Pengalaman Aktivis Kemanusiaan Saat Kapal Global Sumud Flotilla Dibajak
Husein Gaza, seorang aktivis kemanusiaan, menceritakan pengalamannya saat kapal-kapal dari Global Sumud Flotilla (GSF) dibajak oleh militer Israel di perairan internasional. Ia menjelaskan bahwa rombongan tersebut terdiri dari 42 kapal yang berasal dari 47 negara. Pada tanggal 1 Oktober, kapal-kapal tersebut memasuki zona kuning di perairan internasional setelah melewati Tunisia, Spanyol, Italia, dan Yunani.
Menurut Husein Gaza, rombongan kemanusiaan itu akhirnya dibajak oleh Israel saat memasuki zona merah. Ia mengatakan bahwa pembajakan terjadi pada tanggal 2 Oktober, ketika kapal-kapal mereka dibajak secara ilegal. Peristiwa ini terjadi di perairan internasional, bukan di wilayah Israel atau Palestina, sehingga menurut Husein Gaza, tindakan Israel melanggar hukum internasional.
Detik-detik pembajakan dimulai pukul 20.00 WIB ketika kapal-kapal para aktivis dibajak. Pukul 21.00 WIB, tentara Israel naik ke kapal-kapal utama seperti Sirius, Karna, dan Alma. Seluruh armada Global Sumud Flotilla akhirnya dibajak, kecuali dua kapal observer, yaitu Shireen Abu Akleh dan Summertime Jong Melayu yang dinaiki Husein Gaza.
Kapal observer berfungsi untuk mengamati sekaligus mengamankan dokumen dan barang penting yang akan digunakan sebagai bukti di pengadilan internasional. Menurut Husein Gaza, strategi ini dianggap inovatif dan tidak pernah digunakan dalam misi-misi sebelumnya seperti Marmara, Medellin, atau Handala. Kapal-kapal ini dikondisikan agar Israel tidak mendapatkan semua barang bukti tersebut.
“Ini strategi menurut saya inovatif dan tidak ada pada misi-misi sebelumnya. Kapal ini memang dikondisikan agar Israel tidak mendapatkan semua barang bukti itu,” katanya. “Akhirnya kita amankan untuk kita gunakan di kemudian hari alat untuk menuntut Israel di pengadilan internasional,” tambahnya.
Husein Gaza menjelaskan bahwa dua kapal observer berhasil menuju Siprus. Mereka sempat berada selama satu hari sebelum diarahkan pemerintah setempat ke bandara untuk dipulangkan. Dirinya menegaskan bahwa para aktivis tidak diamankan secara resmi, melainkan diculik.
Sekitar 400 lebih aktivis dari berbagai negara ditahan oleh Israel. Sebagian sudah dibebaskan, termasuk aktivis dari parlemen Italia dan beberapa aktivis Eropa. Sementara mayoritas lainnya dibawa ke penjara di wilayah Negev, sekitar 30 km dari Mesir. Beberapa aktivis diperkirakan akan dideportasi ke Turki dan Malaysia, sementara sebagian lainnya kembali ke negara asal masing-masing.
