Penambahan SPPG di Sumedang untuk Memastikan Kualitas Makan Bergizi Gratis
Sebanyak 17 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan ditambahkan di wilayah Sumedang dalam upaya memaksimalkan produksi Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terulangnya kejadian keracunan MBG yang sebelumnya terjadi akibat kewalahan SPPG dalam menyediakan porsi makanan yang sangat besar.
Koordinator SPPG Wilayah Sumedang, Mega Gipar Barani, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 46 SPPG yang beroperasi di seluruh wilayah Sumedang. “Nanti akan ada penambahan 17 SPPG lagi, saat ini sedang dalam proses persiapan dan tinggal menunggu penempatan kepala SPPG. Jadi Oktober nanti totalnya akan mencapai 63 SPPG,” jelas Mega setelah menghadiri Rapat Evaluasi MBG di Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Jumat (26/9/2025).
Menurut Mega, penting bagi SPPG untuk meningkatkan pengawasan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang bertugas memproduksi makanan yang disajikan kepada siswa. “Bukan hanya SPPG di Ujungjaya yang mengalami kejadian seperti ini, tetapi juga berlaku untuk keseluruhan. SPPG wajib fokus meningkatkan pengawasan,” ujar Mega.
Ia menekankan perlunya pengawasan alur produksi secara ketat, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, pengemasan hingga pendistribusian ke sekolah-sekolah. “Alur produksinya memang sudah sesuai, tetapi saat ini masih ada beberapa kekeliruan. Karena SPPG ini bisa stabil dalam kurun waktu tiga bulan, jadi awal-awal ini kejadian seperti ini bisa terjadi,” tambah Mega.
Dalam rangka memperkuat kualitas produksi, Mega menegaskan bahwa SPPG harus melakukan pemeriksaan bahan baku secara cermat. “SPPG wajib melakukan pemeriksaan melalui beberapa tahap pengecekan, terutama di dapur itu kan ada kepala SPPG, ahli gizi, dan asisten lapangan. Jadi harusnya, ketika datang bahan baku itu dicek secara seksama, disortir, kalau tidak laik dikembalikan bahan bakunya itu. Kalau laik masuk pembersihan, gudang basah, gudang, kering, alurnya seperti itu dan wajib dipatuhi,” ungkap Mega.
Meskipun demikian, Mega memastikan bahwa relawan MBG di SPPG sudah mendapatkan pelatihan sebelum beroperasi. “Pelatihan ada dan sudah dilakukan, dari BGN sendiri sudah melakukan pelatihan kepada semua relawan,” imbuh Mega.
Selain itu, pihaknya juga akan melakukan penertiban terhadap seluruh SPPG yang beroperasi di wilayah Sumedang. “Dari BGN, acuannya itu SPPG hadir di radius maksimal 6 kilometer dengan jarak tempuh 20 menit. Tapi nanti, kami akan buat penertiban dari bawah, karena memang kalau lintas kecamatan akan mempengaruhi kuota kecamatan sebelah. Jadi nanti, kami akan buat penertiban sehingga bisa fokus di wilayah kecamatan masing-masing,” jelas Mega.
Sementara itu, terkait penghentian sementara MBG di wilayah Ujungjaya, pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan, hasil uji laboratorium, dan keputusan dari MBG pusat. “Untuk Ujungjaya programnya dihentikan sementara. Saat ini masih dalam tahap penyelidikan, evaluasi sambil menunggu hasil uji lab dan menunggu petunjuk dari pusat sebelum nanti bisa kembali berjalan,” tutup Mega.
