Respons Gubernur Jabar terhadap Kritik dari Pandji Pragiwaksono
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, memberikan respons terhadap kritik yang disampaikan oleh komika ternama, Pandji Pragiwaksono. Kritik tersebut menyentuh gaya kepemimpinan KDM yang sering dikaitkan dengan istilah ‘gubernur konten’. Ia menegaskan bahwa kritik seperti ini merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat dan patut dihargai.
Dedi mengucapkan terima kasih kepada Pandji atas kritik yang disampaikan. Ia menyatakan bahwa dirinya adalah penggemar karya-karya Pandji, yang selalu mengandung unsur lucu, korektif, dan edukatif. Hal ini ia sampaikan melalui media sosial Instagram pada hari Minggu (4/1).
Ia kemudian menyentuh pendapat Pandji tentang kecenderungan masyarakat Jawa Barat dalam memilih pemimpin yang berasal dari kalangan artis. Menurut Dedi, realitas politik menunjukkan bahwa tidak semua figur publik otomatis terpilih meski populer. Ia mencontohkan beberapa tokoh yang pernah maju sebagai calon gubernur namun gagal meraih suara.
“Termasuk ini orang Jawa Barat milih pemimpin yang selalu keartisan, tetapi sayang sekali Bang Pandji, Pak Deddy Mizwar dan Pak Dede Yusuf, waktu nyalonin jadi gubernur malah nggak kepilih,” ujarnya. Dedi menjelaskan bahwa ia pernah mendampingi Deddy Mizwar sebagai calon wakil gubernur, sedangkan Dede Yusuf maju bersama pasangan lain, namun keduanya tetap tidak terpilih dalam Pilgub Jawa Barat.
Meskipun begitu, Dedi menilai bahwa latar belakang artis tidak serta-merta mencerminkan kapasitas seseorang dalam memimpin. Ia justru memuji kemampuan Dede Yusuf dalam memahami isu pembangunan. “Tetapi walaupun dia artis, Pak Dede Yusuf itu punya pemahaman pembangunan yang relatif sangat baik,” ucapnya.
KDM juga menekankan bahwa rekam jejak Dede Yusuf di DPR menunjukkan kapasitasnya sebagai wakil rakyat. Menurutnya, kemampuan berpikir dan bekerja tidak bisa diukur semata dari profesi awal seseorang. “Dan sekarang dua kali menjadi pimpinan komisi di DPR, juga kerangka berpikir pembangunannya keren. Yang artis juga punya kemampuan,” tambahnya.
Menanggapi label ‘Gubernur Youtuber’ yang sering melekat padanya, KDM memilih untuk tidak menilai dirinya sendiri. Ia justru mengajak publik menilai langsung hasil kerjanya di lapangan. “Sedangkan saya sendiri dianggap Gubernur Youtuber, saya nggak boleh muji diri saya, baik apa nggak sebagai pemimpin,” ujarnya.
KDM kemudian menantang Pandji untuk datang langsung ke Jawa Barat dan melihat kondisi nyata pembangunan yang dilakukan pemerintah provinsi. Ia menegaskan bahwa penilaian kepemimpinannya seharusnya dilihat dari hasil konkret, bukan sekadar konten di media sosial. “Kemudian keliling ke daerah-daerah, berbagai daerah di seluruh Provinsi Jawa Barat, saya ngebangunnya bener apa nggak, apakah saya ini hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan, ya kita sama-sama lihat bagaimana hasil di lapangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, KDM menekankan pentingnya kritik dan otokritik dalam negara demokrasi. Ia mengapresiasi kritik yang disampaikan secara terbuka dan kreatif. “Terus berkarya, melakukan otokritik yang terbuka. Karena ini negara demokrasi, setiap orang berhak menyampaikan pikiran dan gagasan, termasuk koreksi secara terbuka, apalagi dikemas dalam koreksi-koreksi yang jenaka, keren,” imbuhnya.
Sebelumnya, dalam acara Mens Rea, Pandji Pragiwaksono mengkritik pemilihan kepala daerah di Jabar. Ia menilai bahwa masyarakat di Jabar mayoritas menginginkan kepala daerah yang berlatar belakang artis. “Nah ini di antara masyarakat Indonesia, gua sehari-hari, masalah terbesar ini adanya di Jawa Barat, orang sunda. Orang sunda senang sekali milih artis,” ucap Pandji dalam materi acara Mens Rea.
Pandji menyinggung latar belakang Gubernur Jawa Barat yang banyak muncul dari kalangan artis, termasuk Dedi Mulyadi yang disebutnya sebagai Youtuber. “Gubernur mereka waktu itu Deddy Mizwar artis film, wakil gubernur mereka Dede Yusuf artis tv, sekarang Gubernur-nya Dedi Mulyadi artis Youtube. Banyak yang nggak suka, santai saja kawan,” pungkasnya.
