Ringkasan Berita:
- Bakal calon Ketua Umum KONI Papua Barat Yosias Saroy berkomitmen membenahi seluruh cabang olahraga jika dipercaya memimpin periode 2026–2030.
- Ia menilai keterbatasan anggaran tidak boleh menghentikan pembinaan dan mendorong pencarian sumber dukungan alternatif untuk pengembangan olahraga.
- Yosias juga menekankan pembinaan sejak usia dini serta memprioritaskan atlet lokal, khususnya anak-anak asli Papua, agar siap bersaing di berbagai kejuaraan.
Laporan Jurnalis , Matius Pilamo Siep
, MANOKWARI –Bakal calon Ketua Umum (Caketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Barat, Yosias Saroy, berkomitmen membenahi seluruh cabang olahraga (cabor) apabila dipercaya memimpin KONI Papua Barat periode 2026–2030.
Komitmen tersebut disampaikan Yosias Saroy usai menerima rekomendasi dukungan dari Federasi Olahraga Kabaddi Indonesia (FOKSI) Papua Barat di Manokwari, Jumat (4/9/2026) malam.
Menurut Yosias, pembenahan tidak hanya dilakukan pada cabang olahraga yang telah lama berkembang, tetapi juga cabang olahraga baru, termasuk FOKSI Papua Barat.
“Kalau Tuhan sayang dan kami dipercayakan, kita akan membenahi semua cabang olahraga dengan baik,” kata Yosias.
Ia mengatakan pembenahan tersebut bertujuan meningkatkan pembinaan atlet sekaligus mendorong cabang olahraga di Papua Barat agar mampu meraih prestasi dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, dukungan pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Provinsi Papua Barat, sangat dibutuhkan dalam mendorong perkembangan olahraga.
Dengan dukungan pemerintah melalui KONI Papua Barat, ia berharap cabang-cabang olahraga, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, dapat menjalankan program pembinaan secara berkelanjutan.
“Harapannya, semua cabang olahraga dapat berjalan dengan baik dan mampu meraih prestasi,” ujarnya.
Yosias mengakui salah satu persoalan yang selama ini dihadapi sejumlah cabang olahraga adalah keterbatasan anggaran.
Meski demikian, menurut dia, keterbatasan anggaran pemerintah tidak boleh menjadi alasan terhentinya pembinaan dan pengembangan prestasi atlet.
“Pasti bantuan dana dari pemerintah terbatas, tetapi ada alternatif lain yang bisa diupayakan dari luar,” katanya.
Ia mengatakan, ke depan diperlukan upaya untuk mencari sumber dukungan alternatif bagi pembinaan olahraga tanpa hanya bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah.
Selain persoalan anggaran, Yosias menekankan pentingnya pembinaan atlet yang dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, setiap cabang olahraga harus memiliki sistem pembinaan yang jelas sehingga atlet telah dipersiapkan jauh sebelum pelaksanaan sebuah kejuaraan.
“Pembinaan itu harus dilakukan. Jangan sampai ketika ada event baru kita sibuk mencari-cari atlet. Padahal, kita di Papua punya banyak atlet yang berpotensi,” katanya.
Ia menilai, Papua Barat memiliki banyak generasi muda dan atlet potensial yang perlu mendapatkan kesempatan, fasilitas serta pembinaan yang memadai.
Karena itu, Yosias berharap pembinaan terhadap atlet asli Papua dapat menjadi salah satu perhatian penting dalam pembangunan olahraga di Papua Barat.
Menurutnya, atlet-atlet lokal harus dipersiapkan secara serius agar mampu bersaing dan membawa nama Papua Barat dalam berbagai ajang olahraga.
“Pembinaan terhadap anak-anak asli Papua harus diutamakan dan dimanfaatkan. Jangan sampai kita hanya mencari atau menggunakan atlet dari luar daerah, padahal kita memiliki banyak potensi,” ujarnya.
Dengan pembinaan yang dilakukan secara konsisten, Yosias berharap setiap cabang olahraga di Papua Barat memiliki atlet binaan sendiri yang siap diturunkan ketika menghadapi berbagai kejuaraan.
“Supaya ketika mencari atlet tidak perlu lagi mencari ke mana-mana, tetapi atletnya sudah ada dan siap dipakai untuk bertanding,” tutupnya. (*)










