Daerah  

KSSK Jaga Stabilitas Keuangan di Tengah Tekanan Global


Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga pada kuartal II-2025, meskipun kondisi global masih penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikan melalui hasil rapat koordinasi KSSK ke-III tahun 2025 yang melibatkan seluruh anggota komite, termasuk Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang juga menjabat sebagai Ketua KSSK, menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga meskipun adanya tantangan global. Menurutnya, ketidakpastian global dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, serta kebijakan tarif resiprokal antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kondisi ini berdampak pada tekanan terhadap aliran modal, nilai tukar, dan perdagangan global.

Dalam laporan KSSK, proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 telah direvisi turun oleh berbagai lembaga internasional. Bank Dunia menurunkan proyeksinya dari 3,2% menjadi 2,9%, sedangkan OECD merevisi dari 3,1% menjadi 2,9%. Di sisi lain, negara-negara ekonomi besar seperti AS, Eropa, Jepang, dan Tiongkok menunjukkan tren perlambatan. Namun, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.

Ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh daya beli masyarakat, surplus neraca perdagangan, serta peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menjaga momentum pertumbuhan. Sri Mulyani menyampaikan bahwa KSSK optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 tetap terjaga. Konsumsi dan daya beli masih positif, serta aktivitas dunia usaha cukup resilien, didukung oleh fungsi counter-cyclical APBN dan efektivitas distribusi pasar.

Nilai tukar rupiah juga menunjukkan tren penguatan di tengah tekanan eksternal. Setelah sempat melemah hingga Rp16.865 per dolar AS pada April 2025, rupiah menguat ke level Rp16.235 per 30 Juni 2025. Penguatan ini didukung oleh konsistensi kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia dan terjaganya aliran modal masuk. BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valas dan pasar offshore untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Di sisi lain, pelonggaran kebijakan moneter turut mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2025 tercatat sebesar US$152,6 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, lebih dari dua kali lipat standar kecukupan internasional. Inflasi pun tetap rendah dan stabil. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 1,87% pada Juni 2025. Inflasi inti berada di level 2,37% (YoY), sementara inflasi bahan pangan dan harga yang diatur pemerintah tetap terkendali.

Sri Mulyani memperkirakan bahwa inflasi sepanjang tahun 2025 akan berada dalam rentang target pemerintah, yakni 2,5% ±1%, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Meski demikian, sektor manufaktur masih mengalami kontraksi. Indeks PMI manufaktur berada di level 46,9 pada Juni 2025. Untuk itu, pemerintah bersama KSSK akan terus mendorong peran sektor swasta dan investasi melalui langkah deregulasi dan pemberian insentif.

Secara keseluruhan, KSSK tetap optimistis bahwa ekonomi Indonesia pada 2025 mampu tumbuh di kisaran 5%, didukung oleh kombinasi kebijakan stabilisasi makro dan reformasi struktural. Selain itu, keberhasilan dalam negosiasi penurunan tarif ekspor ke Amerika Serikat juga dinilai akan memperkuat sektor padat karya seperti tekstil dan furnitur. Berbagai strategi dan kebijakan akan terus dioptimalkan untuk menciptakan multiplier effect yang lebih besar, sehingga ekonomi Indonesia tahun 2025 diproyeksikan masih mampu tumbuh sekitar 5%.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *