Daerah  

Lebih dari Satu Juta Anak Indonesia Paham Uang: Literasi Keuangan Mulai Dini


Tantangan Literasi Keuangan pada Anak-anak

Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup konsumtif yang semakin dominan, anak-anak kini menghadapi tantangan baru dalam memahami nilai uang. Akses mudah ke dompet digital, tren belanja online, serta pengaruh media sosial membuat banyak anak terbiasa mengonsumsi, tetapi belum sepenuhnya memahami arti dari menghasilkan dan mengelola uang.

Literasi keuangan sejak dini adalah keterampilan hidup yang sama pentingnya dengan membaca atau berhitung. Anak-anak yang memahami cara mengatur uang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri, tangguh, dan bijak dalam mengambil keputusan finansial.

Program Edukasi Finansial Cha-Ching

Menjawab kebutuhan tersebut, program edukasi finansial Cha-Ching mencatat tonggak besar di Indonesia: lebih dari satu juta siswa sekolah dasar di 60 kota/kabupaten telah mengikuti kurikulumnya. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Prudential Indonesia, Prudence Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia (PJI), serta melibatkan lebih dari 31.500 guru dari 20.000 sekolah di seluruh Indonesia.

Program Cha-Ching diklaim telah dikembangkan untuk mengajarkan keuangan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak. Melalui karakter animasi, lagu, dan cerita interaktif, siswa diajak memahami empat konsep dasar pengelolaan uang: Earn (Menghasilkan), Save (Menabung), Spend (Belanja), dan Donate (Berdonasi). Konsep ini membantu anak-anak belajar nilai kerja keras, kebijaksanaan dalam berbelanja, serta pentingnya berbagi.

“Saya jadi tahu kalau uang harus dipakai dengan bijak. Pelajarannya seru karena ada lagu dan videonya,” ujar Muhammad Naufal Al-Ghifari, siswa SDN Cibeber Hilir, Kabupaten Bandung Barat, yang ikut dalam program ini.

Transformasi Selama Pandemi

Sejak pertama kali hadir di Indonesia pada 2017 di Sidoarjo, Cha-Ching telah menjangkau ribuan siswa dan guru. Namun pandemi COVID-19 menjadi tantangan besar ketika kegiatan tatap muka terhenti total. Alih-alih berhenti, program ini justru bertransformasi menjadi pembelajaran digital interaktif pada 2021–2022.

Melalui teks, gambar, video, dan konten daring, siswa tetap bisa belajar dari rumah. Inovasi ini juga memperluas jangkauan ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau secara fisik. Langkah tersebut kemudian mendorong kerja sama strategis dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2023, yang mempercepat ekspansi program ke seluruh Indonesia.

Hasilnya signifikan. Dalam satu tahun ajaran, partisipasi meningkat hingga 400%, menjangkau lebih dari 230.000 siswa, 7.000 guru, dan 4.000 sekolah.

Dampak Positif dan Tanggapan Masyarakat

“Membekali anak sejak dini dengan literasi keuangan bukan hanya edukasi, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang mandiri dan tangguh,” ucap Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia.

Selain itu, data terbaru menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti program mengalami peningkatan pemahaman literasi keuangan dasar hingga 17 persen. Sebanyak 9 dari 10 siswa menganggap pembelajarannya menyenangkan, 96% guru ingin kembali mengajarkannya, dan 3 dari 4 orang tua merekomendasikan agar program ini terus dilanjutkan.

Peran Penting Sinergi

Sebagai mitra pelaksana, Pribadi Setiyanto, Chairman of the Executive Board Prestasi Junior Indonesia, menegaskan pentingnya sinergi dalam memberdayakan masa depan generasi muda Indonesia. “Literasi keuangan bukan hanya tentang menghitung uang, tetapi tentang menanamkan kebiasaan, nilai, dan pola pikir yang membentuk kemandirian serta ketangguhan finansial,” tegasnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *