Daerah  

Mabuk Agama (10): Ditahan Tapi Merasa Bebas, Ini Akibat Pengaruh Doktrin yang Menancap


Sekitar dini hari dengan cuaca yang dingin menusuk tulang ditambah hembusan AC mobil, aku menggigil. Tapi aku juga tidak bisa memastikan, apakah menggigilnya tubuh ini karena dingin atau karena ditambahi faktor ketakutan.

Meskipun memang ada rasa takut, tapi saya tidak sesakau dan sekahwatir ketika akan hijrah beberapa waktu sebelum ini. Yang saya pikirkan nanti, hukuman fisik apa yang akan saya terima.

Namun, sekejam apa pun, saya sudah siap, setidaknya mempersiapkan keyakinan selama perjalanan yang saya tak tahu akan dibawa ke mana.

Hal yang menjadi kekuatan untuk menumbuhkan keyakinan saya adalah kisah Bilal bin Rabah dan Ammar bin Yasir. Keduanya adalah budak yang mengalami penyiksaan di zaman awal kenabian Nabi Muhammad SAW.

Bilal dadanya sampai ditindih batu besar dan dipaksa murtad dari Islam, namun ia hanya menjawab, “Ahad…ahad…ahad…”, hingga kemudian sahabat Nabi, Abu Bakar As-Siddiq membebaskannya dengan menebusnya.

Kemudian Ammar bin Yasir harus mengalami siksaan berat, bahkan ibu dan bapaknya, Summayah dan Yasir, harus tewas mengenaskan di tangan Abu Jahal dalam penyiksaan tersebut.

Kebetulan, kedua kisah ini menjadi cerita favorit yang sudah diceritakan sejak awal ketika seseorang memasuki NII, jadi saya sudah paham dan mental menjadi lebih kuat karena sangat yakin jika mati berada di jalan Allah, surga adalah kepastian tempat yang Allah SWT berikan.

Coba bayangkan, kekejian mana yang sekarang pernah terjadi dan dapat dirasakan dibandingkan dengan apa yang dialami mereka sekeluarga.

Jadi, sekalipun saya disiksa, bahkan jika sampai tewas sekalipun, surga sudah menanti. Jika memang demikian, mengapa harus takut.

Oleh karena itu, sejak di mobil, saya sudah memberikan motivasi kepada Rokib dan Jaja yang memang usianya beberapa tahun lebih muda.

Dengan tatapan mata dan anggukan kepala, aku meyakinkan mereka bahwa ini bukanlah sesuatu yang besar. “Bismillah…” bisikku lirih sekali dan nyaris tak terdengar.

Dan ternyata kami dibawa ke arah Blok M, kemudian masuk ke gedung bundar Kejaksaan Agung. Di sana kami digiring ke sebuah ruangan dan kemudian dibiarkan tanpa tahu harus bagaimana dan akan diapakan.

I don’t know at all that there was a sweep conducted by the authorities around Lebak Bulus, which might have been a joint operation involving the police and intelligence agencies. I’m not exactly sure.

Intinya saat subuh, atau sekitar itu, saya diberi tahu bahwa sudah ada tiga orang yang tertangkap. Salah satunya sudah berada di gedung bundar juga.

Saat matahari sudah terbit, kami dibawa bergantian untuk dikonfrontir dengan orang yang mereka tangkap. Sebelumnya, ketika menangkap gelagat kami akan dikonfrontir, saya sudah memberikan pemahaman pada mereka berdua agar tutup mulut.

“Ingat, jangan sampai salah satu di antara kita menjadi penghianat ya. Pahami kisah Bilal dan Ammar bin Yasir, ini adalah sunatullah yang sedang berlangsung pada kita sekarang,” tegas saya kepada mereka.

Mereka mengangguk lemas, karena usia muda dan pemahaman yang belum sedalam saya, mereka masih didominasi oleh rasa takut. Saya pun menjadi khawatir, andai mereka berdua justru yang bakal membuka rahasia.

Saat itu, saya menduga bahwa Fadli yang tertangkap, karena memang ia sempat berpesan bahwa di pagi harinya akan datang mengambil beberapa berkas yang akan dibawa untuk Tartib (Pelantikan aparatur NII).

