Pendakian Ilegal ke Gunung Merapi Diamankan Warga
Beberapa pemuda yang melakukan pendakian ke Gunung Merapi secara ilegal ditangkap oleh warga sekitar. Pemutusan akses pendakian ini sudah berlangsung sejak Mei 2018 akibat aktivitas vulkanik yang terjadi di kawasan tersebut. Namun, beberapa orang tetap mencoba untuk mendaki meskipun dilarang.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @sahabatrimbaidn pada Senin (8/12/2025), terlihat enam pendaki pria dan satu pendaki wanita. Mereka diamankan oleh warga setempat. Dalam video tersebut, para pendaki tampak menunduk saat diambil alih oleh warga.
Seorang perekam video menyampaikan pernyataan bahwa mereka ingin memberi nasihat kepada para pendaki muda agar lebih memahami risiko dari tindakan mereka. Ia menjelaskan bahwa masalah hukum akan ditangani di kantor nanti.
Dari pengunggahan tersebut diketahui bahwa para pendaki ini mengikuti open trip yang diselenggarakan oleh seseorang dengan inisial Ez. Ez pernah melakukan pendakian ilegal ke Gunung Merapi pada April 2025. Setelahnya, ia kembali membuka open trip pada 7 Desember 2025.
Para pendaki ini ketahuan karena cahaya senter mereka terlihat oleh warga. Warga kemudian menunggu sampai para pendaki turun dan menyerahkan mereka kepada pihak berwajib. Sayangnya, Ez tidak bisa ditemukan setelah melarikan diri.
Sementara itu, seorang pendaki bernama Eza juga bercerita tentang pengalamannya mendaki Gunung Merapi meskipun aksesnya ditutup. Cerita ini dibagikan dalam sebuah podcast yang tayang di YouTube Besok Pagi pada 6 Desember 2025.
Eza memohon agar cerita ini tidak diikuti oleh orang lain karena pendakian ilegal tidak boleh dilakukan. Ia mengaku sedang menghadapi kesulitan ekonomi setelah pindah ke Solo. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka open trip pendakian ke Gunung Merapi yang tidak sah.
Pendakian ini dibuka dengan harga Rp 300 ribu. Eza membuat grup WhatsApp untuk berdiskusi dan memilih 11 orang untuk ikut. Salah satunya adalah seorang wanita. Mereka mulai mendaki sekitar jam 6 pagi.
Jalur yang digunakan hampir 80 persen tertutup karena hutan tidak biasa dilalui. Mereka menggunakan golok untuk membersihkan penghalang di depan. Medan yang sangat curam membuat perjalanan menjadi lebih sulit.
Mereka sampai di area puncak, namun bukan puncak tertinggi. Kabut tebal menghiasi perjalanan mereka saat turun dari puncak. Di Pasar Bubrah, mereka merasa tersesat dan berputar-putar selama lebih dari satu jam.
Rombongan yang dibawa Eza terbagi menjadi dua saat turun. Ia berada di rombongan kedua. Rombongan pertama sempat dihadang oleh warga dan mengaku bahwa mereka ikut dalam open trip. Seorang temannya ikut terkena dampak karena kebocoran informasi.
Awalnya, peristiwa ini tidak viral. Namun, setelah diunggah oleh warga lokal di media sosial, cerita ini mulai menyebar. Dari tim 7 orang tersebut, Eza merasa kurang puas dengan hasilnya. Banyak pendaki yang tidak menerima layanan yang diberikan.
Akibatnya, Eza mendapat hujatan dari para pendaki yang ikut open trip. Mereka menyalahkan Eza karena merasa tidak dijaga dengan baik dan tidak bertanggung jawab. Hal ini memicu kebocoran informasi yang akhirnya menjadi perbincangan publik.
