Jam gantung di Stasiun Purwokerto Jawa Tengah punya fungsi krusial di masanya. Sekarang keberadaannya bagian dari warisan benda cagar budaya.
—
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
—
Intisari-Online.com – Tak hanya di Jawa Tengah, Stasiun Purwokerto menjadi salah satu stasiun tersibuk yang ada di Indonesia. Tak heran bila statusnya adalah stasiun kereta api besar Tipe A.
Di stasiun yang menghubungkan Utara dan Selatan itu punya benda cagar budaya yang fungsinya sangat krusial. Apa itu?
Sejarah Indonesia mencatat, perusahaan swasta Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) membangun jalur trem uap untuk mengangkut hasil bumi (seperti gula dan teh) di Lembah Serayu. Stasiun pertama yang berdiri adalah Stasiun Purwokerto Timur (Purwokerto SDS) yang resmi beroperasi pada 16 Juli 1896.
Jalur ini menghubungkan Maos, Purwokerto, hingga Banjarsari dan Wonosobo.
Sejurus kemudian, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), membangun jalur rel menghubungkan Cirebon ke Kroya untuk mempercepat akses dari Batavia menuju Yogyakarta/Surakarta. Sebagai bagian dari proyek ini, didirikanlah Stasiun Purwokerto di lokasi saat ini (Krobokan/Kober).
Stasiun ini resmi dibuka untuk umum pada 1 Juli 1917.
Di Stasiun Purokerto kita masih bisa melllihat benda cagar budaya berupa jam gantung yang tergantung di peron penumpang. Jika melintas atau berhenti di stasiun yang menjadi urat nadi kota ini, tengoklah ke atas peron di antara jalur 1 dan 2. Di sana ada jam gantung yang legendaris.
Jam gantung dua muka (double-sided clock) yang tergantung di peron Stasiun Purwokerto merupakan elemen arsitektur khas stasiun perkeretaapian peninggalan era Hindia Belanda.
Sejarah jam gantung stasiun
Jam gantung di stasiun Purwokerto ini merupakan bagian dari standarisasi Waktu Kereta Api (Spoorwegtijd). Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, stasiun-stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda (Staatsspoorwegen/SS)—termasuk Stasiun Purwokerto—membutuhkan penunjuk waktu yang presisi.
Jam gantung ini dipasang di tengah peron stasiun agar dapat dilihat dari dua arah. Penempatan jam secara menggantung di peron kanopi (emplacement overhang) dirancang agar penumpang yang berjalan dari peron utara maupun selatan dapat memantau waktu keberangkatan tanpa terhalang.
Jam gantung dua muka (double-sided clock) merupakan salah satu fitur penunjuk waktu ikonik yang terpasang di langit-langit atau kanopi peron stasiun kereta api.
Tradisi pemasangan jam peron dimulai sejak pembangunan jalur perkeretaapian oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS) dan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Banyak mekanisme jam vintage didatangkan dari Eropa (khususnya Belanda) lewat pembuat atau agen jam seperti F.M. Ohlenroth.
Keberadaan jam ini dahulunya sangat krusial karena belum ada penunjuk waktu pribadi yang meluas. Jam stasiun menjadi satu-satunya acuan resmi (master clock) untuk menyamakan waktu antara jadwal kereta, petugas stasiun, dan calon penumpang.
Jam-jam gantung original yang menjadi benda cagar budaya (heritage) di stasiun-stasiun pulau Jawa umumnya diproduksi antara tahun 1880-an hingga 1930-an.
Jam gantung yang terpasang pada stasiun modern atau modernisasi peron biasanya merupakan replika/reproduksi berdesain klasik (diproduksi era 2000-an ke atas) yang menggunakan mesin kuarsa elektronik modern demi kemudahan perawatan dan akurasi, namun tetap mempertahankan estetika vintage era kolonial.
Desain dua sisi memfasilitasi keterbacaan dari sisi utara maupun selatan (atau barat dan timur) peron tanpa perlu memasang dua unit jam terpisah.
Jam ini berfungsi sebagai patokan keberangkatan kereta api. Jam ini membantu masinis, kondektur, dan PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) dalam memastikan kereta berangkat tepat sesuai grafik perjalanan kereta api (GAPEKA).
Jam gantung ini menjadi navigasi penumpang karena memudahkan penumpang yang berada di area tunggu peron untuk memperkirakan waktu kedatangan dan keberangkatan kereta api.
Jam bermodel analog lingkar besi gantung diproduksi untuk mempertahankan nuansa heritage perkeretaapian klasik di stasiun-stasiun besar pulau Jawa. Meskipun sistem persinyalan dan penunjuk waktu stasiun saat ini sudah terintegrasi secara digital, keberadaan jam gantung analog di peron tetap dipertahankan oleh PT KAI sebagai simbol sejarah disiplin waktu dan estetika cagar budaya perkeretaapian.












