Pandangan TB Hasanuddin tentang Penangkapan Presiden Venezuela
Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menilai bahwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat mengandung pelajaran penting bagi Indonesia. Menurutnya, kejadian ini menjadi contoh dalam hal diplomasi, geopolitik, hingga ketahanan nasional. TB Hasanuddin menyebutkan tiga poin utama yang perlu menjadi panduan pemerintah dalam merespons situasi internasional ini.
Sikap Tegas terhadap Pelanggaran Kedaulatan
Pertama, TB Hasanuddin menekankan bahwa Indonesia harus bersikap tegas dalam menolak segala bentuk tindakan sewenang-wenang yang melanggar kedaulatan negara lain. Ia menegaskan bahwa dasar dari sikap Indonesia sudah sangat jelas dan tegas, yaitu mendukung kemerdekaan setiap bangsa serta menolak pelanggaran kedaulatan. Hal ini sejalan dengan amanat Konstitusi UUD 1945.
TB Hasanuddin menegaskan bahwa prinsip ini tidak hanya berlaku untuk negara-negara besar, tetapi juga untuk semua negara di dunia. Ia menilai bahwa kebebasan dan kedaulatan suatu negara adalah fondasi utama dari hubungan internasional yang sehat dan damai.
Peran Aktif di PBB
Kedua, TB Hasanuddin mendorong agar Indonesia aktif berperan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menilai bahwa PBB memiliki peran penting dalam menyelesaikan konflik melalui jalur hukum internasional dan mekanisme resmi lembaga dunia tersebut.
Menurutnya, Indonesia harus turut menjaga marwah PBB sebagai lembaga internasional yang mampu menyelesaikan konflik global secara beradab, adil, dan berbasis hukum. Ini merupakan wujud nyata dari politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia. TB Hasanuddin menilai bahwa partisipasi aktif Indonesia di PBB akan memperkuat posisi negara dalam menangani isu-isu global.
Potensi Dampak Ekonomi Global
Acuan ketiga yang disoroti oleh TB Hasanuddin adalah potensi dampak ekonomi global. Ia menilai bahwa Venezuela, sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, dapat menjadi pemicu gejolak geopolitik dan fluktuasi harga energi internasional.
TB Hasanuddin menyarankan agar pemerintah Indonesia mewaspadai ancaman lonjakan harga minyak dan menyiapkan skenario mitigasi guna menjaga kesehatan fiskal APBN serta stabilitas ekonomi nasional. Ia menekankan pentingnya persiapan yang matang dalam menghadapi perubahan pasar global yang bisa saja terjadi akibat konflik di Venezuela.
Ketahanan Negara dan Kesiapan Sistem Pertahanan
Selain itu, TB Hasanuddin menilai bahwa penangkapan seorang kepala negara di ibu kotanya sendiri tidak mungkin terjadi tanpa adanya masalah serius di dalam negeri. Ia menekankan bahwa kejadian ini menunjukkan adanya runtuhnya dukungan politik publik serta rendahnya kesiagaan pertahanan atau bahkan indikasi pembiaran dari unsur militer di negara tersebut.
Sebab itu, ia mengingatkan pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat kepercayaan publik, soliditas nasional, serta kesiapan sistem pertahanan negara. TB Hasanuddin menegaskan bahwa kedaulatan negara tidak hanya dijaga oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh legitimasi politik yang kuat di mata rakyatnya sendiri.
Kronologi Serangan Militer AS ke Venezuela
Serangan militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026 mengguncang ibu kota Caracas dan sejumlah wilayah strategis. Ledakan besar terdengar di Caracas, disertai pesawat tempur dan helikopter yang terbang rendah. Target utama serangan mencakup pangkalan militer Fort Tiuna, pangkalan udara La Carlota, serta pelabuhan dan bandara di La Guaira.
Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa pasukan gabungan berhasil menangkap Nicolás Maduro dan membawanya ke kapal USS Iwo Jima. Serangan ini menimbulkan kecaman internasional dan meningkatkan ketegangan geopolitik di Amerika Latin.
Alasan Serangan dan Risiko yang Muncul
Alasan yang diberikan oleh AS adalah dominasi energi dan komersial, serta konfrontasi panjang antara Washington dan pemerintahan Maduro yang selama bertahun-tahun menentang sanksi dan tekanan internasional. Isu legitimasi politik juga menjadi salah satu faktor, karena pemilu Venezuela di bawah Maduro dinilai tidak demokratis oleh banyak pihak internasional.
Risiko yang muncul dari penangkapan ini termasuk krisis politik global, geopolitik energi, serta ancaman perang regional. Venezuela memiliki cadangan minyak besar, sehingga serangan ini terkait perebutan sumber daya. Selain itu, potensi konsolidasi negara-negara Amerika Latin untuk menentang intervensi AS juga menjadi ancaman yang perlu diperhatikan.
