Perjuangan Menyentuh Syarif, 761 KM untuk Tampil Perdana di JFC


Perjalanan 761 Kilometer untuk Menjadi Bagian dari WACI 2026

Miftahus Syarif atau yang akrab disapa Syarif Borneo berhasil menempuh perjalanan sejauh 761 kilometer dari Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, ke Jember, Jawa Timur. Ia membawa kostum seberat 12 kilogram dan mengikuti ajang Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) 2026 sebagai bagian dari rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC). Meski jarak yang ditempuh cukup jauh, hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk mewujudkan impiannya tampil di acara bergengsi tersebut.

Inspirasi dari JFC

Syarif mengungkapkan bahwa JFC menjadi inspirasi utama dalam dirinya. Ia mengakui bahwa JFC bukan hanya menjadi tempat belajar tentang desain kostum, tetapi juga menjadi sumber ilmu dalam berbagai aspek seperti produksi, manajemen penyelenggaraan, hingga strategi membangun personal branding. Pengalaman melihat langsung JFC pada tahun 2022 membuatnya terinspirasi untuk ikut serta dalam ajang ini.

“Sebelumnya pernah kesini di 2022, tetapi hanya sebagai penonton JFC,” ujar Syarif. “Saya banyak belajar dari JFC, bahkan detail kostum yang saya bawa lahir dari proses mentoring bersama para alumni JFC.”

Kehadiran Delegasi Kotawaringin Barat

Kesempatan tampil di WACI dimanfaatkan oleh Syarif bersama delegasi yang didukung Dinas Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Barat. Rombongan terdiri dari 12 orang, termasuk tujuh talent dan lima anggota tim pendukung. Meskipun jumlahnya sedikit, mereka tetap percaya diri tampil di hadapan ribuan penonton.

Saat memasuki runway WACI, defile Kotawaringin Barat juga mendapat dukungan dari penari asal Kabupaten Jember yang membawakan tarian khas Dayak Kotawaringin Barat. Meski penari berasal dari Jember, kostum yang digunakan adalah hasil karya lokal dari Kotawaringin Barat.



Penarinya memang dari Jember, tetapi kostumnya asli kami bawa dari Kotawaringin Barat. Karena memang untuk talent hanya 7 orang, dan dengan tim pendukung total 12 orang,” ujar Syarif.

Seluruh talent membawa kostum berukuran besar. Syarif sendiri mengenakan kostum dengan bobot mencapai 12 kilogram. Berbekal ilmu yang dipelajari dari JFC, mereka mampu mengemas kostum bervolume besar sehingga lebih mudah dibawa selama perjalanan.

Mempromosikan Budaya Daerah

Delegasi Kotawaringin Barat memanfaatkan WACI untuk memperkenalkan budaya, kekayaan alam, dan kearifan lokal daerahnya kepada masyarakat luas. Syarif tampil mengenakan kostum yang merepresentasikan tradisi Babukung, yakni upacara adat kematian masyarakat setempat. Sementara talent lainnya menghadirkan kostum burung Enggang serta naga merah yang dipercaya sebagai penjaga wilayah mereka.

“Juga ada naga merah, naga yang dipercayai sebagai penjaga daerah kami,” imbuh Syarif. Selain itu, mereka turut menampilkan Tari Kalangka yang mengangkat legenda Putri Dayak.

Pelajaran yang Diperoleh

Usai menyaksikan langsung penyelenggaraan JFC, Syarif mengaku memperoleh banyak pelajaran yang akan menjadi bekal mengembangkan karnaval di daerahnya. Ia menyebutkan bahwa Kabupaten Kotawaringin Barat juga memiliki ajang serupa bernama Marunti Fashion Carnival (MFC).

“Banyak sekali PR yang harus kami kerjakan setelah kami datang dan melihat langsung di sini. Pastinya jadi kebanggaan tersendiri bagi kami bisa terlibat,” ujarnya.



Perjalanan Syarif Borneo ke Jember tidak hanya menjadi wujud impian, tetapi juga menjadi langkah penting dalam pengembangan seni dan budaya daerah. Dengan dedikasi dan semangat yang tinggi, ia membuktikan bahwa perjalanan panjang dapat menjadi awal dari sukses besar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *