Pengalaman Tak Terduga Saat Banjir Bandang Aceh Tamiang
Hakim Qisthi Widyastuti menghadapi situasi yang tak terduga selama enam hari terjebak dalam banjir bandang di Aceh Tamiang. Dalam perjalanan hidupnya, ia harus bertahan hidup dengan logistik yang sangat minim dan berjuang melawan arus deras air. Namun, di tengah kesulitan itu, ia justru mendapatkan bantuan dari seseorang yang sebelumnya ia vonis bersalah dalam sebuah perkara pencurian.
Kisah ini menunjukkan bahwa situasi bencana bisa menghapus batas-batas sosial dan memperkuat rasa kemanusiaan. Qisthi, yang berusia 31 tahun, adalah hakim Pengadilan Negeri Kuala Simpang. Selama masa darurat, ia dan tiga rekan kerjanya mencoba menyelamatkan diri, tetapi langkah mereka terhambat oleh arus kuat yang menghalangi jalan menuju jembatan sekitar 800 meter dari kantor.
Pada saat kepanikan, mereka bertemu empat pria yang siap membantu. Salah satu dari mereka mengenakan pakaian warga binaan, yang kemudian dikenali oleh Qisthi sebagai terdakwa yang baru saja dihukum olehnya. Meskipun awalnya merasa was-was, tindakan spontanitas dari pria tersebut justru mengubah pandangan Qisthi tentang “keadilan”.
Pria itu dan tiga rekannya segera mencari perahu untuk menawarkan bantuan kepada sang hakim. Meski akhirnya Qisthi memutuskan tidak menggunakan perahu tersebut karena dibutuhkan untuk mengevakuasi anak-anak, tindakan ketulusan hati dari terdakwa tersebut menjadi momen penting dalam hidupnya.
Bertahan Hidup di Ruang Server BSI
Setelah ditolak di sebuah kafe dan tidak bisa masuk ke Masjid Raya karena banjir, Qisthi dan rombongan akhirnya mengungsi bersama 40 warga lainnya di lantai dua Bank Syariah Indonesia (BSI). Mereka harus berbagi ruang server yang ukurannya hanya dua kali satu setengah meter. Logistik sangat terbatas, sehingga Qisthi harus menyelamatkan laptopnya ke atas lemari dan membawa satu baju ke dalam ransel.
Di tempat pengungsian, pelajaran kemanusiaan muncul. Pada Jumat dan Sabtu, dengan stok makanan yang menipis dan bantuan pemerintah yang belum tiba, warga mengambil inisiatif ekstrem. Qisthi menyaksikan sendiri para bapak-bapak pengungsi terpaksa memasuki pusat perbelanjaan demi mendapatkan bahan makanan. Di tempat tersebut, mereka membawa beras, ikan, dan biskuit, serta membakar inventaris kantor yang sudah tidak terpakai untuk memasak. Prioritas utama adalah makanan bagi anak-anak dan ibu menyusui.
Trauma dan Kekesalan terhadap Respons Pemerintah
Perjuangan Qisthi berakhir pada Senin pagi, setelah enam hari bertahan hidup dengan logistik seadanya dan rasa gatal di sekujur tubuh karena membersihkan diri dengan air kolam ikan. Ia dan 11 rekan kerjanya berhasil dievakuasi melalui jalur laut menuju Pangkalan Susu.
Meski meninggalkan trauma hingga takut pada hujan deras, pengalaman di Aceh Tamiang, terutama momen bertemu terdakwa di tengah arus deras, menguatkan solidaritas dan kemanusiaan sejati yang muncul di tengah krisis. Qisthi mengungkapkan kekecewaannya karena respons pemerintah dalam bencana seluas itu sangat minim.
“Kalau diingat-ingat, gak nyangka bisa melewati itu semua. Dari Rabu sampai Senin itu tak ada bantuan pemerintah,” ucap Qisthi. “Yang saya lihat hanya ada satu kapal BPBD beroperasi di wilayah seluas itu. Jadi banyak warga di atas atap rumah dua hari baru dijemput kapal karena cuma satu.”
Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga tentang arti kemanusiaan dan keadilan yang sebenarnya, yang tidak bisa diukur hanya berdasarkan posisi atau status sosial.
