Kenangan Masa Kecil yang Membentuk Pola Hidup Sehat
Saya dan keluarga kami berlima selalu bersiap dengan piring seng masing-masing. Kami berbaris rapi untuk menunggu ibu membagikan makanan di depan pring kami. Saya adalah anak bungsu perempuan, sedangkan empat kakak laki-laki saya semuanya mendapat bagian yang sama. Setiap hari, kami hanya diberi satu kepal nasi dan potongan kecil telur rebus. Bahkan, satu telur rebus dibagi tujuh orang untuk dimakan bersama. Tak lupa, nasinya dikasih garam dan jelantah, yaitu minyak goreng sisa yang biasa digunakan untuk menggoreng ikan asin. Kadang, ada juga sambel goang atau sambel bawang yang menemani.
Kami biasanya makan bersama di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Kata ibu, sarapan sangat penting. Dengan sarapan, perut kami tidak terlalu lapar saat menerima pelajaran di sekolah sehingga bisa belajar dengan baik. Ibu selalu berusaha menyediakan sarapan meskipun uang belanja yang diberikan Bapak, yang bekerja sebagai buruh harian di pabrik, tidak cukup untuk menghidupi kami bertujuh.
Waktu itu, kami tinggal di rumah reot yang berada di tengah sawah. Gubuk berbilik bambu yang tidak layak disebut rumah. Namun, kami bersyukur bisa tinggal di dalamnya agar tidak kepanasan atau kehujanan. Bos Bapak di pabrik baik hati, sehingga memberi izin kepada kami untuk tinggal di tanah kosong miliknya setelah kontrakan kami sebelumnya habis masa sewanya. Bapak membuat rumah sederhana dari bilik bambu dan kayu yang ada.
Di gubuk tengah sawah itulah, kami menanam berbagai tanaman pangan seperti singkong, ubi, kacang panjang, tomat, cabai, papaya, pisang, serta membuat kolam ikan. Untuk makan sehari-hari, ibu biasa memasak sayur daun singkong atau kacang panjang dengan kuah yang banyak menggunakan tungku kayu bakar. Lauk seadanya, kadang hanya tahu, tempe, atau telur yang jumlahnya sangat terbatas. Kami bisa makan ikan saat panen dari kolam yang kami kelola sendiri.
Saat beras habis dan Bapak tidak punya uang untuk membeli beras, kami hanya makan singkong atau ubi dengan sayur. Tidak apa-apa, kami sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Faktor ekonomi membuat kami hidup dengan apa adanya. Kami hanya merasa bersyukur jika bisa makan tiga kali sehari. Meski seringkali harus hidup prihatin dan bahkan berpuasa karena keadaan yang memaksa.
Sekarang, setelah saya dewasa dan menjadi orangtua, kenangan masa kecil itu masih terasa jelas dalam ingatanku. Terkadang, saya merindukan masa itu. Masa di mana keluarga kami harus berjuang hanya untuk bertahan hidup. Kenangan masa kecil yang serba kekurangan dari segi ekonomi membuat saya lebih kuat dalam menghadapi berbagai cobaan hidup sekarang. Saya bersyukur, hidup saya sekarang tidak serba kekurangan. Lebih dari cukup.
Maka, saya selalu berusaha memberikan nutrisi terbaik untuk anak-anak saya. Seperti ibu, saya selalu menekankan betapa pentingnya sarapan setiap hari sebelum sekolah dan beraktivitas. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi setiap hari untuk keluargaku. Dengan telur ayam utuh untuk satu orang. Tidak lagi dibagi-bagi menjadi potongan kecil seperti ketika saya masih kecil dulu. Gizi seimbang harus saya penuhi setiap hari.
Jika dulu kita mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna, sekarang kita harus mengenal gizi seimbang yang diimplementasikan dengan isi piringku. Isi piringku adalah setengah piring dengan sayur dan buah, dan setengah piring dengan makanan pokok dan lauk pauk. Komposisi untuk sayuran adalah 2/3 bagian dari setengah piring, dan buahnya ada 1/3 bagian dari setengah piring. Demikian pula halnya untuk makanan pokok, porsinya adalah 2/3 bagian dan lauk-pauk porsinya 1/3 bagian dari setengah piring.
Pemenuhan gizi seimbang untuk nutrisi keluargaku ini menjadi bahan baku penentu di masa depannya. Pemilihan menu gizi seimbang tidak harus mahal, yang penting kebutuhan nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan nutrisi penting lainnya dapat tercukupi. Satu piring kecil untuk masa depan yang besar tidak hanya sekedar makan lalu kenyang saja. Tapi apa yang kita makan menentukan bagaimana kualitas hidup di masa depan.
Pemenuhan gizi seimbang yang baik dapat membantu konsentrasi dalam belajar, menjaga daya tahan tubuh atau imun, dan dapat membentuk pola kebiasaan hidup sehat sampai dewasa. Segala kebiasaan baik perlu ditanamkan sejak dini. Pola makan sehat ini sangat penting agar anak ceria, fokus dalam belajar dan jarang sakit. Saya menyadari bahwa perubahan kecil di dapur dapat membuka pintu masa depan bagi seorang anak.
Sepiring kecil makanan sehat dengan gizi seimbang yang disajikan setiap hari bisa membangun masa depan yang besar. Aroma nasi yang hangat, senyuman seorang ibu saat menyajikan makanan untuk anaknya, menjadi memori indah yang akan selalu lekat dalam ingatan. Masa depan gemilang bisa tumbuh perlahan, dari hal-hal kecil yang kita siapkan secara tulus untuk anak-anak tercinta. Jangan biarkan makanan dengan pengawet, pewarna dan micin merenggut masa depan anak-anak kita.