Dan tibalah giliran kami satu per satu dipanggil; saat giliran saya tiba, saya dipertemukan dengan seseorang yang sama sekali tidak kami kenali, saya yakin demikian, karena memang saya tidak mengenal orang itu.

“Kamu kenal dengan dia?” tanya salah seorang intel Kejagung.

“No, Pak,” jawab saya singkat dan lugas.

“Don’t lie to us. We’re not playing around here. You know who we are and where you’re being taken, right?” pressed the Intel officer.

“Benar, Pak. Demi Allah, saya tidak mengenalnya,” tegas saya sambil menatap si intel.

“Heh, kamu! Kenal sama dia nggak?” tanya si Intel kepada orang yang diduga NII pula.

“Tidak, Pak. Demi Allah…” jawab orang yang berperawakan kecil dengan rambut cepak dan tubuh kurus itu.

“Heh, jangan libatkan Tuhan kalau kalian berbohong! Kalian tidak takut masuk neraka, ya?” hardik Intel dengan keras

“Saya tidak berbohong, Pak. Memang saya tidak kenal, masa orang yang tidak saya kenal saya katakan kenal. Itu kan malah berbohong,” bantah saya.

“Heh! diam kamu! Saya nggak butuh pendapat kamu ya!” desak si petugas.

Untungnya kami memang tidak saling kenal, tapi mengapa sampai dia ada di sana?

Akhirnya saya dibawa kembali ke ruangan untuk kemudian sarapan pagi bersama Rokib dan Jaja. Tak lama datang seorang petugas, entah dia siapa, tapi ia berusaha membuka pintu komunikasi kami, obrolannya enak didengar, pembawannya sangat santai.

“Tadi siapa, Bu?” tanya Rokib

“kalian jawab kenal?”

Keduanya menggeleng kompak, sama-sama merasa tidak kenal, dan ini bagiku lucu.

Saya tidak menyadari bahwa di daerah Lebak Bulus hingga jalan-jalan tembus ke arah RS Fatmawati banyak sekali malapraktik.

Hal itu dimungkinkan terjadi karena pembinaan di akar rumput menggunakan sistem sel, sehingga satu sama lain tidak saling kenal dan mengetahui aktivitas apa yang sedang dijalani detik itu.

Jujur saja, saya juga tidak kenal. Rasanya dia memang nggak pernah saya lihat di Tebet Barat.

Ya, untungnya, kami tidak saling mengenal, jadi “tes” pertama untuk menjaga kerahasiaan negara sudah mereka lalui dengan baik.

Sehingga kami tidak perlu mempraktikkan kekuatan iman sama sekali, dan kami benar-benar jujur serta sama sekali tidak mengenal orang itu.

Kita beruntung, tapi pasti nanti akan ada lagi kesempatan seperti ini yang lebih mengerikan,

“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Rokib.

Ikuti saja semua tahapan ujian ini. Ingat Sunatullah. Bisa jadi nanti kita akan ditanya satu persatu seperti ini. Dan bisa jadi juga, kita akan disiksa agar mengaku,

“Disiksa?” tanya Rokib dengan takut, dan tiba-tiba keringat dingin mengalir dari dahinya.

Why, are you afraid?

Bagaimana penyiksaannya, pakai apa?

Rokib mulai merasa sangat cemas dan takut, sementara Jaja terlihat jauh lebih tenang meskipun belum berhijrah.

“Pokoknya, pegang prinsip ini, Lebih baik meledak di perut daripada meledak di mulut. Tetap diam dan jangan pernah buka mulut,” saya mulai memberi perintah.

Mereka terlihat paham dan saya sedikit lega, meskipun apa yang barusan saya sampaikan, perasaan takut dan tak jelas seperti ini juga mereka rasakan.

Namun saya yakin dan semakin yakin, inilah jalan jihad fisabillah menuju Li’ilai kalimatillah…

Dan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan bukanlah kejadian yang menyenangkan, namun dari sini nanti, saya mengetahui setelah itu, bahwa telah terjadi peristiwa penangkapan dan kejar-kejaran seperti di film.

Otak gila saya mulai berpikir keras, mencoba mencari celah, siapa tahu bisa kabur. Yang paling saya khawatirkan adalah ketika bapak dan mama tidak mengetahui anaknya ini menjadi aktivis pemberontak negara.

Dan bukannya merasa salah, sekali lagi, saya justru berani dan sangat bangga bisa berjuang bersama!***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *