Evaluasi Kondisi Bangunan Pondok Pesantren di Sidoarjo
Bupati Sidoarjo, Subandi, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kondisi 129 bangunan pondok pesantren yang berada di wilayah kerjanya. Langkah ini dilakukan setelah kejadian tragis ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny yang diduga disebabkan oleh kegagalan konstruksi.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga memutuskan untuk bekerja sama dengan para ahli dalam bidang keilmuan terkait, agar dapat memastikan seluruh bangunan ponpes dalam kondisi aman ditempati para santri. Hal ini menjadi langkah penting mengingat jumlah pondok pesantren yang cukup banyak di wilayah tersebut.
Tradisi Santri dalam Proses Pembangunan
Di sisi lain, sejumlah santri menyebut adanya tradisi tertentu yang dilakukan para santri untuk ikut membantu pengecoran dalam proses pembangunan pada bangunan pondok pesantren tersebut. Aktivitas ini disebut sebagai bentuk konsekuensi atau hukuman bagi para santri yang ketahuan bolos dan tidak mengikuti kegiatan di ponpes.
Subandi menyampaikan bahwa arahan dari Menteri Agama Nasaruddin Umar akan menjadi koreksi bagi pihaknya dalam lebih mengecek kembali semua pendidikan pondok pesantren yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan fokus terlebih dahulu menyelesaikan proses evakuasi terhadap para korban yang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan tersebut.
Setelah semuanya rampung, dirinya berjanji akan melakukan pengecekan ulang terhadap izin bangunan dan mencoba mengkaji ulang tradisi para santri yang turut serta dalam proses pembangunan di pondok pesantren.
Analisis Kegagalan Struktur Bangunan
Ahli Struktur Bangunan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Mudji Hermawan, menjelaskan bahwa bangunan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo yang ambruk telah mengalami kegagalan struktur secara total. Menurutnya, tingkat kerusakan yang terjadi merupakan kegagalan struktur, dan model kerusakannya sudah hancur semua baik kolom, balok, maupun plat.
Mudji menjelaskan, setidaknya ada empat lapisan dari konstruksi yang ambruk dan kemudian secara serta-merta membentuk tumpukan. Keadaan ini menyulitkan petugas untuk melakukan evakuasi terhadap korban yang terjebak di tengah-tengah reruntuhan.
“Ini ada empat lapis lantai yang ambruk, collapse, ini menyusahkan teman-teman Basarnas untuk melakukan untuk mengakses ke lokasi,” ucap Mudji.
Dampak Konstruksi Terhadap Bangunan Sekitar
Selain itu, Dosen Departemen Teknik Sipil ITS Surabaya ini juga menyebutkan bahwa konstruksi bangunan yang roboh tersebut juga terkoneksi dengan bangunan lain yang berdiri di sekelilingnya. Kondisi tersebut disebutnya makin memperparah risiko yang dihadapi petugas SAR yang terjun di lapangan.
“Jadi ada sebagian elemen-elemen struktur yang mencantol, berhubungan, join, connect, dengan beberapa gedung di sebelahnya,” ucapnya.
Saat ini, pihaknya tengah melakukan analisis lebih lanjut supaya bangunan sekitar yang terkoneksi dengan gedung ambruk tersebut tidak terdampak, ketika proses pengangkatan reruntuhan untuk mengevakuasi para korban yang masih tertimbun.
“Kita juga mengamankan bangunan-bangunan di samping, supaya tidak ikut ambruk, sehingga nantinya kita akan bertahan dan kemudian kita potong dengan maksimum 1 ton dengan alat tangkar, dan tidak boleh ditarik, sampai itu rilis, sampai itu bebas, baru bisa diangkat,” pungkas Mudji.


