak terdengar seperti sekadar membaca teks, tetapi mampu membangun suasana dan menyampaikan pesan kepada penonton.
Para peserta juga didorong untuk berani menuangkan pikiran, pengalaman, keresahan, dan harapan mereka ke dalam karya.
Nurul mengingatkan pelajar agar tidak takut memulai proses menulis, meskipun belum memiliki pengalaman di dunia teater.
“Tidak perlu takut untuk mulai menulis. Tuliskan dahulu apa yang ingin disampaikan, kemudian naskah itu dapat dibaca kembali, diperbaiki, dan dikembangkan,” jelasnya.
Kelas tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai teknik penulisan, tetapi juga membuka ruang bagi pelajar untuk mengenal dunia monolog dan teater secara lebih dekat.
Melalui monolog, peserta dapat mengasah kemampuan menulis sekaligus berbicara dan berekspresi di hadapan publik.
Proses tersebut juga dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri karena pemain dituntut menguasai naskah, memahami karakter, dan membawakan keseluruhan cerita seorang diri di atas panggung.
“Monolog dapat menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Mereka bisa berbicara mengenai kehidupan, lingkungan, kebudayaan, maupun harapan mereka,” kata Nurul.
Kelas Kepenulisan Monolog merupakan bagian dari program Suara Muda dari Timur: Kelas Kepenulisan, Panggung Karya, dan Antologi Remaja.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengenal berbagai bentuk karya sastra dan seni pertunjukan, mulai dari cerita pendek, puisi hingga monolog.
Peserta tidak hanya menjadi penikmat karya, tetapi juga didorong untuk menciptakan dan memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
Komunitas Papua Berbagi berharap pelajar tidak hanya mengenal puisi dan cerita pendek, tetapi juga memiliki kesempatan mempelajari monolog dan teater.
Seni pertunjukan diharapkan semakin berkembang di lingkungan sekolah sebagai ruang bagi siswa untuk belajar, berkarya, dan mengekspresikan diri.
Karya yang dihasilkan peserta selama rangkaian kelas kepenulisan akan menjadi bagian dari program Suara Muda dari Timur.
Karya tersebut selanjutnya dipresentasikan melalui Panggung Karya yang dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026.
Panggung Karya menjadi ruang bagi peserta untuk membacakan maupun mempertunjukkan hasil proses belajar mereka kepada publik.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap keberanian dan kreativitas pelajar yang mengikuti kelas cerita pendek, puisi, dan monolog.
Melalui rangkaian Suara Muda dari Timur, Komunitas Papua Berbagi berharap semakin banyak ruang kreatif tersedia bagi generasi muda di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong.
Program tersebut juga diharapkan mendorong pelajar untuk menyampaikan cerita, pandangan, keresahan, dan harapan mereka kepada masyarakat melalui karya sastra dan seni pertunjukan. (/ismail saleh)










