Update Kondisi Banjir Bandang di Wilayah Tapanuli Tengah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 145 jiwa mengungsi akibat banjir bandang yang melanda wilayah Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Banjir ini terjadi untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu yang relatif dekat. Sebelumnya, bencana serupa juga terjadi pada tanggal 11 dan 16 Februari 2026, serta merupakan rentetan dari kejadian terparah pada 25 November 2025.
Sebanyak 145 jiwa warga Kelurahan Sipangen mengungsi di Gedung Gereja HKBP Sipange sejak semalam. Dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi warga terdampak. Personil BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah bersama tim gabungan segera melakukan evakuasi warga saat kejadian banjir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan bahwa banjir terjadi akibat air sungai meluap hingga ke permukiman warga. Meski demikian, banjir tersebut dilaporkan berangsur surut pada Minggu (19/7/2026) pagi.
Wilayah yang terdampak banjir meliputi tujuh kelurahan di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik. Hingga kini, personil BPBD masih bersiaga di lokasi dan mendata kerugian akibat banjir.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dinamika cuaca di masa musim kemarau saat ini. Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sumatera Utara berpeluang terjadinya hujan dengan intensitas ringan dalam beberapa hari ke depan.
Hujan terjadi akibat masih adanya aktivitas gelombang atmosfer yang diprakirakan aktif, belokan angin di Samudra Hindia barat Sumatera serta suhu muka laut yang masih hangat mendukung pembentukan awan-awan hujan. Masyarakat diharapkan senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG.
Surat Edaran Gubernur Peringatan Siaga
Gubernur Sumut (Gubsu) Bobby Nasution mengeluarkan Surat Edaran instruksi peringatan dini kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi mulai Juni-Agustus mendatang. Dalam Surat Instruksi nomor 188.54/6/INST/2026, seluruh kepala daerah kab/kota diminta untuk siap siaga terhadap bencana Hidrometeorologi.
Bencana Hidrometeorologi sering dikaitkan dengan bencana alam yang dipicu oleh parameter cuaca dan iklim seperti curah hujan, kelembapan, angin, dan temperatur. Di wilayah tropis seperti Indonesia, bencana ini merupakan jenis yang paling sering terjadi dan memberikan dampak signifikan.
Contoh Bencana Hidrometeorologi:
- Banjir dan Banjir Bandang: Terjadi akibat curah hujan ekstrem dalam waktu lama yang didukung oleh sistem drainase buruk atau kerusakan daerah aliran sungai (DAS).
- Tanah Longsor: Dipicu oleh hujan lebat terus-menerus yang membuat tanah di daerah perbukitan atau lereng menjadi jenuh air dan tidak stabil.
- Kekeringan: Fenomena kekurangan air yang biasanya muncul pada musim kemarau panjang, sering kali diperkuat oleh anomali iklim global seperti El Niño.
- Angin Kencang (Puting Beliung/Badai): Angin dengan kecepatan tinggi yang umumnya terbentuk dari awan konvektif (seperti awan Cumulonimbus).
Bencana Hidrometeorologi ini mulai dari kondisi curah hujan yang cukup tinggi hingga musim panas pada bulan Agustus 2026 mendatang. “Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana Hidrometeorologis pada bulan Juli dengan perkiraan curah hujan berada dalam kategori rendah (51-100 mm) hingga menengah (101-200 mm),” isi tulisan SE yang dilihat, Minggu (19/7/2026).
Dalam SE itu, ada beberapa daerah yang diwaspadai diperkirakan akan dilanda bencana. “Adapun daerah dengan kategori tinggi, adalah sebagian Kabupaten Tapanuli Tengah. Sedangkan kategori rendah yakni Kabupaten Batubara, Dairi, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba dan Kota Padangsidempuan,” jelasnya.
Sumut Memasuki Musim Pancaroba
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan, saat ini Sumut memasuki musim pancaroba. Ia menyatakan bahwa surat instruksi dari Gubernur Sumut telah diterima oleh pihaknya. Untuk itu, ia meminta seluruh BPBD kab/kota untuk siap siaga.
“Saat ini kita masuk musim pancaroba ya. Dimana transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Diprediksi itu puncaknya Agustus untuk musim kemarau. Tapi memang, saat ini hujan masih terus melanda di Sumut,” jelasnya kepada Tribun Medan, Minggu (19/7/2026).
Karena hendak memasuki musim kemarau, ia meminta agar masyarakat untuk tidak membakar sampah di hutan pada siang hari. “Kita imbau kepada seluruh BPBD Kab/Kota untuk siapkan seluruh alat. Karena bencana tidak ada yang tahu kapan terjadi. Tapi kita juga minta ke masyarakat, untuk tidak membakar sampah di siang hari. Tidak membakar sampah di hutan dan menghindari apa-apa yang bisa menjadi penyebab kebakaran,” jelasnya.












