Daerah  

Abu Anak Krakatau guyur Jakarta 10 tips mengatasi dari warga Yogya yang khatam hadapi abu Merapi


Ringkasan Berita:

  • Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dilaporkan mulai mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya
  • Seorang warga Yogyakarta bernama Benny membagikan sepuluh tips mitigasi berdasarkan pengalaman menghadapi Gunung Merapi
  • Masyarakat diimbau tidak menyiram abu dengan ember karena dapat mengeras seperti semen

 

– Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mengguyur sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika membersihkan abu yang menempel di rumah, kendaraan, kaca hingga pakaian.

Pasalnya, abu vulkanik tidak bisa diperlakukan begitu saja seperti debu jalanan.

Hal tersebut turut menjadi perhatian seorang warga Yogyakarta yang membagikan tips mitigasi abu vulkanik melalui Threads. Ia mengaku sudah beberapa kali berurusan dengan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Merapi.

“Just sharing tips mitigasi abu vulkanik, belajar dari kami orang Jogja yang udah beberapa kali berurusan sama abu vulkanik,” tulis pria bernama Benny melalui utas yang ia unggah di akun Threads @callme_masben.

Dipantau Tribun Style pada Minggu (6/9/2026), utas yang dibuat @callme_masben tersebut sudah viral hingga dibagikan 17 ribu kali.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami karakter abu vulkanik sebelum mulai membersihkannya.

“Material abu vulkanik itu mengandung silika, unsur yang sama untuk pembuatan kaca dan semen. Perlakuannya beda dengan ketika kita berurusan dengan debu jalanan,” lanjutnya.

Berikut 10 tips yang dibagikannya:

1. Jangan buru-buru menyiram halaman

Jika halaman rumah dipenuhi abu, jangan langsung menyiramnya dengan air menggunakan ember.

Warga tersebut menyarankan masyarakat menunggu sampai hujan abu benar-benar selesai sebelum melakukan pembersihan.

“Kalo mau bersihkan halaman rumah, tunggu hujan abu beneran kelar. Bersihkan dengan cara disemprot/disapu pelan,” tulisnya.

Ia mengingatkan, penggunaan air secara sembarangan justru dapat membuat abu mengendap dan mengeras.

“Kalo disiram doang pakai air ember, sama artinya bikin lapisan semen di halaman rumah,” sambungnya.

2. Jangan asal mengelap kaca

Kacamata, jendela maupun kaca mobil juga membutuhkan perlakuan berbeda.

Warga tersebut menyarankan permukaan yang terkena abu terlebih dahulu disiram menggunakan air atau langsung dicuci.

“Kalo mau bersihkan kacamata, jendela, atau kaca mobil, siram dulu pakai air/cuci langsung. jangan cuma dilap pake kain,” tulisnya.

Menurut pengalaman yang dibagikannya, mengelap kaca yang masih dipenuhi abu dapat menyebabkan goresan.

“Kalo cuma dilap, silika yang tajam bisa menggores kaca,” lanjutnya.

3. Gunakan masker dan lindungi mata

Saat abu vulkanik masih beterbangan, penggunaan masker menjadi salah satu perlindungan penting.

Warga tersebut menyarankan penggunaan masker jenis KN dan tidak hanya mengandalkan masker bedah.

“Kalo pake masker, sebisa mungkin masker KN seperti jaman covid. bukan cuma masker bedah ijo,” tulisnya.

Ia juga menyarankan penggunaan pelindung mata.

“Sebisa mungkin malah pake kacamata safety,” lanjutnya.

Untuk urusan perlindungan kesehatan, epidemiolog dan ahli kesehatan lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk melindungi saluran pernapasan dari paparan abu vulkanik. Ia menyarankan penggunaan masker N95 serta kacamata pelindung.

4. Mata kelilipan abu jangan dikucek

Jika abu masuk ke mata dan menimbulkan rasa perih atau seperti kelilipan, jangan langsung menguceknya.

Warga tersebut menyarankan mata dibersihkan menggunakan air mengalir.

“Kalo mata kelilipan, jangan langsung dikucek, tapi bersihkan pake air mengalir dan keringkan,” tulisnya.

Ia mengingatkan bahwa mengucek mata justru dapat membuat iritasi semakin parah.

“Kalo dikucek jadinya makin iritasi / pedes,” sambungnya.

Dicky Budiman juga memberikan saran serupa. Menurutnya, bagian tubuh yang terkena paparan abu sebaiknya segera dibilas dengan air bersih dan tidak digosok.

5. Mobil dan motor jangan cuma dilap

Abu yang menempel di kendaraan juga sebaiknya tidak langsung dihilangkan menggunakan kain.

Cara yang disarankan warga tersebut adalah mencuci kendaraan.

“Kalo untuk mobil / motor, cara bersihkannya ya dicuci. bukan cuma dilap. biar debunya nggak menggores body,” tulisnya.

Ia juga mengingatkan agar kendaraan tidak terlalu lama dibiarkan dalam kondisi penuh abu.

“Lalu jangan menunda nyuci, karena abu vulkanik sifatnya cenderung asam, bisa menimbulkan karat di logam,” lanjutnya.

6. Tutup celah ventilasi rumah

Abu vulkanik juga dapat masuk ke dalam rumah melalui berbagai celah.

Karena itu, warga tersebut menyarankan masyarakat melakukan kerja bakti untuk menutup ventilasi yang memungkinkan abu masuk.

“Silakan kerja bakti menutup ventilasi rumah dengan kertas, misalnya kertas koran,” tulisnya.

Ia menyarankan masyarakat meminimalkan celah yang dapat menjadi jalan masuk abu.

“Minimalisir lubang angin yang memungkinkan abu vulkanik masuk rumah lewat celah celah tersebut,” lanjutnya.

Menurut pengalaman yang dibagikannya, membersihkan rumah setelah abu telanjur masuk bukan pekerjaan mudah.

“Masalahnya kalo abu udah terlanjur masuk rumah, butuh seminggu buat membersihkan total,” tulisnya.

7. Jangan merasa kuat tanpa masker

Warga tersebut juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan abu vulkanik ketika berada di luar rumah.

“Ngga usah sok jagoan bisa bebas bernafas tanpa masker ketika di tengah guyuran abu vulkanik,” tulisnya.

Ia menggambarkan partikel abu yang masuk ke saluran pernapasan seperti serpihan benda tajam.

“Itu material abu masuk sistem pernapasan bisa bikin iritasi dan ISPA. Bayangin aja ada serpihan beling masuk ke tenggorokan,” lanjutnya.

“Pake masker itu wajib sekalipun rasanya sumpek!” tegasnya.

Untuk masyarakat yang berada di wilayah dengan paparan abu, perlindungan pernapasan memang menjadi salah satu langkah yang perlu diperhatikan.

8. Hati-hati berkendara karena jalan bisa licin

Bukan hanya masalah kesehatan, abu vulkanik juga dapat mengganggu aktivitas di jalan.

Warga tersebut mengingatkan agar pengendara lebih berhati-hati karena abu yang menutupi jalan dapat membuat permukaan menjadi licin.

“Jalanan kena debu vulkanik itu jadinya licin,” tulisnya.

Ia juga menyarankan pengendara mengurangi kecepatan.

“kecepatan maksimal 40kph. Lebih dari itu akan kepleset,” lanjutnya.

Bagi pengendara motor, ia menyarankan menggunakan jas hujan agar pakaian tidak langsung terkena abu.

“Kalo motoran, pakailah mantol / jas hujan single saat berkendara,” tulisnya.

9. Pertimbangkan penggunaan AC

Masyarakat yang berada di dalam rumah juga perlu memperhatikan penggunaan pendingin ruangan ketika udara di luar dipenuhi abu.

Menurut warga tersebut, penggunaan AC dapat membuat kinerja perangkat menjadi lebih berat ketika harus menyaring udara yang kotor.

“Penggunaan AC ya paling efeknya ke kinerja AC yang makin berat untuk memfilter udara kotor. Maka pertimbangkanlah penggunaannya,” tulisnya.

Masyarakat dapat mempertimbangkan kondisi udara dan sirkulasi rumah sebelum menggunakan AC.

10. Jika ada bayi, jaga kamar tetap steril

Tips terakhir ditujukan bagi keluarga yang memiliki bayi atau anak kecil di rumah.

Warga tersebut menyarankan keluarga dengan bayi, bila memungkinkan, untuk sementara berada di lokasi dengan udara yang lebih bersih.

“Kalo ada bayi di dalam rumah, idealnya kalian geser dulu ke kota lain yang udaranya masih bersih,” tulisnya.

Namun jika harus tetap berada di rumah, ia menyarankan agar kamar bayi dijaga agar tidak kemasukan abu.

“Tapi kalo terpaksa stay, pastikan kamar steril. Jangan biarkan satu debu vulkanik masuk,” tulisnya.

Ia menggambarkan pentingnya mencegah abu masuk sejak awal.

“Sekali ada yang masuk, dia ngajak teman⊃2;nya,” tulisnya.

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa

Pengalaman warga Yogyakarta tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat yang baru menghadapi hujan abu perlu memperlakukan material vulkanik secara berbeda dari debu sehari-hari.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga perlu memperhatikan perlindungan mata dan saluran pernapasan.

Dicky Budiman sebelumnya mengingatkan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa karena mengandung silika dan dapat mengganggu mata maupun saluran pernapasan.

Ia juga menyarankan masyarakat menutup pintu dan jendela rapat ketika abu mulai terasa serta mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Dengan sebaran abu Anak Krakatau yang telah menjangkau sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, masyarakat dapat menggunakan pengalaman warga di daerah yang sudah berulang kali menghadapi erupsi sebagai referensi praktis.

Namun, untuk kondisi darurat dan kesehatan, masyarakat tetap perlu mengutamakan informasi serta imbauan resmi dari pemerintah dan otoritas terkait. (Tribun Style)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *