Warga Dusun Sikundo Terpaksa Melintasi Kabel 150 Meter di Atas Sungai Setiap Hari
Warga dari dua dusun di Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, kini harus melintasi kabel sepanjang 150 meter yang terletak di atas sungai setiap hari untuk beraktivitas. Hal ini dilakukan karena jembatan gantung yang dibangun tahun 2024 lalu hancur akibat banjir bandang pada November 2025.
Jembatan gantung tersebut merupakan bantuan dari lembaga internasional dan awalnya bisa dilalui kendaraan roda dua, sehingga mempermudah akses warga dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bencana alam yang terjadi pada November 2025 membuat jembatan tersebut hanyut dan menyebabkan akses terputus.
Akibatnya, warga kembali menggunakan jalur ekstrem berupa kabel yang membentang di atas sungai. Setiap hari, sekitar 10 orang melintasi kabel tersebut untuk menyeberang ke desa tetangga atau melakukan aktivitas sehari-hari. Meski tidak pernah ada laporan kecelakaan selama proses penyeberangan, situasi ini tetap menimbulkan risiko bagi keselamatan warga.
Harapan Warga kepada Pemerintah
Keuchik Gampong Sikundo, Sulaiman, menyampaikan harapan agar pemerintah segera membangun jembatan yang layak. Ia berharap, jembatan tersebut dapat digunakan oleh siswa yang ingin berangkat ke sekolah serta masyarakat umum.
“Berharap kepada pemerintah hanya membangun jembatan yang layak, yang bisa diseberangi oleh siswa yang hendak berangkat sekolah,” ujar Sulaiman.
Ia juga mengingatkan bahwa saat bencana banjir pada November 2025 lalu, pihak pemerintah telah datang ke wilayah Sikundo dan berjanji akan membangunkan jembatan. Namun, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa janji tersebut akan segera direalisasikan.
Potensi Wisata dan Ekonomi Lokal
Di wilayah Sikundo sendiri, terdapat total 62 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sebanyak 280 jiwa. Selain meminta pembangunan jembatan, Sulaiman juga berharap pemerintah dapat memperbaiki jalan akses menuju daerahnya. Menurutnya, banyak tempat indah di daerahnya, seperti air terjun hingga dataran tinggi yang bisa menjadi daya tarik wisata.
Sulaiman yakin, jika akses menuju desanya lancar, maka akan banyak warga dan wisatawan yang datang. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian warga setempat.
“Apalagi kalau musim durian, pasti banyak orang datang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, bahkan saat banjir terjadi, banyak orang datang ke daerahnya. “Kemarin tuh waktu banjir pun banyak orang datang,” pungkasnya.
Tantangan Akses yang Masih Ada
Akses yang layak dan nyaman masih belum bisa dirasakan oleh seluruh warga Indonesia. Masih banyak warga yang harus bertaruh nyawa hanya untuk sekadar berpindah ke desa tetangga. Seperti yang dialami oleh warga Gampong Sikundo, mereka terpaksa menggunakan jalur ekstrem hanya untuk menyeberang sungai.
Masalah akses ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat potensi ekonomi dan pariwisata di daerah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur dan memenuhi janji-janji yang telah diberikan.










