Daerah  

Apakah Negara Berkembang Harus Bergantung pada Energi Fosil?


Perjalanan Menuju Energi Berkelanjutan

Negara-negara maju telah membangun kemakmuran mereka melalui penggunaan batu bara, minyak, dan gas. Kini, negara berkembang dihadapkan pada pilihan yang kompleks: apakah mengikuti jalur yang sama atau berpindah ke model pembangunan yang lebih ramah lingkungan? Pertanyaan ini menjadi sangat relevan bagi negara-negara seperti Mozambik yang sedang mencari jalan keluar dari kemiskinan.

Mozambik berada di persimpangan antara dua masa depan yang berbeda. Di bagian utaranya, proyek gas lepas pantai bernilai miliaran dolar menawarkan peluang pendapatan baru bagi sebuah negara yang masih berjuang melawan kemiskinan. Namun, sementara itu, negara ini juga memiliki potensi besar dalam energi terbarukan seperti tenaga air, surya, dan angin, yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Philipp Trotter, profesor manajemen keberlanjutan di Universitas Wuppertal, Jerman, menyebut situasi Mozambik sebagai contoh yang menarik. “Ini adalah kasus yang unik karena belum ada investasi besar-besaran yang sudah dilakukan. Masih ada kesempatan untuk memilih arah yang berbeda,” ujarnya.

Dilema Pembangunan Ekonomi

Dengan tekanan global untuk menjauhi bahan bakar fosil, negara-negara miskin dan berkembang kini menghadapi dilema serius. Apakah mereka sebaiknya memilih pertumbuhan ekonomi cepat dengan biaya rendah menggunakan bahan bakar fosil, atau beralih ke ekonomi yang lebih ramah lingkungan meskipun prosesnya lambat?

Secara historis, negara-negara industri telah membangun kekayaannya dengan membakar bahan bakar fosil, menghasilkan emisi yang tidak proporsional terhadap jumlah populasi mereka. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Tiongkok merupakan tiga negara dengan kontribusi terbesar terhadap emisi global.

Beberapa pemimpin energi di Afrika dan Asia berargumen bahwa tidak adil jika negara berkembang dilarang menempuh jalur yang sama. Namun, para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa planet ini tidak lagi memiliki ruang karbon yang cukup jika semua negara mengikuti jalur tersebut.

Keuntungan Bahan Bakar Fosil?

Dari sudut pandang moral, tampak masuk akal jika hanya negara termiskin yang boleh menggunakan bahan bakar fosil. Namun, argumen ini sering kali mengabaikan aspek ekonomi. Penelitian tentang jalur mana yang lebih menguntungkan bagi negara-negara seperti Mozambik, Senegal, atau Mauritania masih terbatas. Hal ini membuat sulit untuk memprediksi apakah proyek gas Mozambik akan tetap kompetitif di pasar dunia nanti.

Selain itu, banyak negara besar menargetkan pengurangan emisi secara drastis pada 2050, sehingga permintaan terhadap gas, batu bara, dan minyak bisa mencapai puncaknya dalam beberapa tahun ke depan. Investasi besar-besaran dalam bahan bakar fosil bisa berisiko tinggi.

Kenya: Contoh Sukses Energi Terbarukan

Di atas kertas, ekonomi energi terbarukan sedang bergeser. Lebih dari 90% proyek pembangkit listrik bersih baru di dunia menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Namun, biaya operasional yang rendah tidak selalu mencerminkan keseluruhan gambaran.

Membangun sistem hijau tetap memerlukan investasi awal yang besar, termasuk ladang angin, taman surya, jaringan listrik, penyimpanan energi, dan kapasitas cadangan. Biaya-biaya ini sering kali sulit ditanggung oleh negara berkembang.

Salah satu contoh sukses adalah Kenya, yang menghasilkan hampir 90% listriknya dari energi terbarukan, terutama panas bumi, tenaga air, dan angin. Kenya juga menargetkan 100% energi terbarukan dengan akses listrik universal pada 2030.

Model yang Sulit Ditiru

Meski model Kenya berhasil, bukan berarti semua negara bisa mengikuti cara yang sama. Negara seperti Mozambik atau Senegal memiliki tantangan ekonomi yang berbeda, termasuk utang tinggi dan peringkat kredit yang lebih rendah. Ini membuat mereka lebih sulit menarik pinjaman yang terjangkau.

Pendekatan Berbeda untuk Negara yang Berbeda

Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua dalam transisi energi. Jalur yang dapat ditempuh suatu negara bergantung pada beberapa faktor, seperti seberapa terintegrasi bahan bakar fosil dalam perekonomian, apakah bahan bakar tersebut digunakan di dalam negeri atau diekspor, serta seberapa terdiversifikasi perekonomian secara keseluruhan.

Contohnya, Etiopia melakukan elektrifikasi melalui tenaga air murah berkat sumber daya sungainya, sementara India bergantung pada batu bara untuk sebagian besar listriknya dan mempekerjakan jutaan orang di rantai pasok ini.

Bantuan dari Negara Maju

Negara berkembang menghadapi realitas yang sangat berbeda, namun ada beberapa cara jelas bagi negara-negara kaya untuk membantu mereka mempercepat peralihan ke energi terbarukan. Salah satunya adalah mengatasi salah satu hambatan terbesar: biaya awal yang tinggi.

Negara maju dan penghasil emisi tinggi perlu terus menekan pedal gas karena penerapan teknologi baru oleh mereka yang menurunkan biaya melalui kurva pembelajaran bagi negara-negara miskin. Selain itu, negara-negara miskin juga membutuhkan pembiayaan iklim publik yang lebih besar untuk membuka investasi swasta.

Target Pembiayaan Iklim

Pada perundingan iklim PBB tahun 2024, pemerintah menyepakati target pembiayaan iklim baru sebesar setidaknya US$300 miliar (sekitar Rp 5 kuadriliun) per tahun hingga 2035. Angka ini menurut banyak negara berkembang masih jauh dari cukup.

Bagi Mozambik, kekurangan dana ini bisa menjadi penentu. Rig gas menjanjikan satu masa depan, sementara matahari dan angin menunjukkan masa depan yang lain. Jalur mana yang akhirnya dipilih negara ini mungkin bergantung pada apakah negara-negara kaya bersedia berinvestasi dalam masa depan yang lebih bersih.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *