Cuaca  

Ikan Tawar di Handilnegara Tala Mati Akibat Kemarau, Bau Tak Sedap Ganggu Warga


Kondisi Musim Kemarau yang Mengganggu Warga dan Sekolah di Desa Handil Negara

Musim kemarau yang sedang berlangsung saat ini tidak hanya mengeringkan kawasan persawahan di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan. Namun, kondisi tersebut juga menyebabkan kematian massal ikan air tawar yang hidup di area rawa atau persawahan setempat.

Bangkai ikan yang berserakan di lahan sawah yang mulai mengering mulai membusuk dan menimbulkan aroma menyengat. Penuturan sejumlah warga pada Minggu (26/7/2026) menunjukkan bahwa aroma tak sedap ini telah mengganggu kenyamanan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar di UPTD SD Negeri 1 Handil Negara.

Meski kondisi seperti ini bukan hal baru bagi warga, mereka tetap merasa tidak nyaman akibat bau yang tercium. Terlebih, aroma tersebut sering kali sangat menyengat ketika terbawa angin. Bangkai ikan tersebar di sejumlah petak persawahan. Sebagian besar dari mereka sudah membusuk dan ada yang telah berbelatung.

Lokasi bangkai ikan tersebut hanya berjarak beberapa puluh meter dari lingkungan sekolah dan permukiman warga. Aroma busuk bahkan sudah tercium sejak memasuki kawasan Desa Handil Negara. Semakin mendekati sekolah, bau tersebut semakin pekat hingga membuat sebagian warga menutup hidung saat melintas.

Guru Pendidikan Jasmani UPTD SD Negeri 1 Handil Negara, Harkani, mengatakan bahwa bau tak sedap itu mulai dirasakan sekitar satu pekan terakhir. “Selama munculnya bau ikan busuk ini, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Hanya saja memang sedikit terganggu karena aromanya cukup menyengat,” ujarnya.

Meskipun begitu, para siswa tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa tanpa menggunakan masker. Menurut Harkani, anak-anak sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Sementara itu, beberapa guru memilih memakai masker agar lebih nyaman saat mengajar.

“Biasanya bau itu baru benar-benar hilang setelah air di persawahan mengering sepenuhnya,” katanya.

Diduga, kematian massal ikan dipicu oleh terus menyusutnya debit air di areal persawahan selama musim kemarau. Air yang semakin dangkal membuat ikan-ikan terjebak di kubangan, lalu mati ketika dasar sawah mengering dan retak-retak. Jenis ikan yang ditemukan mati beragam, mulai dari benih nila, gabus, papuyu hingga ikan siam. Seluruhnya kini membusuk dan menjadi tempat berkembangnya belatung.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *