Oplos oktan BBM bikin dompet kering, gini penjelasan dosen dan mekanik


Dampak Berbahaya dari Mengoplos Bahan Bakar Minyak dengan Nilai Oktan Berbeda

Mencari cara untuk mendapatkan bahan bakar berkualitas tinggi dengan harga lebih terjangkau menjadi tantangan bagi sebagian pengguna kendaraan. Salah satu praktik yang kerap dilakukan adalah mengoplos bahan bakar minyak (BBM) dengan nilai oktan rendah dan tinggi, seperti mencampur bensin RON 90 dengan RON 94 untuk mendapatkan hasil setara RON 92. Meski terlihat efisien secara finansial, pendekatan ini justru membawa risiko serius terhadap kinerja mesin dan umur kendaraan.

Kandungan Zat Aditif yang Tidak Seimbang

Menurut Widya Aryadi, dosen Konversi Energi Otomotif di Universitas Negeri Semarang (Unnes), pencampuran BBM dengan nilai oktan berbeda tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berpotensi merusak sistem mesin. Ia menjelaskan bahwa setiap jenis bahan bakar memiliki komposisi zat aditif yang dirancang khusus sesuai tingkat oktannya. Misalnya, bahan bakar seperti Pertamax (RON 94) dan Pertalite (RON 90) memiliki formula pembersih kerak karbon yang sangat berbeda.

“Zat aditif pembersih kerak karbon antara BBM Pertamax dan Pertalite beda jauh. Ketika keduanya dicampur, itu malah kontraproduktif. Yang seharusnya menjadi octane booster justru berubah menjadi deposit,” ujar Widya.

Dalam konteks ini, “octane booster” adalah zat tambahan yang bertujuan meningkatkan nilai oktan bahan bakar. Namun, jika proses pencampuran tidak sempurna atau tidak sesuai standar, zat ini justru tidak terbakar sempurna dan menumpuk sebagai endapan di dalam ruang bakar.

Pembentukan Deposit Karbon dan Kerusakan Mesin

Deposit karbon yang terbentuk akibat pencampuran BBM yang tidak seimbang cenderung menempel di bagian-bagian penting mesin, terutama kepala piston dan katup. Hal ini dapat mengganggu aliran udara dan bahan bakar, serta mengganggu proses pembakaran yang optimal.

“Octane booster BBM yang gunanya menaikkan nilai oktan itu mengandung deposit. Jika gagal terbakar, akan menumpuk di kepala piston,” jelas Widya.

Tumpukan deposit ini menyebabkan penurunan performa mesin secara signifikan. Gejala awal yang sering muncul antara lain:

  • Ngelitik saat akselerasi mendadak – Mesin terasa tidak responsif, bahkan terdengar suara ‘ketok-ketok’ atau ‘ngelitik’ ketika pedal gas diinjak cepat.
  • Respons lambat pada pedal throttle – Kendaraan tidak langsung merespons akselerasi, terasa ‘berat’ atau ‘lambat’.
  • Penyesuaian oleh ECU – Sistem elektronik kendaraan (ECU) akan otomatis menyesuaikan data waktu pengapian (timing) agar lebih maju, demi mencegah knocking dan mempertahankan keseimbangan campuran bahan bakar.

Namun, penyesuaian ini bukan solusi permanen. Justru, hal ini membuat mesin bekerja lebih keras dan berisiko mengalami overheating, kehilangan tenaga, serta penurunan efisiensi bahan bakar.

Dampak Tambahan pada Komponen Pengapian

Selain merusak proses pembakaran, pencampuran BBM dengan nilai oktan berbeda juga mempercepat kerusakan komponen pengapian. Busi, misalnya, menjadi lebih cepat kotor karena kondisi pembakaran yang tidak stabil. Akibatnya, pengapian menjadi buruk, menyebabkan mesin sulit hidup, stalling, atau bahkan mati tiba-tiba saat berkendara.

Kesimpulan: Lebih Baik Gunakan BBM Sesuai Rekomendasi Pabrikan

Meskipun tampak hemat, oplos BBM justru bisa menjadi pengeluaran yang lebih besar dalam jangka panjang. Biaya perbaikan mesin, penggantian busi, dan penurunan efisiensi bahan bakar bisa jadi lebih mahal daripada biaya bahan bakar yang dihemat.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan. Jika mobil direkomendasikan menggunakan bensin RON 92 atau lebih tinggi, maka sebaiknya tidak mengoplos dengan bensin RON 90. Konsistensi dalam pemilihan bahan bakar akan menjaga performa mesin, memperpanjang usia kendaraan, serta menghindari masalah teknis yang tidak perlu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *