Armada Kemanusian Berlayar Menuju Gaza
Di perairan internasional Mediterania, sembilan kapal sipil berlayar beriringan. Laut biru yang terlihat tenang sebenarnya menyimpan ketegangan yang sangat tinggi. Dari dek kapal, awaknya menatap jauh ke arah selatan, menuju Gaza yang terkepung. Inilah gelombang baru dari armada Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang menyusul Global Sumud Flotilla (GSF). Misi mereka jelas: menembus blokade Gaza yang sudah berlangsung selama hampir dua dekade.
Menurut unggahan resmi GSF di platform X, sembilan kapal yang disebut Freedom Flotilla Coalition – Thousand Madleens kini sedang berlayar di Mediterania untuk menyusul armada GSF yang dicegat Zionis. “Gelombang kapal baru berlayar bersama Global Sumud Flotilla. Rombongan sembilan kapal saat ini sedang dalam perjalanan menuju Gaza untuk mendobrak blokade ilegal ‘Israel’ yang sudah berlangsung bertahun-tahun,” tulis GSF pada Jumat, 3 Oktober 2025 pagi.
Sembilan kapal baru itu bernama Abd Elkarim Eid (Thaï), Alaa Al-Najjar (King Julian), Anas Al Sharif (Fouka), Conscience, Gaza Sunbird (Neruda), Leïla Khaled (Tadzio), Milad (Algol), Soul of My Soul, dan Umm Saad (Maiden). “Israel menyerang kawan-kawan kami (Global Sumud Flotilla). Dan kami tidak akan berhenti. Kami akan terus berlayar ke garis depan hingga Palestina bebas, hingga Gaza berhenti menderita,” demikian pernyataan FFC di situs resmi mereka pada Jumat.
Salah satu kapal, Conscience, membawa tim medis, dokter dan perawat, serta para wartawan. Beberapa dokter dari Malaysia turut serta dalam misi pelayaran kemanusian ini. Kapal Conscience ini, sebetulnya sempat lepas jangkar menembus Gaza bersama-sama misi kemanusian Thousand Madleens pada Mei 2025. Akan tetapi ketika itu, Kapal Conscience mengalami serangan berupa pengeboman oleh Zionis Israel di perairan internasional lepas Malta. Kondisi itu membuat Kapal Conscience sandar lama di Porto Otranto.
Sementara Thousand Madleens tetap berlayar, sampai Zionis menyerang dan menculik 21 relawan dan aktivis yang membawa kapal tersebut. Pada 25 dan 27 September 2025, Kapal Conscience dinyatakan siap melanjutkan misi.
Perlawanan Sipil Global
Sejak 31 Agustus 2025, GSF meluncurkan inisiatif besar: sekitar 40 kapal sipil, dengan penumpang berupa aktivis, jurnalis, tenaga medis, hingga figur publik seperti Greta Thunberg. Tujuannya bukan sekadar membawa bantuan kemanusiaan, melainkan membangun kesadaran dunia bahwa Gaza hidup di bawah blokade yang disebut banyak lembaga HAM sebagai hukuman kolektif.
Namun perjalanan ini penuh risiko. Armada GSF beberapa kali mendapat serangan dan sabotase, termasuk di perairan Yunani dan pelabuhan Tunisia. Angkatan laut ‘Israel’ juga aktif mencegat. Pada Rabu, 1 Oktober 2025, puluhan kapal GSF ditahan; lebih dari 400 aktivis ditangkap, termasuk Greta Thunberg.
Satu kapal lain, Mikeno (Al Bireh), sempat terdeteksi hanya puluhan kilometer dari pantai barat daya Gaza City. Namun hingga kini tak lagi bergerak, diduga sudah dicegat. Dari puluhan kapal yang berlayar, hanya Marinette yang bertahan, kini menunggu bergabungnya sembilan kapal FFC.
Bagi para aktivis, setiap layar yang dikembangkan adalah simbol perlawanan damai. Meski kapal-kapal itu bisa saja dicegat atau dirampas, pesan utamanya tetap tersampaikan: Gaza tidak dilupakan.
Sumud: Keteguhan di Tengah Kepungan
Nama Global Sumud Flotilla sendiri merujuk pada konsep “sumud”, istilah Arab yang berarti keteguhan, bertahan dalam kondisi terburuk. Dalam konteks Palestina, sumud menjadi simbol bertahan hidup di bawah penjajahan dan blokade.
Dari Mediterania, suara ini bergema ke seluruh dunia. Kesembilan kapal baru yang kini berlayar bukan sekadar kendaraan laut; mereka adalah deklarasi kolektif dari masyarakat sipil internasional bahwa keadilan dan kebebasan bukan monopoli satu bangsa.
Apakah armada ini akan berhasil mencapai Gaza masih menjadi tanda tanya. Namun sejarah membuktikan: setiap kali Freedom Flotilla berlayar, dunia kembali dipaksa melihat Gaza, mengingat ribuan nyawa yang terkepung, dan mendengar jeritan yang tak bisa dibungkam.


