Kota Surabaya Catatkan Penurunan Angka Kemiskinan yang Signifikan
Kota Surabaya kembali menunjukkan prestasi luar biasa dalam upaya pengentasan kemiskinan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Surabaya pada Maret 2025 tercatat sebanyak 105.090 jiwa. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, yaitu sebanyak 116.620 jiwa.
Penurunan sebesar 11.530 jiwa tersebut menjadi catatan terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menjelaskan bahwa tren penurunan ini mencerminkan keberhasilan berbagai program dan kebijakan pemerintah dalam mengurangi tingkat kemiskinan.
“Sejak 2015 hingga 2025, angka kemiskinan di Surabaya menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada 2015, jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 165,72 ribu jiwa atau 5,82%, sedangkan pada 2025 turun menjadi 105,09 ribu jiwa atau 3,56%,” ujarnya.
Perbaikan Kualitas Hidup Penduduk Miskin
Selain penurunan jumlah penduduk miskin, kualitas hidup mereka juga mengalami perbaikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun dari 0,65 menjadi 0,41, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,16 menjadi 0,11.
“Rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan, dan kesenjangan antar penduduk miskin semakin menyempit,” jelas Arrief.
Garis Kemiskinan yang Berkembang
BPS juga mencatat bahwa garis kemiskinan di Surabaya pada Maret 2025 sebesar Rp775.597 per kapita per bulan. Angka ini naik 4,43% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan rata-rata 4,83 anggota dalam rumah tangga miskin, maka batas garis kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp3,74 juta per bulan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Angka Kemiskinan
Menurut Arrief, beberapa faktor yang memengaruhi penurunan angka kemiskinan di Surabaya antara lain inflasi yang terkendali sebesar 0,63% selama setahun terakhir serta intervensi pemerintah melalui berbagai bantuan dan perlindungan jaminan sosial.
“Program bantuan seperti BLT, BPNT, PKH, subsidi listrik, bantuan pendidikan, dan modal usaha memberikan dampak signifikan dalam mengurangi angka kemiskinan,” tambahnya.
Kombinasi Kebijakan yang Efektif
Arrief menegaskan bahwa kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terjaga, dan bantuan dari pemerintah telah membantu menurunkan jumlah penduduk miskin. Hal ini juga membuat Surabaya menjadi lebih inklusif.
“Upaya pembangunan dan intervensi sosial ekonomi tidak hanya menekan jumlah penduduk miskin, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka,” pungkasnya.
