Daerah  

Musim hujan ekstrem di India tewaskan 16 orang, hujan deras terus berlanjut


Cuaca Ekstrem Memicu Bencana Hidrometeorologi di India dan Indonesia

Cuaca ekstrem kembali menjadi penyebab bencana hidrometeorologi di Asia, dengan dampak yang terasa di India dan Indonesia. Di India, hujan monsun yang intens menewaskan sedikitnya 16 orang akibat longsor, banjir bandang, dan sambaran petir. Sementara itu, di Indonesia, banjir bandang kembali menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, memaksa 145 warga mengungsi.

Peristiwa ini menunjukkan meningkatnya risiko bencana yang dipicu oleh curah hujan tinggi, baik di kawasan Asia Selatan yang sedang memasuki puncak musim monsun maupun di Indonesia yang masih menghadapi dinamika cuaca meskipun sudah memasuki musim kemarau.

Dampak Banjir di India

Di wilayah Jammu dan Kashmir, hujan deras menyebabkan longsor dan banjir bandang yang menewaskan sekitar 11 orang. Wilayah Poonch dan Rajouri menjadi daerah yang paling terdampak. Tim penyelamat masih mencari korban hilang di tengah hujan yang belum reda dan akses jalan yang terputus akibat longsor.

Kepala Menteri Jammu dan Kashmir, Omar Abdullah, bahkan mempersingkat kunjungannya ke New Delhi untuk memantau penanganan bencana. Pemerintah daerah juga menghentikan sementara perjalanan ziarah Amarnath Yatra melalui jalur Pahalgam dan Baltal sebagai langkah antisipasi.

Selain Jammu dan Kashmir, dua orang meninggal akibat sambaran petir di Uttarakhand, sementara banjir bandang di Distrik Mon, Nagaland, menewaskan tiga orang. Departemen Meteorologi India (IMD) juga mengeluarkan peringatan hujan ekstrem di Benggala Barat yang berpotensi memicu longsor dan banjir bandang.

Musim monsun memang menjadi sumber utama pasokan air bagi India. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perubahan pola iklim membuat hujan semakin sulit diprediksi dan lebih ekstrem, sehingga meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi.

Banjir Bandang di Tapanuli Tengah

Di Indonesia, banjir bandang kembali melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada Sabtu (18/7/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 145 warga mengungsi di Gedung Gereja HKBP Sipange setelah luapan sungai merendam permukiman.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan banjir mulai berangsur surut pada Minggu (19/7/2026), namun petugas masih melakukan pendataan dampak dan kerugian. Banjir kali ini berdampak pada tujuh kelurahan di empat kecamatan, yakni Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik.

BPBD bersama tim gabungan telah mengevakuasi warga dan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi. Peristiwa tersebut merupakan banjir besar ketiga yang melanda Tapanuli Tengah sepanjang 2026, setelah kejadian pada Februari lalu, sekaligus menjadi kelanjutan dari bencana besar yang terjadi pada November 2025.

BNPB mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan di Sumatra Utara. Berdasarkan prakiraan BMKG, aktivitas gelombang atmosfer, belokan angin di Samudra Hindia, serta suhu muka laut yang masih hangat masih berpotensi memicu pembentukan awan hujan dalam beberapa hari ke depan.

Sejalan dengan itu, Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution telah menerbitkan surat edaran kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi untuk periode Juni–Agustus 2026. Instruksi tersebut meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir, longsor, dan bencana lain yang dipicu cuaca ekstrem.

Ancaman Serius dari Curah Hujan Ekstrem

Meski terjadi di wilayah dengan karakter musim yang berbeda, bencana di India dan Tapanuli Tengah menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem masih menjadi ancaman serius di Asia. Selain menimbulkan korban jiwa dan pengungsian, bencana hidrometeorologi juga mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, serta menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik dari pemerintah dan warga.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *