Keprihatinan atas Tragedi Bangunan Musala yang Runtuh
Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq, menyampaikan rasa prihatin dan duka mendalam terhadap tragedi yang terjadi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Tragedi tersebut melibatkan runtuhnya bangunan musala yang menelan korban jiwa.
Ia mengajak semua pihak untuk segera melakukan upaya penyelamatan terhadap seluruh korban dan memberikan pendampingan, termasuk bagi orang tua yang kehilangan anak akibat peristiwa ini. Maman juga berharap agar Allah memberikan ketabahan dan kesabaran bagi keluarga korban serta civitas pesantren. Ia juga memohon agar Allah mengampuni yang wafat dan memberi kesembuhan bagi yang terluka.
Tanggung Jawab Bersama dalam Pembangunan
Maman menekankan bahwa ambruknya bangunan bukan hanya tanggung jawab pengelola pesantren, tetapi juga pemerintah pusat dan daerah. Ia menyarankan Kementerian Agama untuk mendata pesantren yang membutuhkan tambahan infrastruktur. Jika kapasitas sudah berlebih, pemerintah harus memfasilitasi pembangunan.
Selain itu, Maman meminta Pemda untuk mendampingi setiap pembangunan di pesantren agar sesuai dengan standar keamanan. Banyak pesantren yang membangun secara swadaya tanpa memperhatikan kualitas teknis, sehingga rawan membahayakan santri.
Pembangunan di pesantren, menurut Maman, adalah tanggung jawab bersama: pengasuh, pemerintah, dan masyarakat. Karena pesantren memiliki kontribusi besar bagi bangsa, dengan melahirkan sumber daya manusia unggul yang kuat dari segi agama maupun keilmuan.
Peristiwa Nahas Saat Proses Pengecoran
Tragedi di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo terjadi saat proses pengecoran lantai empat tengah berlangsung. Saat salat Ashar berjamaah, tiang pondasi diduga tidak mampu menahan beban, hingga bangunan roboh ke lantai dasar.
Berdasarkan data sementara, 107 orang berhasil dievakuasi dengan lima di antaranya meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih diduga tertimbun reruntuhan.
Perhatian Lebih Terhadap Pemulihan Korban
Lebih lanjut, Maman juga meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pemulihan korban beserta keluarganya. Ia menilai bantuan trauma healing akan sangat membantu korban dalam fase pemulihan pasca-peristiwa, termasuk bagi orang tua yang kehilangan anak.
Dengan adanya dukungan yang cukup, diharapkan korban dapat segera pulih dan kembali menjalani kehidupan normal. Selain itu, perlunya adanya evaluasi menyeluruh terhadap keamanan bangunan di pesantren sebagai langkah pencegahan untuk menghindari kejadian serupa di masa depan.
